Beranda / Milenial / Ibnu al-Jauzi, Ilmu Lebih Manis dari Madu

Ibnu al-Jauzi, Ilmu Lebih Manis dari Madu

Jalanhijrah.com- Namanya Jamaluddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Ubaidillah bin Abdulllah. Nasabnya bersambung hingga ke Abu Bakar ash-Shiddiq. Lahir sekitar 508 atau 510 H di distrik Darb Habib di Bagdad. Beliau lebih dikenal dengan nama Ibnu al-Jauzi. Penisbatan “Al-Jauzi” diberikan kepadanya dan keluarganya mulai dari kakeknya. Ini diberikan karena hanya di rumahnya yang memiliki pohon pala (bahasa Arab: Al-Jauzah) di Wasith.

Ibnu al-Jauzi merupakan anak yatim piatu. Ayahnya wafat ketika ia masih berusia 3 tahun. Pengasuhannya kemudian diambil alih oleh bibinya yang dikenal sebagai wanita salihah. Dalam pengasuhan bibinya, Ibnul Jauzi hidup di lingkungan yang baik dan selalu menjaga kehormatan diri. Beliau diberikan pendidikan sejak usia dini. Ibnu al-Jauzi dibawa untuk belajar ilmu hadis kepada para syekh. Gurunya bernama Muhammad bin Nashir.

Teman terdekatnya adalah buku. Kemana pun beliau pergi selalu membawa buku. Memang benar apa yang dikatakan para ulama,

خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ

“Sebaik-baik teman di setiap waktu adalah buku.”

Beliau banyak membaca dan menulis buku karena cintanya terhadap ilmu. Ketika berusia 13 tahun beliau sudah bisa mengarang buku yang sangat bagus. Hingga di usia tua beliau pernah berkata kepada cucunya, “Dengan jariku ini, aku menulis 2.000 jilid buku, 100.000 orang bertaubat, dan ada 20.000 orang yang masuk Islam dengan sebab dakwahku.” Masya Allah tabarakallah.

Sejak kecil beliau selalu memanfaatkan waktu dengan baik. Permainan yang asik menurut beliau adalah bermain bersama buku. Oleh karena itu, setiap kali ada temannya bermain ke rumahnya, sambil berbincang tangan beliau selalu sibuk dengan hal yang berkaitan dengan alat tulis. Mungkin beliau sedang meruncingkan pena, memotong kertas, menata lembaran dan lain-lain. Riau sangat menikmati kebersamaan bersama buku-buku.

Ibnu al-Jauzi pernah bercerita saat mencari ilmu di usia kecil. “Aku merasakan nikmatnya mencari ilmu, hingga penderitaan di jalan ilmu bagiku lebih manis dari madu karena besarnya harapanku untuk mendapatkan ilmu. Waktu kecil aku membawa bekal roti kering untuk mencari hadis. Saat istirahat di pinggir sungai, aku tidak bisa makan roti itu saking kerasnya. Satu-satunya cara, aku celupkan roti itu ke sungai, baru aku bisa memakannya. Sekali menelan, aku ikuti dengan meminum air sungai. Kesusahan itu tidak terasa, karena yang ada di benakku hanyalah kelezatan saat mendapatkan ilmu.”

Ibnu al-Jauzi mengungkapkan, “Aku merasakan nikmatnya menuntut ilmu hingga rintangan berat yang kualami terasa lebih manis dari madu.”

Ibnu al-Jauzi menjadi ulama yang terkemuka khususnya pada ilmu hadis sehingga ia dijuluki al-Hafizh. Beliau pernah berguru pada sekitar 87 orang, antara lain Ad-Daynuri, Al-Bari’, Al-Mutawakkili, Al-Zaghawani, Al-Mawardi, serta Ibnu al-Samarkandy.

Beliau seorang ahli dalam bidang tafsir, hadis, sejarah, dan fikih. Kata-katanya sangat kuat dan dalam maknanya. Beliau juga menulis kitab dalam bidang kedokteran sebanyak dua jilid. Beliau pun orang yang sangat menjaga kesehatan dan kekuatan akalnya.

Ibnu al-Jauzi meninggal pada 597 H menjelang usia 90 tahun dan dimakamkan di pemakaman Bab Harb.

Kitab-kitabnya antara lain Nawaasikhul Quraan, Zaadul Masirfii ‘Ilmit Tafsir, Dzammul Hawa, Talqih Fuhum Ahlil Atsar, Shifatus Shofwah, Shaidul Khathir, Al–Qushshashwalmudzakkirun, Al–Mishbahul Mudhi’, Al-Muntazham fii Taariikhil Muluk wal Umam, Al-Maudhuu’aat, Al-‘Ilallul Mutanaahiyah fill Aahaadits al-Wahiyah dan Nuzhatul A’yunan-Nawazhir fii Ilmil Wujuh wan Nazha-ir

Penulis

 

Tag: