Jalanhijrah.com-Kehidupan seorang hamba tak dapat dipisahkan dari masa sulit, beban, kesedihan dan penderitaan. Biasanya saat dihadapkan dengan fase sulit, kita akan banyak mengeluh dan kurang bersabar dalam menghadapinya.Namun, siapa sangka kesulitan ialah karunia Allah yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Allah SWT telah menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Begitupula, dalam kehidupan seorang hamba saat ditimpa kesulitan akan ada fase puncak kejayaan menantinya. Asalkan hamba tersebut bersabar, berlapang hati dan tetap berusaha. Tak berbeda dengan Nabi Muhammad SAW yang mengalami perundungan saat berdakwah. Lalu, Allah menurunkan surah Al-insyirah untuk menghibur Nabi dan meneguhkan hatinya saat berdakwah di Makkah.

Dalam kitab Khazinatul Asror, Syekh Muhammad Haqqi An-Nazili mengatakan ada beberapa keutamaan membaca surah Al-Insyirah setelah salat fardhu. Di antaranya, memudahkan segala urusan, menghilangkan kesedihan, mendatangkan rezeki dari jalan yang tidak diduga dan menumbuhkan semangat optimisme dalam bekerja dan berusaha. Hal ini tentunya telah terkandung dalam makna surah tersebut.

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ(1)  وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ(2) ٱلَّذِىٓ أَنقَضَ ظَهْرَكَ (3) وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (4) فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا (6) فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ (7) وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب (8)

Artinya: Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)? [1] dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, [2] yang memberatkan punggungmu, [3]dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu. [4] Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, [5] sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. [6] Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), [7] dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap [8].

Baca Juga  Masih Wajibkah Sholat Bagi Penderita Pikun atau Demensia?

Surat Al-Insyirah merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang kesusahan untuk tetap optimis. Surat ini diturunkan sebagai penghibur Nabi Muhammad SAW kala mendapat hujatan, hinaan dari orang kafir Quraisy. Dalam tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, pada saat itu Nabi Muhammad sedang memikul beban yang sangat berat. Pertama, wafatnya sayyidah Khadijah dan Abu Thalib. Kedua, ia tengah memikul beban berat wahyu yang diterimanya. Ketiga, pertentangan keras dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy atas dakwah Nabi. Lalu Allah melapangkan hatinya dengan sifat-sifat kenabian sesuai dengan ayat 1 dan 2 surat Al-Insyirah. Di ayat ketiga kesulitan Nabi SAW diangkat oleh Allah selama menjalankan tugas kerasulan dan menggantinya dengan kenikmatan. Allah juga meninggikan Nabi Muhammad dengan asmaNya. Ayat selanjutnya, Allah menegaskan kemudahan selalu bersama dengan kesulitan sejalan dengan peristiwa dan tantangan yang dihadapi Nabi. Setelah itu, setelah salat dianjurkan untuk meminta pertolongan dan berdoa agar semata-mata mengharapkan ridha Allah.

Al-Insyirah selain menjadi salah satu surat yang berisi tentang kelapangan hati seseorang ketika mendapatkan musibah juga merupakan pengingat kepada kita untuk tidak bermalas-malasan terutama dalam menjalankan ibadah salat. Selain itu, manusia juga tetap harus berusaha dan berdoa atas apa yang tengah dihadapinya. Sebab, potensi manusia terbatas dan pertolongan Allah lebih besar dari kemampuan yang kita miliki.

Oleh Marisa Rahmashifa, pegiat literasi berdomisili Malang. Mengenyam pendidikan strata 1 di UIN Malang jurusan Sastra Inggris. 

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *