Benarkah Khilafah adalah Sistem Pemerintahan yang Sempurna?

Jalanhijrah.com-  Sampai hari ini, setelah membaca banyak sekali perspektif dan narasi yang diagungkan oleh kelompok khilafah dari pelbagai kalangan, khususnya HTI, saya justru semakin mendapati banyak kebingungan dan bermuara pada pertanyaan, apa yang sebenarnya diimpikan oleh para pejuang khilafah ketika Indonesia sudah menganut sistem khilafah? Siapa yang akan direkomendasikan menjadi pemimpin ketika khilafah ditegakkan? Apakah menjamim pemimpinnya sangat baik dan sesuai dengan ajaran Islam?

Pertanyaan-pertanyaan itu menurut saya, sangat penting untuk diajukan oleh para pejuang khilafah yang saat ini sedang berikrar dengan sepenuh hati melakukan perjuangan dengan simbol hukum Allah. Jika melihat dari sejarah panjang perjalanan umat Islam, di masa Rasulullah, sistem pemerintahan yang diterapkan pasca Rasulullah Saw. wafat, berbed-beda antara satu dengan yang lain.

Selanjutnya, periode pemerintahan Islam, yang diawali dengan dinasti Umayyah, melalui khalifah pertama, yakni Muawiyah, salah satu kebijakan yang diberlakukan yakni mengubah sistem menjadi monarki absolut. Sehingga yang meneruskan kepemimpinannya adalah anaknya sendiri. Dalam konteks inilah, kita memahami bahwa, politik masyarakat Islam yang berjalan untuk meneruskan roda pemerintahan, sangat fleksibel dan menyesuauikan dengan kondisi yang ada.  Bagaimana implementasinya? Apakah semua khalifah yang memimpin dalam setiap periode kekhalifahan membawa kemakmuran dan kebaikan bagi umatnya? Mari kita lihat!

Dulu, khalifah juga ada yang tidak beres

Salah satu kejayaan masa Islam yang sering kali disebut oleh para pejuang khilafah adalah dinasti Abbasiyah, yang disebut sebagai puncak keemasan Islam. Sebab pada masa itu, banyak tokoh-tokoh ilmuwan Islam yang tampil sebagai kekayaan dari masyarakat Islam.

Baca Juga  Hukum Mendukung dan Mengidolakan Pemain Sepak Bola Non Muslim

Namun, dibalik dari kegemilangan Abbasiyah, salah satu tokoh yang memiliki track record buruk adalah Al-Hadi Abu Muhammad Musa bin Al-Mahdi bin al-Mansyur. Ia dilahirkan pada 147 Hijriah dan menggantikan peran ayahnya yang wafat, yakni Al-Mahdi. Dalam sejarah kekhalifahan, ia tercatat sebagai khalifah periode keempat.

Apa yang ditorehkan oleh Al-Hadi? Catatan buruk yang sepanjang sejarah perlu diingat. Sebab ia adalah khalifah yang gemar mabuk, tidak melakukan tugas kekhalifahan dengan baik. Tidak hanya itu, ia juga merupakan orang yang berselisih paham dengan sang ibu, yakni Khaizuran.

Bahkan, dalam beberapa Riwayat disebutkan bahwa, ia meninggal karena diracun oleh sang ibu. Peristiwa itu diawali atas kekesalan Al-Hadi yang mendapati ibunya terlalu ikut campur dalam urusan pemerintahan. Al-Hadi tidak terima dengan peran sang ibu, kemudian mengirimkan makanan. namun, sanga ibu khawatir makanan itu diracun. Akhirnya sang ibu memiliki inisiatif untuk memberikan makanan tersebut kepada seekor anjing, lalu matilah anjing itu. Berdasarkan kisah itu, sang ibu kemudian meracuni Al-Hadi.

Cinta tanah air adalah kewajiban yang perlu diikrarkan

Jika ada yang menentang tentang kewajiban cinta tanah air, barangkali kita perlu memahami bahwasanya, Rasulullah Saw. ketika bersama para sahabat hijrah ke Madinah.  Di Kota Yatsrib, pada saat itu terdapat banyak wabah penyakit. Melihat kondisi itu, Rasulullah Saw. berdoa untuk menjadikan rasa cintanya kepada Madinah, seperti mencintai Kota Mekkah bahkan melebihi kota Mekkah itu.

Baca Juga  Tangkal Paham Radikal Dimulai dengan Identifikasi Kecenderungan Anak

Apa yang bisa dimaknai dari doa itu? tidak lain adalah ekspresi kecintaan terhadap sebuah negara yang menjadi tempat bersemayam, tempat tinggal dan hidup dan tempat melakukan banyak hal. Dalam konteks keindonesiaan, negara ini sudah memberikan banyak sekali manfaat secara pribadi ataupun sosial. Bukankah sangat penting untuk menanamkan kecintaan terhadap negara yang sudah memberikan tempat aman ini?

Manakala ketika kekecewaan itu datang terhadap pemerintah, kebijakan, dan penegakan hukum yang kurang adil, perlawanan yang perlu dilakukan bukan banting setir untuk menegakkan khilafah, justru seharusnya kita berjuang. Sebab yang salah bukan sistem Islam yang tidak tegak, tapi sumber daya manusia di dalamnya, yang perlu diperbaiki.

Sistem pemerintahan Islam masa dahulu, bukan tanpa cacat. Ada beberapa tokoh khalifah yang justru tidak sesuai dengan ajaran Islam, bahkan tidak memperlihatkan nilai-nilai keislaman yang ada pada dirinya. Lalu, apakah Islamnya yang salah? Tentu tidak! akan tetapi, orangnya yang harus diperbaiki. Sama seperti halnya di Indonesia.

Lagi pula, unsur negara itu ada rakyat, pemerintah, wilayah, dan pengakuan dari negara lain. Artinya, kalau mengimpikan pemerintah yang ideal, bisakah kita untuk menjadi rakyat yang ideal tanpa cacat?

Waallahu a’lam bis showab..

Penulis

Muallifah

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *