Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 29 Jan 2022 12:00 WIB ·

Halalkah Mengonsumsi Olahan Bulu Ayam?


					Halalkah Mengonsumsi Olahan Bulu Ayam? Perbesar

Jalanhijrah.com-Mengonsumsi daging ayam adalah sebuah hal biasa. Disajikan dalam bentuk olahan makanan yang menggiurkan para penggemarnya, seperti nugget dan steak. Namun, siapa sangka sebelumnya bahwa kini nugget dan steak tersebut memiliki variant baru dengan bahan dasar dari bulu ayam.

Buku ayam biasanya dibuang begitu saja, atau hanya sebagian saja yang dimanfaatkan menjadi kerajian-kerajinan rumah tangga. Namun, seorang mahasiswa sekaligus peneliti asal Thailand  bernama Sorawut Kittibanthorn berhasil mengembangkan bulu ayam menjadi bubuk tepung. Setelah menjadi tepung, Sorawut mengolahnya menjadi nugget dan steak

Berdasarkan penelitianya tersebut, ia menemukan bahwa bulu Ayam mengandung protein yang tinggi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan protein pada tubuh manusia. Hal ini turut didukung oleh seorang profesor ilmu pangan di Universitas Kasesart, Hathairat Rimkeeree yang mencoba untuk mencicipi olahan makanan berbahan daar bulu ayam tersebut. Rimkeeree menyatakan bahwa rasa dan teksturnya menkjubkan, sehingga berpotensi sebagai alternatif pengganti sumber maknanan dimasa depan.

Lalu, bagaimana dengan hukum mengonsumsi olahan berbahan dasar bulu ayam ini?.

Hal ini  dapat dijawab dengan salah satu ayat Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 5, yaitu:

وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا ۗ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

Artinya: “Dan binatang-binatang ternak itu, Ia juga menciptakannya untuk kamu; terdapat padanya benda-benda yang memanaskan tubuh dari sejuk dan beberapa faedah yang lain; dan dari padanya juga kamu makan.”

Baca Juga  Mewaspadai Takabbur saat Bertakbir

Selain itu, menurut fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor: 47 Tahun 2012, dinyatakan bahwa bulu, rambut dan tanduk dari hewan halal (ma’kul al-lahm) yang disembelih secara syar’i hukumnya halal untuk kepentingan pangan, obat-obatan dan kosmetika.

Berdasarkan hal tersebut, maka beredarnya olahan makanan yang berbahan dasar bulu ayam ini adalah halal untuk dikonsumsi. Keberadaanya merupakan salah satu dampak dari perkembangan zaman yang setiap harinya semakin berkembang pesat termasuk dalam dunia kuliner yang bertolak dari penelitian. Apalagi, melampaui penelitian ini dapat diketahui sejatinya bulu ayam mengandung protein yang tinggi dan dapat menjadi sumber makanan alternatif dimasa mendatang. Dengan demikian, hal ini haruslah didukung dan dikembangkan dengan catatan tetap berlandaskan pada sumber-sumber ajaran agama Islam, sehingga penelitian hingga kuliner baru yang ditemukan dapat dikonsumsi secara aman, sehat, dan halal.

Artikel ini telah dibaca 11 kali

Baca Lainnya

Doa Nabi Daud Untuk Membentuk Keluarga Sakinah

16 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Doa Nabi Daud Untuk Membentuk Keluarga Sakinah

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Trending di Fikih Harian