Jalanhijrah.com-Salah satu aktivitas kehidupan manusia adalah hutang piutang. Dalam memenuhi hajat hidupnya, tidak sedikit manusia yang melakukan akad hutang piutang. Namun demikian, dalam Islam orang yang berhutang wajib hukumnya untuk membayarnya. Lantas jika yang berhutang lupa jumlah nominalnya, dan yang memberi hutang juga sama-sama lupa, terus bagaimana solusinya?

Secara fikih, Islam sangat menganjurkan apabila melakukan akad hutang piutang untuk mencatatnya dengan baik.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِۖ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu mencatatnya. Hendaklah seorang pencatat di antara kamu menuliskannya dengan benar.” (Al-Baqarah: 282)

Perlu diketahui, bahwa hutang itu harus dibayar. Apabila seseorang sengaja tidak membayar hutangnya di dunia, maka ia akan ditagih di akhirat dan membayarnya dengan pahala yang dimiliki.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِيَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

Artinya: “Barangsiapa meninggal sementara ia mempunyai tanggungan hutang satu dinar atau satu dirham, maka akan diganti dari pahala kebaikannya pada hari yang dinar dan dirham tidak berguna lagi.”

Dan apabila ada seseorang lupa jumlah hutang yang harus dibayar, maka solusi dalam Islam adalah ia diharuskan membayarkan hutang sesuai dengan keyakinan hati nuraninya.

Baca Juga  Kolaborasi Teroris Lokal-Internasional: Bukti Ancaman Untuk Indonesia

من كان عليه دين، وشك في قدره، لزمه إخراج القدر المتيقن، ويبقى الورع والاحتياط بإخراج الأكثر

Artinya: “Barang siapa yang memiliki tanggungan hutang dan ia ragu kadar tanggungannya maka wajib baginya untuk membayar kadar tanggungan yang diyakininya. Sikap wara’ dan kehati-hatian menetapkan untuk membayar dengan lebih banyak.” (Muhammad Musthafa Az-Zuhaili, Al-Qawaid Al-Fiqhiyah wa Tathbiquha fil Madzahibil Arba’ah, [Damaskus, Darul Fikr: 1427 H] juz I, halaman 187).

Nabi Muhammad dalam hadisnya menjelaskan jadilah engkau orang yang paling baik dengan membayar hutangnya dengan baik sesuai akad perjanjianya:

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

Artinya: “Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah siapa yang paling baik dalam membayar hutang”. (HR Al-Bukhari). Wallahu a’lam bisshawab.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *