Beranda / Mujadalah / Habis Penalti Terbitlah Puisi

Habis Penalti Terbitlah Puisi

Di Indonesia, orang-orang merasakan telah berganti hari: Kamis berganti Jumat. Ribuan atau jutaan orang memutuskan menjadi penonton di depan televisi. Detik-detik menjelang pertandingan sepak bola dimulai, kita melihat kamera mengarah ke bulan. Pemandangan puitis: bulan di atas stadion. Bulan itu bundar.

Di rumput stadion, bola itu bundar dalam pertaruhan nasib di kaki, tangan, dan kepala para pemain berasal dari Indonesia dan Korea Selatan. Di tatapan bulan, mereka berebutan bola. Mereka tak berebutan bulan gara-gara cuma satu. Di stadion, bola bisa berganti saat diinginkan pemain atau wasit.

Pada Jumat, 26 April 2024, dua bola mata penulis ikut menonton pertandingan diselenggarakan di Qatar. Dini hari dirasakan ramai di rumah dan pelbagai tempat digunakan untuk menonton bersama. Di langit, kita melihat bulan bundar. Kita pastikan bulan itu sama dengan bulan di atas stadion (Qatar). Suasana pun puitis.

Kita memikirkan bola, bukan bulan. Bola menentukan menang dan kalah. Bulan sekadar memberi rangsangan imajinasi atau membenarkan sentimentalitas. Kita terbujuk imajinasi saat dini hari berganti pagi terang.

Imajinasi tersaji dalam puisi berjudul “Bola Minnah” gubahan Joko Pinurbo (2019). Puisi cukup lucu bagi kita ingin tertawa setelah “menolak” tidur sekian jam. Joko Pinurbo menghibur: Minnah deg-degan melihat/ Messi tiba-tiba muncul/ di celah baris kata-kata/ menggiring bola mengecoh/ beberapa tokoh cerita/ dan menceploskannya/ ke lubang hati Minnah/ yang dingin menganga. Gol!

Pada suatu hari, Joko Pinurbo membagi cerita tentang kesengajaan memberi nama tokoh dalam puisi itu Minnah. Ia sedang mengamati kegandrungan jutaan orang Indonesia dengan Korea Selatan: drama, musik, busana, makanan, dan lain-lain. Minnah, nama dalam pengucapan dan kesan berefereni Korea Selatan.

Sekian tahun lalu, orang-orang Indonesia terpikat kecantikan kaum perempuan di Korea Selatan. Pujian mengalir sampai jauh. Orang-orang pun mengagumi kaum lelaki asal Korea Selatan. Para peminat sepakbola lekas teringat lelaki Korea Selatan bermain di Eropa. Ia sering mencetak gol untuk Tottenham Hotspurs. Korea Selatan mengingatkan sepakbola. Di Asia, tim nasional Korea Selatan sering menang dan disegani. Di kancah dunia, Korea Selatan pun terhormat.

Kita sejenak masuk ke puisi gubahan Joko Pinurbo. Ia masih saja mengurusi Messi. Di Qatar, Indonesia melawan Korea Selatan tanpa nama Messi. Di stadion, mereka masih muda, paling tua berusia 23 tahun. Sekarang, Messi sudah tua. Ia berada di Amerika Serikat.

Messi tak ada dalam pertandingan mendebarkan di Qatar: menghasilkan 4 gol dalam 90 menit. Para penonton justru mulai mengingat nama-nama pemain Indonesia. Sekian nama terasa asing, tak mudah diucapkan oleh lidah kita. Nama para pemain Korea Selatan makin sulit diketahui dan diingat. Kita menduga orang-orang Indonesia mengingat nama-nama artis Korea Selatan.

Gol dalam puisi gubahan Joko Pinurbo itu kemenangan asmara, bukan kehormatan negara. Kita di depan televisi dibuat berdebar untuk memastikan Indonesia lolos semifinal dan mencipta sejarah di Asia. Pada saat teriak, doa, tepuk tangan, dan makian diumbar para penonton di seantero Indonesia, bulan bergerak pelan. Bulan tak tergesa “turun”. Ia tampak anggun, berbeda nasib dengan bola di stadion.

Menit-menit mendebarkan menjelang subuhan. Para penonton di Indonesia mungkin terkencing-kencing saat adu penalti. Mereka keringatan dan gelisah. Sekian orang memilih berdoa. Mulut mereka bergerak dan tangan menandakan pengharapan. Doa-doa ke langit. Pemain-pemain bergantian menendang bola berharap gol. Dua kiper wajib membuktikan diri mampu menggagalkan bola masuk gawang. Wasit berkuasa dengan peluit.

Pemain-pemain Indonesia tampak tegang. Tampang mereka kalem dan lugu bila dibandingkan para pemain Korea Selatan. Kaum muda Indonesia memang memilih santun meski boleh sedikit sombong. Kita melihat sekian pemain bersujud atau mencium tanah-rumput setelah berhasil membuat gol.

Gerak tubuh lazim sebagai rasa berterima kasih dan memohon restu Tuhan. Sujud telah menjadi “ibadah” dalam sepakbola di Indonesia. Kita memuji cara mereka mengolah batin dan menggerakkan raga agar nasib (menang-kalah) bisa diterima secara wajar. Para pemain itu mungkin mengerti jutaan orang (penonton) Indonesia bakal bersujud di masjid atau rumah setelah kemenangan bersejarah.

Korea Selatan kalah tapi terhormat. Mereka tangguh dan heroik. Kalah itu menimbulkan “masalah”. Kita “serba salah” saat memikirkan STY. Pelatih tim nasional Indonesia itu berasal dari Korea Selatan. Ia pernah menjadi pemain penting di Korea Selatan. Di stadion ditatap bulan bundar, STY menginginkan Indonesia menang. Ia pun mengerti impian negara asal. Kita memastikan sosok paling berdebar dalam pertandingan Indonesia-Korea Selatan itu STY.

Menang dan kalah tetap membuat ia terjerat dilema. Kita mendingan mengingat STY “mesem” dalam iklan-iklan. Ia cukup sering mendatangi penonton melalui iklan. Rezeki tambahan diperoleh dan ketenaran. Konon, kemenangan Indonesia dilanjutkan doa bersama agar STY bahagia meski mendapat “lelucon” bakal kesulitan “pulang kampung”.

Adu penalti rampung, pelatih dan pemain Indonesia sumringah. Mereka menunaikan misi besar: berhasil. Jutaan orang menonton di depan televisi mengaku lega dan puas. Mereka menentukan pilihan: tidur, menunaikan shalat subuh, mencari sarapan paling lezat, atau bertahan melek untuk berlanjut bekerja dan sekolah. Indonesia makin terang dengan pamitan bulan digantikan terbit matahari.

Kita akhiri kesan-kesan menonton pertandingan Indonesia-Korea Selatan dengan mengutip puisi. Penalti itu memang mendebarkan. Puisi pun bisa membuat kita “gemetar” bila mengetahui hubungan erat Korea Selatan-Indonesia. Park In-Hwan (1926-1956) menggubah puisi berjudul “Puisi Buat Rakyat Indonesia”. Kita membaca dalam terjemahan bahasa Indonesia dikerjakan Chung Young Rim. Kini, penalti berganti puisi.

Puisi mengandung sejarah. Kita menengok masa lalu. Kita mengutip: Penaklukkan imperialisme yang ganas/ bukan hanya kau yang terhina/ kami juga turut merasa/ kumpulkan kekuatan pahlawan, berjuang terus/ bukan hanya untuk kewujudan diri dan kebebasan/ tetapi juga untuk menghapus penjajahan, keganasan, dan/ tiadanya demokrasi di bumi ini/ Rakyat Indonesia yang bangun menentang/ berjuanglah hingga kering darahmu! Dua negara pernah bernasib sama: dijajah. Derita bisa saling terasakan.

Pada masa berbeda, Indonesia menghadapi Korea Selatan dalam urusan sepakbola. Di stadion, penentuan menang-kalah dilakukan tapi persahabatan dua negara tetap awet. Di akhir puisi, kita menghormati ikhtiar pengarang asal Korea Selatan memberi persembahan sastra untuk Indonesia puluhan tahun silam: Rakyat Indonesia yang kekasih/ pada malam di Borobudur yang bersejarah/ kedengaran bunyi lonceng kedamaian/ dengan alunan palu gamelan diiringi serimpi/ sambutlah negara baru.

Kini, Indonesia mengalahkan Korea Selatan. Kemenangan tak boleh membuat kita mengejek mereka. Kita tetap terpikat dan memberi pujian beralamat Korea Selatan. Indonesia terus bersahabat. Puisi lama terbaca (lagi) saat pagi indah, terang, dan merdu. Kita berucap pelan: “habis penalti, terbitlah puisi.” Begitu.

Bandung Mawardi