jalanhijrah.com – Banjir rob yang melanda kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa menyebabkan banyak petani kehilangan sumber penghidupan. Salah satunya dialami oleh Pikri Parikhin, warga Dusun Sigempol, Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Ia harus menanggung kerugian hingga ratusan juta rupiah dan kehilangan mata pencaharian utamanya sebagai petani tambak akibat bencana tersebut.
“Kalau dihitung, kerugiannya bisa mencapai ratusan juta. Tambak tidak bisa dikelola, sementara harga jual hasil tambak juga tidak laku sama sekali. Sejak tahun 2020 sampai sekarang, tambak itu tidak bisa diapa-apakan,” ujarnya, Rabu (12/11/2025).
Pikri menjelaskan, banjir rob tidak hanya mengakibatkan hilangnya modal karena ikan dan udang yang ia budidayakan hanyut terbawa arus, tetapi juga merusak tanggul serta galengan tambak. Akibatnya, tanaman mati, air laut menggenangi permukiman, dan banyak rumah warga mengalami kerusakan.
“Banjir rob sangat berdampak pada kondisi fisik tambak kami. Banyak tanggul yang jebol dan struktur tambak rusak. Akibatnya, panen gagal karena ikan dan udang hanyut terbawa arus. Selain itu, kami juga kehilangan modal serta penghasilan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, selain kerugian materi, banjir rob juga menimbulkan dampak nonfisik yang cukup serius. Air tanah menjadi tercemar, sehingga memicu munculnya berbagai penyakit seperti diare, penyakit kulit, dan gangguan kesehatan lainnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Ranting (PR) Nahdlatul Ulama (NU) Sigempol ini menjelaskan bahwa bencana tersebut tidak hanya menghilangkan mata pencaharian, tetapi juga merusak lingkungan dan tempat tinggal warga. Para petani harus menanggung biaya besar untuk memperbaiki tambak yang rusak dan rumah yang terendam air laut.
“Kami bukan hanya kehilangan penghasilan, tapi juga harus mengeluarkan biaya besar untuk memperbaiki tambak dan rumah yang rusak akibat air rob yang masuk ke permukiman,” tutur Pikri.
Meski kehilangan mata pencaharian utamanya sebagai petani tambak, Pikri Parikhin masih bisa bertahan berkat posisinya sebagai kepala dusun yang menjadi sumber penghasilan sementara.
Ia menjelaskan, saat ini sekitar 8.500 hektare tambak di wilayahnya terdampak banjir rob, termasuk 1,5 hektare tambak miliknya sendiri yang sudah tidak dapat dimanfaatkan.
“Sekarang semuanya hilang, hanya tanaman mangrove yang tersisa sebagai penanda bekas tambak saya. Tambak itu sudah tidak bisa digunakan lagi karena tanggulnya rusak,” ujarnya.
Pikri mengaku sedih mengenang masa lalu desanya yang dulu dikenal sebagai sentra penghasil udang windu dan ikan bandeng unggulan. Kini, kejayaan itu tinggal kenangan akibat abrasi dan banjir rob yang terus melanda.
“Rasanya sangat sedih. Dulu desa kami terkenal sebagai penghasil udang windu dan bandeng terbaik, tapi sekarang semua itu sudah tidak bisa lagi karena abrasi,” tuturnya dengan nada pilu.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menangani masalah banjir rob di pesisir Pantura, khususnya di wilayahnya. Pikri juga mendukung penuh rencana pembangunan tanggul laut sebagai solusi jangka panjang.
“Harapan kami, pemerintah bisa segera menanggulangi banjir rob karena dampaknya sangat besar terhadap kehidupan warga. Kami juga berharap pembangunan tanggul laut di pantai utara Jawa dapat segera direalisasikan,” pungkasnya.
Tambak Terendam Rob, Tak Lagi Bisa Digarap
Sementara itu, Tarmudi, warga dari desa yang sama dengan Pikri, juga mengalami nasib serupa. Dulu, ia dikenal sebagai petambak ikan bandeng yang setiap tiga bulan sekali dapat memanen hasil budidayanya. Dari usaha itu, ia mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Kini, tambak yang menjadi sumber penghasilannya telah terendam banjir rob. Ia pun kehilangan mata pencaharian yang selama ini menjadi tumpuan hidup.
“Kerugian secara materi jelas sangat besar karena saya sudah tidak bisa memanen bandeng lagi. Sekarang, tidak ada lagi penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain kerugian ekonomi, banjir rob juga berdampak pada kehidupan sosialnya. “Kalau kerugian nonmateri, ya kami tidak bisa lagi beraktivitas seperti dulu—mengurus tambak dan menjalani rutinitas sehari-hari,” tutur Tarmudi dengan nada pasrah.
Ia menjelaskan bahwa kondisi tambaknya kini lebih menyerupai lautan yang dikelilingi hutan bakau, karena air telah menggenangi seluruh area hingga sekat galengan pun tak terlihat. Saat ini, tambak-tambak yang sebelumnya terpisah sudah menyatu menjadi satu area luas.
“Kondisi tambakku sekarang hampir tak terlihat lagi. Yang tampak justru seperti lautan,” keluhnya.
Seiring dengan hilangnya tambak, ia kini beralih profesi menjadi pedagang ayam potong keliling. Menurutnya, usaha ini memberikan perputaran penghasilan yang lebih cepat dibandingkan bertani tambak.
Di sisi lain, Tarmudi mengaku sedih melihat tambaknya yang kini berubah menjadi lautan. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menanggulangi banjir rob.
“Harapan kami sebagai petani tambak, pemerintah bisa melakukan penyodetan kali yang sudah mati di hulu Kali Pemali, misalnya di sekitar makam santri atau di lokasi kali yang lama tidak berfungsi. Dengan begitu, air Kali Pemali bisa membawa material tanah sehingga terbentuk tanggul alami,” ujarnya.




