Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 23 Jan 2022 16:00 WIB ·

Inilah Hukum Transplantasi Organ Babi pada Manusia Dalam Islam


					Inilah Hukum Transplantasi Organ Babi pada Manusia Dalam Islam Perbesar

Jalanhijrah.com-Saat ini sedang ramai perbincangan yang menggemparkan dunia kesehatan, yaitu transplantasi (pencangkokkan) jantung babi pada tubuh manusia. Operasi ini terjadi pertama kalinya di Amerika Serikat (7/1/2022) pada pasien bernama David Bennet (57 tahun).

Keberhasilan operasi ini dianggap sebagai perkembangan baru dalam dunia medis.Namun, operasi ini menimbulkan kontroversi di berbagai pihak. Lantas, bagaimana hukum transplantasi organ babi pada manusia dalam islam?

Menurut wakil MUI (Majelis Umum Indonesia) Anwar Abbas berpandangan bahwa trasnplantassi organ babi pada manusia diperbolehkan asal tidak ada cara lain yang ditempuh.

“Kalau tidak ada lagi jalan lain yang dapat ditempuh untuk menyelamatkan nyawa orang yang bersangkutan selain melakukan hal tersebut, maka hukumnya boleh” jelas Anwar saat ditanya mengenai cangkok ginjal babi pada bulan november lalu.

Hal ini selaras dengan pandangan Buya Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah yang membolehkan transplantasi organ babi pada manusia karena dalam keadaan darurat.

“Dalam kasus pengobatan, jika memang sudah tidak ada lagi sesuatu yang suci, maka ya bisa saja dan tidak ada masalah. Apalagi kasusnya, ini adalah orang yang sedang darurat. Jika memang betul menurut ilmu, ahli, pakar, dokter, bahwa jantung babi ini bermanfaat untuk dicangkokkan pada jantung manusia, maka tidak perlu diperdebatkan” Ujar Buya Yahya dalam ceramahnya mengenai cangkok jantung babi pada manusia.

Namun, Professor fiqih pada Universitas Al Azhar, Syekh Attiyah Lashin mengatakan bahwa memindahkan organ babi pada tubuh manusia haram hukumnya.

Baca Juga  Keutamaan Mencintai Nabi Muhammad

Sementara itu, menurut fatwa Al-Azhar cangkok jantung babi atau organ lainnya pada tubuh manusia menjadi boleh dalam keadaan darurat.

“Aspek kedaruratan ini terpenuhi jika tidak ada cara yang halal dan tersedia selain organ babi “ dilansir dari elbalad.

Demikianlah hukum transplantasi organ babi pada manusia dalam islam, semoga kita semua senantiasa berada dalam perlindungan Allah SWT.

Artikel ini telah dibaca 12 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian