Beranda / Perempuan / Ida I Dewa Agung Istri Kanya : Pahlawan, Sastrawan dan Tokoh Feminisme dari Bali

Ida I Dewa Agung Istri Kanya : Pahlawan, Sastrawan dan Tokoh Feminisme dari Bali

Ida I Dewa Agung Istri Kanya : Pahlawan, Sastrawan dan Tokoh Feminisme dari Bali

Jalanhijrah.com-Bulan Agustus menjadi momentum untuk kembali mengenang bagaimana perjuangan para pendahulu kita untuk memerdekakan bangsa Indonesia. Kemerdekaan bangsa Indonesia tentu tak luput dari perjuangan-perjuangan para pahlawan di setiap wilayah dan daerah. Saat ini kita banyak mengetahui bahwa pahlawan yang memperjuangkan Indonesia tidak hanya dari laki-laki saja, tetapi banyak juga dari perempuan. Tetapi, kisah tersebut masih kurang diangkat.

Tercatat ada 191 orang yang menjadi pahlawan nasional Indonesia sampai tahun 2020. Namun hanya 17  diantaranya yang perempuan, atau sekitar 9 persen.  Bali sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang juga tentu memiliki tokoh perempuan pejuang kemerdekaan, salah satunya adalah Ida I Dewa Agung Istri Kanya.

Ida I Dewa Agung Istri Kanya

Ida I Dewa Agung Istri Kanya atau sering juga disebut Anak Agung Istri Kanya adalah salah satu keturunan dari Raja Sri Kresna Kepakisan yang merupakan raja Samprangan. Pada waktu masih kecil Ida Ida I Dewa Agung Istri Kanya bernama Ida I Dewa Istri Muter. Semenjak diangkat sebagai Raja secara resmi, nama Ida I Dewa Agung Istri Kanya secara resmi dipergunakan sebagai nama kebesaran. Ida I Dewa Agung Istri Kanya adalah raja Klungkung ke VIII. Posisi tertinggi itu beliau duduki saat beliau masih muda. Beliau adalah sosok raja yang sangat pemberani dan tegas.

Saat pemerintahan beliau, kerajaan Klungkung mengalami intervensi dari pihak Belanda. Pada saat itu, belum ada perempuan yang berani berperang. Namun, berbeda dengan Ida I Dewa Agung Istri Kanya. Beliau menjadi pemimpin perang melawan belanda. Akhirnya kerajaan Klungkung pun mengalahkan Belanda.

Belanda memberi julukan kepadanya sebagai “wanita besi”. Hal itu karena beliau berhasil menewaskan Mayor Jenderal A.V. Michiel, seorang perwira militer Belanda yang berhasil memadamkan dua perang besar yakni perang Diponegoro dan perang Padri. Terbunuhnya Mayor Jenderal A.V. Michiel membuat pasukan Belanda mundur dan menjadi kemenangan bagi Kerajaan Klungkung.

Dengan adanya keterlibatan Ida I Dewa Agung Istri Kanya dalam Perang Kusamba telah menghapus semua anggapan yang ada selama ini. Ini membuktikan bahwa dalam Sejarah Bali tidak hanya melibatkan peranan seorang laki-laki dalam berperang, melainkan ada pula peran perempuan.

Raja dan Sastrawan Perempuan

Perang antara kerajaan Klungkung yang dipimpin oleh Anak Agung Istri Kanya dengan Belanda bernama perang Kusamba. Perang ini menunjukkan bahwa sosok Dewa Agung Istri Kanya berhasil menjadi pemimpin perang sekaligus perancang strategi. Selain itu, perang Kusamba ini juga menunjukkan bahwa perang ini persiapan perang ini sudah sangat matang tentu dengan strategi dan sikap patroitisme pejuang-pejuang lainnya.

Ia bukan hanya sosok raja yang tegas dan pemberani. Beliau juga merupakan sosok yang berpengaruh terhadap budaya seni sastra. Banyak karya sastra yang beliau lahirkan. Karya sastra yang beliau ciptakan dan terkenal ialah berupa kidung adalah Pralambang Bhasa Wewatekan dan Kidung Padem Warak, mengisahkan peristiwa-peristiwa penting, seperti gugurnya ayahanda hingga upacara besar mengantar roh leluhur ke alam suci.

Selain itu ia melahirkan beberapa tembang wirama, antara lain: Wirat Jagatnatha, Sragdhara, Sarddhula, Bhasanta, Asualalita, Merddhu Komala, Pratitala dan Sronca, Wairat, Cikarini, Reng Lalita, Tebusol. Hasil karya sastra beliau tentu memberikan dampak dan kebermanfaatan bagi generasi kini dan mendatang.

Meneladani Sosok Ida I Dewa Agung Istri Kanya

Menjadi perempuan adalah sebuah anugerah terindah. Pada kenyataannya, perempuan mampu menjadi apapun dan dapat menjalani profesi apapun. Perempuan mampu aktif juga di ruang publik. Sosok Ida I Dewa Agung Istri Kanya menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi pemimpin sebuah kerajaan bahkan merangkap sekaligus sebagai pemimpin perang dan pengatur strategi perang. Prasangka mengenai bahwa laki-laki lebih rasional dan perempuan lebih emosional, terbantahkan sudah.

Perjuangan dan pengorbanan yang telah Ida I Dewa Agung Istri Kanya lakukan hendaknya menjadi refleksi kita bersama sebagai generasi muda Indonesia, dan Bali khusunya. Kisah sejarahnya ini bisa dijadikan tauladan yang baik untuk perempuan Indonesia dan khususnya Bali untuk menjaga semangat menggapai impian yang tinggi dan tidak mudah menyerah.

Oleh karena itu, kita sebagai perempuan muda tidak ada lagi kata tidak bisa, malas dan mudah menyerah dalam hal apapun. Kita juga sebagai perempuan muda tidak boleh malas dalam belajar dan mengupgrade diri. Sebagai perempuan kita harus mampu mengoptimalisasikan diri kita untuk berkarya dan berdaya sesuai dengan kemampuan kita.

Ikrima Maulida

Tag: