Beranda / Milenial / Abul Aswad ad-Duali, Pelopor Ilmu Nahwu dan Harakat Al-Qur’an

Abul Aswad ad-Duali, Pelopor Ilmu Nahwu dan Harakat Al-Qur’an

Jalanhijrah.com- Dikenal dengan nama Ad-Duali. Bernama lengkap Zalim bin Amr bin Sufyan bin Jandal, Abul Aswad lahir di masa kenabian. Ia mendapatkan hadis dari generasi sahabat seperti Umar, Ali, Ubay bin Ka’ab, Abu Dzar, Abdullah bin Mas’ud, Zubair bin Awwam dan beberapa sahabat lainnya.

Beliaulah perumus ilmu nahwu. Seorang tabiin yang fakih, ahli syair, dan ahli bahasa Arab. Beliau pernah menjabat sebagai hakim di wilayah Basrah. Menurut pendapat yang paling masyhur, beliaulah yang memberi titik pada huruf-huruf hijaiah pada mushaf Al-Qur’an.

Ahmad al-Ajli berkomentar tentang Abul Aswad, “Ia seorang yang tsiqah dan dikenal sebagai orang pertama yang mengkaji ilmu nahwu.” Menurut sejarawan al-Waqidi, ia masuk Islam ketika Rasulullah saw. masih hidup.

Sejarawan lain mencatat, ia ikut dalam Perang Jamal dalam barisan Ali bin Abi Thalib. Ali memberikan mandat kepadanya untuk meletakkan dasar-dasar ilmu nahwu karena ia mendengar banyak kasus lahn (kesalahan pengucapan bahasa Arab karena pengaruh dialek asing).

Abul Aswad memperlihatkan teori dan dasar yang dituangkannya, hingga Ali berkata, “Alangkah baiknya contoh (dalam bahasa Arab disebut Nahwu-pen.) yang engkau contohkan!” Mulai saat itu, hasil pekerjaannya itu dinamakan “Ilmu Nahwu.”

Menurut Muhammad bin Salam al-Jumahi, Abul Aswad adalah orang pertama yang meletakkan teori dan dasar pembahasan fa’il (subjek), maf’ul (objek), mudhaf (frase) dan harakat rafa’, nashab, jar, dan jazm. Lalu teori ini diteruskan dan dilanjutkan Yahya bin Ya’mur.

Abu Ubaidah mengatakan, “Abul Aswad belajar ilmu bahasa Arab dari Ali bin Abi Thalib. Lalu ia mendengar ada seseorang yang membaca salah satu ayat,

أَنَّ ٱللَّهَ بَرِىٓءٌ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُۥۚ

Bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.”(QS At-Taubah: 3)

Lalu ia bergumam, “Saya tidak menyangka permasalahan orang-orang sampai pada batas seperti ini.” Ia pun berkata pada Ziyad, sang gubernur, “Carikan untukku kitab (Al-Qur’an) yang jelas.” Lalu ia pun memberikannya.

Abul Aswad berkata padanya, ‘Apabila engkau melihatku membuka mulutku untuk mengucapkan (fatah) pada suatu huruf, maka berilah satu titik di atasnya. Apabila engkau melihatku menggabungkan mulutku (membaca damah), maka berilah titik di depan huruf tersebut. Jlka saya membaca kasrah, maka berilah titik di bawahnya. Lalu jika saya mengikutkan sesuatu pada suatu huruf dengan bacaan ghunnah (berdengung), maka jadikan satu titik yang ada menjadi dua titik.’”

Inilah langkah besar Abul Aswad. Ada yang bertanya kepadanya, “Dari mana kau memperoleh ilmu nahwu ini?” Ia menjawab, “Aku belajar kaidah-kaidahnya kepada Ali bin Abi Thalib.”

Ilmu nahwu sangat membantu orang-orang non-Arab dalam membaca teks Arab. Terutama teks Arab gundul. Dengan benarnya harakat, seseorang bisa memahami teks Arab dengan pemahaman yang benar. Inilah jasa besar Abul Aswad ad-Duali kepada umat ini.

Beliau wafat di usia 85 tahun di Basrah pada 69 H/688 M. Ilmu nahwu yang beliau wariskan untuk umat ini benar-benar menjadi lautan ilmu bagi umat abad ini. Semoga Allah merahmatinya. Wallahualam.

Tag: