Jalanhijrah.com – Pada hari-hari menjelang lebaran, jalan-jalan ramai dan macet. Orang-orang bergerak untuk kembali ke tanah asal, kampung halaman, atau rumah. Mereka sanggup berlelah. Mereka sadar dan berikhtiar sampai alamat atau sumber pembentukan biografi. Pulang ke rumah, pulang ke masa silam. Tebusan rindu untuk tanah asal itu pembenaran hasrat hidup. Babak kembali ke alamat awal membuat orang-orang mengartikan (ulang) rumah setelah waktu-waktu berlalu dan cerita-cerita bertumbuh atau berserakan.
Kelegaan tiba di rumah dirasakan berkah. Rumah itu melampaui bangunan. Rumah dihuni biografi-biografi terputus atau berharap kekal. Di rumah, orang-orang menandai lagi beragam benda dan menata peristiwa-peristiwa lama. Pilihan meninggalkan rumah dengan kepentingan pekerjaan atau penghidupan berbeda memberi dalil menilik kesilaman saat pulang sejenak. Nostalgia bermunculan meski tak lengkap.
Kita ingin mengerti (lagi) rumah, tak harus berdasarkan adegan pergi dan pulang. Semula, kita memikirkan usaha-usaha membuat rumah. Puisi gubahan Aji Ramadhan (2011) berjudul “Membuat Rumah” menjadi “petunjuk” untuk mengetahui kemauan dan perwujudan. Aji Ramadhan menulis: Sesekali aku ingin membuat rumah untukmu:/ Rumah dari potongan separuh tubuhmu.// Dan izinkan aku untuk mengambil beberapa tulang/ yang telah menancap dalam urat bayanganmu.// Dan jangan memarahiku, ketika lantai rumah itu/ bukan dari darahamu melainkan darah menyalaku. Kita mula-mula ingin mengetahui arsitektur rumah. Puisi justru suguhkan “anatomi:” tubuh mirip rumah. Ikhtiar membuat rumah itu perhitungan dan komposisi bereferensi tubuh. Pembaca melupakan dulu tentang batu, semen, pasir, besi, dan lain-lain.
Rumah terjadi dengan representasi tubuh. Rumah mewujud melalui pembagian peran dan “perebutan” makna ketubuhan. Aji Ramadhan melanjutkan: Darah menyalaku yang seperti kunang-kunang/ terkail ajal dan membuat kau tak dapat padam.// Dan aku ingin di rumah itu penuh napasmu:/ Napas yang getir, segetir aku tergulung olehmu. Kita berimajinasi rumah bukan selesai dengan bentuk, rupa, ukuran, dan warna. Rumah itu tubuh dan hasrat menghuni dalam jalinan biografi. Kita mengerti rumah tak lagi dimengerti berlatar kesilaman sebagai bangunan. Puisi itu mengelak dari anggapan-anggapan baku.
Pada 1992, Medy Loekito menggubah puisi berjudul “Rumah”. Puisi masih dalam pengertian “kewajaran” meski menghadirkan metafora-metafora. Pembaca di bujukan imajiasi fisikal tanpa melupa pergolakan batin. Kita mengutip: kubangun sebuah rumah/ dari balok-balok harapan dan angan-angan/ serta sisa-sisa cinta dan kenangan/ entah mana yang kemudian pergi/ tanpa mengenang siapa aku/ hanya lubang di kaca jendela pecah/ yang menjadi penghubung dunia.
Rumah dibuat untuk dihuni. Di situ, manusia-manusia dalam kaitan peran dan rumusan identitas. Rumah bagi suami-istri berarti rumah berkepentingan tegak dan bersama. Penghuni kadang “terpisah” dan terjerat masalah berakibat pemaknaan rumah mungkin “patah” atau “retak”. Rumah pun alamat saat mengingat pernah bersama, tak lekas memasalahkan pergi dan perpisahan. Rumah menunggu kedatangan, kepulangan, atau kembali.
Rumah: tempat pembentukan keluarga. Rumah itu sah saat keluarga membuat album-album hidup terang-gelap, lurus-bengkok, sial-untung, damai-sengketa, dan lain-lain. Ingatan rumah, ingatan keluarga. Kiki Sulistyo (2012) menggubah puisi berjudul “Pohon Keluarga”, membawa panggilang-panggilan menengok dan hadir kembali di rumah. Kiki mengisahkan: aku telah jauh meninggalkan kalian, masa kecil yang dekil/ kembang waru di halaman rumah kayu, kuningnya begitu heningg/ sehening kening terakhir dikecup bening dini hari/ saat ibu mati dan kita berduka, menajamkan telinga bagi tiap suara/ saudara-saudara yang terpisah ke lain rumah. Pada suatu masa, rumah itu pusat. Penentu rumah itu ibu.
Rumah pun menerbitkan warisan-warisan ingatan setelah kematian dan perpisahan. Kiki mengukuhkan pengertian rumah dan keluarga: jalan melingkar itu masih ada, lebih terjal dan kering, daun-daun kering/ berbunyi nyaring ditiup angin, seperti seruling melengking dari tebing/ dara telah janda dan di bekas rumah kita tiang-tiang tegak menjulang/ tanpa nama-nama, potret lama atau apa saja yang mengingatkan kita/ pada keluarga, pohon silsilah yang patah tepat di batang tengah. Rumah tetap alamat bersama meski pengisahan keluarga sulit dijamin sempurna. Rumah itu ingatan-ingatan untuk dikekalkan atau merapuh.
Kita memunculkan kembali puisi berjudul “Rumah Warisan” persembahan Sugiarta Sriwibawa (1978). Rumah kadang tak tetap. Rumah turut berubah saat keinginan-keinginan melestarikan menghadapi beragam masalah. Ia memberi puisi dengan kesadaran waktu “setelah” kematian atau kehilangan. Rumah mendapat imbuhan sebutan “warisan”.
Kita dibujuk kenangan dan hal-hal terangankan: Adik yang nakal/ Main sembunyi kubu/ Aku yang melongok ditinggal/ Disiul kerabat lalu/// Kamar tamu/ Orang baru/ Pintu pergi/ Bapak mati// Jendela kamar/ Kecewa berpaling/ Dari kembang mawar latar/ Sesal tanam musim kering. Rupa rumah dipengaruhi penghuni dalam membentuk biografi. Kesilaman tak meninggalkan rumah. Pergantian penghuni mungkin menghapus kisah-kisah lama tapi meninggalkan sisa-sisa masih mungkin dipunguti menjadi album.
Pada 1955, Toto Sudarto Bachtiar melalui puisi berjudul “Malam Dingin” memberi peringatan. Ia berada dalam masa orang-orang Indonesia kesulitan memiliki dan menghuni rumah tapi mudah mendapat kutukan dan tanda seru. Ia menulis: Kita terlalu jauh mengenang/ Kapan mendirikan rumah/ Dan tinggal betah/ Padahal kita tak percaya// Rumah-rumah runtuh pada saatnya/ Bagai harapan dan kita/ Tinggal lagi kepercayaan pada hubungan/ Orang-orang pada malam dingin. Hidup bersama di rumah bukan perkara mudah. Kenangan-kenangan tak memadai agar rumah tetap tegak. Masa lalu sulit menjadi jawaban menjadikan rumah membentuk masa depan.
Pada abad XXI, orang-orang makin sulit memiliki rumah. Mereka pun susah betah dan menumbuhkan makna-makna untuk kelak terkenang. Tata cara hidup terlalu berubah. Rumah-rumah masih ada tapi dirancukan iklan-iklan atau pengabaian negara. Orang-orang dalam ragu dan “keterputusan” menjaminkan peradaban merujuk rumah-rumah.
Kini, orang-orang tetap berusaha mengartikan lebaran itu kembali atau pulang ke rumah. Alamat dari masa lalu dan kemungkinan-kemungkinan masa depan. Alamat memuat babak-babak bersama sebelum berpencar dan pergi. Lebaran mengesahkan tubuh-tubuh masuk rumah meski berbeda pengalaman dan pemaknaan. Kehadiran kembali bagi “penjenguk”, tak lagi penghuni.
Berlatar masa 1980-an, Abdul Hadi WM dalam puisi berjudul “Menjenguk Rumah” berbagi tentang cerita kembali sejenak ke rumah (asal). Ia menulis: Ya, aku pernah tumbuh bersama/ tunas-tunas itu, bersama dahan-dahan barunya/ bersama angin dan curahan air hujan/ berlayar di langit luas keberadaan/ mencari jejak yang membuat kami/ bangkit kembali dari ketiadaan atau kekosongan/ di rumah ini, semua seakan ada/ dalam senyum dan duka ibuku. Rumah itu alamat. Ibu menjadi pusat pengisahan rumah. Ibu menentukan arti penghuni dan penjenguk dalam arus waktu. Begitu.



