Generasi muda dan digital saat ini seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Di sisi lain, juga terjadi fenomena muslim milenial mengidentifikasi diri sebagai kelompok hijrah. Karena itu, muslim milenial harus diberi pemahaman yang benar agar tidak memiliki pandangan keagamaan yang salah.

Hal itu dikatakan oleh Founder Alvara Research Center, Hasanuddin Ali dalam kegiatan bertema Peta Moderasi Beragama di Kelompok Media di Jakarta.

Hasanuddin mengungkapkan muslim milenial memiliki setidaknya sejumlah karakteristik yang patut menjadi perhatian para aktivis dan jurnalis media keislaman moderat. Karakteristik generasi muslim baru ini, pertama, tech savvy (memiliki ketergantungan terhadap teknologi). Kedua, semangat keberagamaan yang tinggi. Ketiga, memiliki adopsi yang tinggi terhadap nilai-nilai keagamaan. Keempat, memiliki banyak uang dan memiliki keleluasaan dana untuk berdonasi.

“Empat karakteristik muslim milenial ini harus kita dekati agar tidak didahului oleh pihak-pihak yang memiliki pandangan keagamaan yang salah,” kata Hasanuddin Ali dikutip dari NU Online.

Sekretaris Lakpesdam PBNU ini mengatakan bahwa anak muda dan digital seperti sepasang sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan. Konsumsi internet yang sangat tinggi sangat berpengaruh terhadap perilaku anak muda.

“Derasnya arus informasi yang mereka terima membuat mereka tidak mampu mencerna informasi secara mendalam. Mereka gampang berpindah dari informasi satu ke informasi lain,” ungkapnya.

Menurut dia, dalam hal sosial agama, anak muda adalah generasi bebas merdeka. Mereka tidak mudah terikat dalam satu kelompok tertentu. ini tercermin dari identifikasi afiliasi ormas yang mereka ikuti. Lebih dari 60% dari mereka tidak merasa terafiliasi dengan ormas mana pun.

“Pemahaman keagamaan pun sebagian besar mereka dapatkan dari media digital, terutama YouTube dan media sosial lain yang berbasis visual. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para ustadz yang sering muncul di medsos lebih berpeluang menjadi ustadz panutan anak muda,” papar Hasan.

Contoh paling terkini adalah Ustadz Hanan Attaki. Gen Z yang mengidolakan dai muda milenial asal Aceh ini berada di peringkat 10 besar di antara para ustadz dan ulama di Indonesia. Baca Juga NU dan Tantangan Mengelola Generasi Milenial

Baca Juga  Bagaimana Kerangka Al-Qusyairi Digunakan untuk Menghadapi Masyarakat Indonesia?

“Jadi, mengalahkan kiai-kiai besar yang mumpuni dan kompeten. Misalnya, Gus Mus dan Gus Baha,” papar Hasan.

“Jadi, Gus Mus dan Gus Baha di kalangan Gen Z kalah dengan Ustadz Hanan Attaki. Meskipun di generasi yang lebih tua beliau berdua lebih tinggi daripada Hanan Attaki,” sambungnya.

Ia juga memaparkan tentang penetrasi media sosial di Indonesia berdasarkan generasi. Facebook hampir disukai oleh seluruh generasi. Uniknya, TikTok sebagai platform yang relatif baru mampu menyodok ke posisi tiga di bawah Instagram dan di atas Twitter.

“Untuk Gen Z, Facebook 85,6 persen. Instagram 75,3 persen. TikTok ini 54,1 persen. Twitter 13 persen. Untuk Milenial, Facebook 88,1 persen. Instagram 56,5 persen. TikTok 41,2 persen. Twitter 6,7 persen.

***

Hijrah adalah salah satu konsep penting dalam Islam yang mengajarkan tentang transformasi diri dari keadaan yang kurang baik menuju ke keadaan yang lebih baik, baik secara spiritual maupun sosial. Dalam sejarah Islam, hijrah merujuk pada peristiwa Nabi Muhammad dan para sahabatnya berpindah dari Mekah ke Madinah untuk menghindari penganiayaan dan membangun masyarakat baru yang lebih adil dan sejahtera. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, makna hijrah sering kali disalahpahami oleh generasi milenial Muslim, yang dapat menyebabkan distorsi dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Hijrah: Antara Spiritualitas dan Fenomena Sosial

Hijrah bukan hanya sekadar perpindahan fisik, tetapi juga perubahan mendalam dalam cara pandang dan perilaku. Dalam konteks modern, hijrah bisa berarti meninggalkan kebiasaan buruk dan menjalani kehidupan yang lebih sesuai dengan nilai-nilai agama. Namun, bagi banyak milenial Muslim, hijrah telah berubah menjadi tren sosial yang lebih mementingkan tampilan luar daripada esensi spiritual.

Banyak yang mengartikan hijrah sebagai perubahan dalam penampilan fisik semata, seperti mengenakan pakaian yang lebih Islami atau memelihara janggut. Sementara penampilan yang sesuai dengan nilai-nilai agama adalah penting, hijrah seharusnya lebih dari sekadar perubahan kosmetik. Ini tentang transformasi internal yang mendalam, termasuk peningkatan dalam akhlak, etika, dan hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Baca Juga  Arah Suara PBNU pada Politik 2024

Hijrah dan Eksklusivisme: Memisahkan Diri dari Masyarakat

Salah satu kesalahan terbesar dalam memaknai hijrah adalah kecenderungan untuk menjadi eksklusif dan memisahkan diri dari masyarakat yang dianggap “tidak Islami.” Beberapa milenial yang berhijrah memilih untuk hanya bergaul dengan sesama yang memiliki pandangan dan praktik keagamaan yang sama, dan bahkan menganggap diri mereka lebih unggul secara spiritual.

Pendekatan ini bertentangan dengan esensi hijrah yang sebenarnya. Nabi Muhammad dan para sahabatnya pindah ke Madinah bukan untuk memisahkan diri dari masyarakat, tetapi untuk membangun masyarakat yang lebih baik dan inklusif. Mereka berinteraksi dan berdialog dengan berbagai kelompok masyarakat, termasuk yang berbeda keyakinan. Hijrah seharusnya membawa seseorang lebih dekat kepada Allah sambil tetap berkontribusi positif dalam masyarakat luas.

Hijrah dan Penghakiman: Merendahkan yang Berbeda Pandangan

Tren hijrah di kalangan milenial juga sering disertai dengan sikap penghakiman terhadap mereka yang belum atau tidak menjalani proses yang sama. Orang yang tidak mempraktikkan agama dengan cara yang sama sering kali dianggap kurang beriman atau bahkan “sesat.” Ini menciptakan polarisasi dalam komunitas Muslim dan bertentangan dengan prinsip dasar Islam tentang kasih sayang dan pengertian.

Islam mengajarkan bahwa kita harus menghormati dan memahami perjalanan spiritual masing-masing individu. Setiap orang berada pada jalur yang berbeda dalam pencarian mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebaliknya, kita seharusnya mendukung satu sama lain dalam upaya kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tanpa menghakimi atau merendahkan mereka yang berbeda pandangan atau praktik keagamaan.

Hijrah dan Konsumerisme Spiritual

Hijrah juga sering kali diperlakukan sebagai tren konsumerisme spiritual, di mana simbol-simbol agama dipasarkan dan dikonsumsi sebagai bagian dari identitas budaya yang lebih luas. Kita melihat maraknya produk-produk yang dikaitkan dengan hijrah, seperti busana Islami, aksesori, dan layanan spiritual yang dipromosikan sebagai cara untuk menunjukkan komitmen keagamaan.

Meskipun tidak ada yang salah dengan menggunakan produk atau layanan yang mendukung praktik keagamaan, hijrah tidak boleh direduksi menjadi sekadar tren atau identitas yang dapat dibeli. Hijrah adalah perjalanan spiritual yang mendalam dan pribadi, yang membutuhkan introspeksi, pembelajaran, dan komitmen untuk menjalani kehidupan yang lebih baik sesuai dengan ajaran agama.

Baca Juga  Tokoh Besar Indonesia A. Hassan Mengkafirkan Pancasila, Kok Bisa?!

Membawa Kembali Makna Hijrah yang Sejati

Untuk memperbaiki pemahaman yang salah tentang hijrah di kalangan milenial, kita perlu mengembalikan fokus pada inti spiritual dan moral dari konsep ini. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:

  1. Pendidikan yang Mendalam tentang Agama: Memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang konsep hijrah dalam Islam, baik dari segi sejarah maupun aplikasinya dalam kehidupan modern. Ini dapat dilakukan melalui pendidikan formal dan non-formal, termasuk diskusi dan ceramah yang mendalam.
  2. Promosi Moderasi dan Inklusivitas: Mendorong pemahaman bahwa hijrah seharusnya membawa seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik, yang berkontribusi positif dalam masyarakat luas dan menghormati perbedaan.
  3. Penekanan pada Transformasi Internal: Mengingatkan bahwa hijrah adalah tentang perubahan dalam perilaku dan nilai-nilai internal, bukan hanya penampilan luar. Ini melibatkan peningkatan dalam etika, akhlak, dan hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
  4. Menyediakan Bimbingan yang Bijak: Memastikan bahwa mereka yang ingin berhijrah memiliki akses ke bimbingan yang bijak dan berkompeten dari ulama dan guru spiritual yang dapat membantu mereka dalam proses transformasi mereka.
  5. Menghindari Konsumerisme Spiritual: Mendorong pemahaman bahwa hijrah adalah proses yang mendalam dan pribadi yang tidak boleh direduksi menjadi tren atau produk yang dapat dibeli.

Menemukan Jalan yang Benar dalam Hijrah

Hijrah adalah konsep yang kaya dan bermakna dalam Islam yang seharusnya membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah. Namun, penyimpangan dalam pemahaman dan praktik hijrah di kalangan milenial dapat menyebabkan perpecahan dan kebingungan. Dengan fokus pada pendidikan yang benar, moderasi, dan transformasi internal, kita dapat membantu generasi milenial menemukan jalan yang benar dalam hijrah dan menjadi individu yang lebih baik dan anggota masyarakat yang lebih produktif dan damai.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *