Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 1 Jan 2022 12:00 WIB ·

Hukum Melihat Foto Lawan Jenis, Dosakah?


					Hukum Melihat Foto Lawan Jenis, Dosakah? Perbesar

Jalanhijrah.com – Di zaman yang serba canggih ini, pergeseran kehidupan terus berlanjut. Sekarang ini banyak orang-orang yang berpenampilan menarik untuk kemudian di poto dan diunggah media sosial. Kebiasaan-kebiasaan ini tentu di ada pada zaman dahulu ketika teknologi belum seheboh ini. Ketika orang banyak menampilkan poto di media sosial dan dilihat oleh pengikutnya. Apakah orang yang melihat poto tersebut dari kalangan lawan jenis berdosa. Dan berikut Hukum melihat poto lawan jenis dalam Islam.?

Selama ini banyak berkembang paham di masyarakat bahwa melihat poto lawan jenis merupakan larangan dalam Islam. Seorang laki-laki dilarang melihat poto seorang perempuan dan begitupun sebaliknya seorang perempuan dilarang melihat poto laki-laki. Namun demikian bagaimana sih sebenarnya pandangan fikih terkait hal ini.

Abu Bakar Syato dalam kitabnya I’anatut Tolibin menjelaskan secara terang hukum terkait hal ini

لا في نحو مرآة أي لا يحرم نظره لها في نحو مرآة كماء وذلك لانه لم يرها فيها وإنما رأى مثالها. ..والمرأة مثله فلا يحرم نظرها له في ذلك

Artinya: “Bukan melihat gambar pada semacam cermin. Artinya, tidak haram bagi seorang laki-laki melihat perempuan pada semisal cermin, seperti dalam permukaan air. Hal ini karena ia tidak melihat wujud perempuan secara langsung, melainkan hanya melihat bayangannya saja. Sebaliknya bagi perempuan, ia tidak haram melihat laki-laki pada semisal cermin.

Baca Juga  Memfasilitasi Anak Dengan Smartphone, Bolehkah?

Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyah juga diterangkan hal yang sama.

عند الشّافعيّة : لا يحرم النّظر – ولو بشهوة – في الماء أو المرآة قالوا : لأنّ هذا مجرّد خيال امرأة وليس امرأة

Artinya: “Menurut mazhab Syafi’i, tidak haram melihat dari pantulan cahaya yang berada di dalam air atau cermin, sekalipun dengan syahwat. Para ulama Syafi’iyah beralasan, karena objek yang dilihat bukanlah tubuh dari seorang perempuan itu, melainkan hanyalah bayangan atau gambar dari sosok yang berada di balik cermin itu.”

Dengan demikian maka hukum melihat poto lawan jenis adalah diperbolehkan atau tidak diharamkan. Wallahu A’lam Bishowab.

Artikel ini telah dibaca 28 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian