Aku Menyembah Bola dan Memperlakukannya seperti Tuhan

Jalanhijrah.com- Dengan apa kita bisa menjelaskan kematian 120an lebih penonton sepak bola pascakekalahan Arema saat melawan Persebaya? Seberapa dalam kekecewaan yang dirasakan oleh seseorang hingga sampai melakukan tindakan nekad yang berujung pada kematian massal? Seberapa kuat kesetiaan seorang fans kepada tim bolanya hingga batas dukungan kepadanya adalah titik darah penghabisan? Sekuat apa cinta seseorang kepada sebuah tim sepak bola hingga hidup dan mati dipertaruhkan untuknya?

Fenomena kecintaan fans terhadap tim sepak bola pujaannya telah banyak menjadi perenungan banyak pihak. Howard Cosell, seorang jurnalis olahraga dari Amerika Serikat, menulis buku dengan judul After All, is Football a Game or a Religion? (Sesungguhnya, sepak bola itu permainan ataukah agama?). Pertanyaan yang sama sebetulnya telah dilontarkan banyak kalangan.

Sepak bola adalah olahraga yang mampu menyihir ratusan ribu manusia untuk merasakan ekstase bersama. Permainannya ibarat ritual massal di mana para penonton secara berjamaah merasakan keriangan dan kesedihan bersama. Para pemain dipuja bak seorang nabi, kisah hidupnya diikuti dan perilakunya diteladani. Fans klub bola lain dihadapi seperti jamaah agama lain. Jika ada yang menganggu, para fans ini akan berubah menjadi tentara yang siap mati untuk membelanya.

Diego Maradona, legenda sepak bola dari Argentina dengan tegas menyatakan bahwa “Football isn’t a game, nor a sport; It’s a religion” (Sepak bola bukanlah sebuah permainan, juga bukan sebuah olahraga; Sepakbola adalah agama). Dari Negara Latin lain yang dianggap sebagai sumber pemain bola dunia, Brazil, lahir seorang pemain bola legendaris bernama Pele, yang menyatakan, “Football is like a religion to me. I worship the ball and treat it like a god” (Sepak bola sudah seperti agama bagi saya. Saya menyembah bola dan memperlakukannya seperti tuhan”)

Baca Juga  Azyumardi Azra: Akademisi yang Paripurna

Terhadap tim pujaan, tak ada pilihan lan kecuali mencintai dan bersetia kepadanya dengan segala pengorbanan, bahkan kematian jika memang dibutuhkan. Sebegitunya sepak bola di masyarakat kita saat ini. Suatu kali Eric Cantona, salah seorang pemain bola legenda Manchester United menyatakan, “You can change your wife, your politics, your religion, but never, never can you change your favourite football team” (Kamu bisa berganti istri, pilihan pilitik, bahkan agama, tapi kamu tidak akan pernah bisa berganti klub sepakbola favoritmu).

Karl Marx pernah menggambarkan agama sebagai candu yang meninabobokkan masyarakat (religion is the opium of the people). Seandanya Marx hidup kembali, saya ingin bertanya kepadanya: “Jika sepak bola adalah sebuah agama dan agama adalah sebuah candu, candu jenis apakah yang menggerakkan ribuan orang untuk melakukan kerusuhan dan kekerasan? Candu merk apakah yang membuat sebuah pertandingan sepak bola berakhir dengan kerusuhan dan ratusan orang meregang nyawa bergelimpangan?

Di ujung tulisan ini, kami ingin menyampaikan: “Dengan kepedihan mendalam, kami, keluarga besar UINSA Surabaya berbela sungkawa terhadap seluruh keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Tak ada satu pun olahraga yang bisa dibenarkan atas jatuhnya sebuah korban jiwa. Biarlah Tuhan saja yang menjadi Tuhan, karena sepakbola bukanlah agama.[AN]

Penulis

Ust. Ahmad Z. El Hamdi

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *