Jalanhijrah.com-Cerita tentang populernya perempuan telah ada di dalam Al-Qur’an yaitu kisah Maryam dan Ratu Balqis. Maryam merupakan perempuan yang saleh yang di asuh langsung oleh Nabi Zakaria A.s. Bahkan nama Maryam tertuang dalam Al-Qur’an sebagai nama surat.
Sedangkan Ratu Balqis merupakan sosok perempuan yang memimpin kerajaan Saba’ dan hidup pada masa Nabi Sulaiman A.s. Jika kita melihat dua nama tokoh perempuan dalam Al-Qur’an tersebut bahwa Allah Swt meninggikan derajat manusia bagi orang-orang saleh dan bertaqwa kepada Allah Swt, tanpa memandang jenis kelamin.
Potret Perempuan Aceh Masa Dulu
Sejarah mencatat bahwa Aceh pernah dipimpin oleh beberapa orang perempuan atau ratu pada masa silam. Mulai dari Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675), Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678), Sri Ratu Zaqiyatuddin Inayat Syah (1678-1688), Sri Ratu Zainatuddin Kamalat Syah (1688-1699). Jika di hitung secara keseluruhan aceh dipimpin oleh perempuan lebih dari 60 tahun. Hal tersebut merupkan prestasi besar yang diraih oleh kaum perempuan. Karena mereka mampu memimpin Aceh dalam waktu yang begitu lama.
Tidak hanya ratu saja yang terkenal di Aceh, namun ada juga panglima perempuan di Aceh yang terkenal, putri dari Laksamana Mahmud Syah yang lahir 1 Januari 1550 yang bernama Keumalahayati. Sosok Keumalahayati merupakan panglima yang memimpin pasukan yang diberi nama Inoeng Bale (janda pahlawan). Inoeng Bale sendiri dibentuk atas permintaan Keumalahati terhadap prihatinnya musuh yang menyerang Aceh. Permintaan tersebut disetujui oleh Kesultanan Aceh pada saat itu. Beliau adalah perempuan pertama yang menyandang gelar laksamana.
Pertempuran yang paling hebat pada saat itu ialah antara Kesultanan Aceh Vs Belanda. Pada saat itu dua bersaudara yang bernama yaitu Frederick dan Cornelis De Houtman yang memimpin pasukan Belanda bertempur langsung dengan pasukan Keumalahati di dekat dermaga Pelabuhan Aceh. Armada Belanda pada saat itu kalah telak dengan pasukan Laksamana Keumalahati. Pemerintah Indonesia juga memberikan gelar pahlawan nasional kepada Keumalahati pada tanggal 6 November 2017. Sosok Keumalahati merupakan salah satu perempuan hebat yang ada di Aceh, masih banyak sosok-sosok perempuan hebat lainnya yang ada di dunia ini.
Kekaguman sosok perempuan Aceh juga diungkapkan oleh Kopral Marsose veteran Perang Aceh, H.C. Zentgraff ia mengatakan bahwa:
“Para perempuan aceh melampui kaum perempuan bangsa lainnya dalam keberanian dan ketidakgentaran untuk mati. Bahkan, mereka melampui para laki-laki Aceh yang sudah dikenal sebagai lelaki yang kuat dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agama mereka. Mereka menerima hak asasinya di medan juang dan melahirkan anak-anak mereka dintara yang kuat” (H.C.Zentgraaf).
Oleh sebab itu Aceh sebagai daerah yang penuh akan kekayaan sejarah dan juga kekentalan nuansa Syariat Islamnya, maka kita patut berbangga dengan pahlawan kita terutama para pahlawan perempuan. Bahwa perempuan-perempuan juga dapat berpartisipasi di ruang publik dan militer. Prestasi yang mereka raih tidak semudah membalikan telapak tangan namun penuh perjuang dan pengorbanan yang amat luar biasa.
Perempuan Aceh Masa Sekarang
Pasca bencana tsunami menimpa di Aceh dan perdamain MoU Helsinki di Swedia antara Pemerintah RI dan GAM. Perempuan Aceh mengalami kemunduran. Seolah-olah perjuang dan tokoh-tokoh perempuan Aceh hilang begitu saja. Salah satu faktor penyebabnya ialah menguatnya budaya patriaki. Budaya patriaki ini semakin menguat ketika pasca konflik antara Pemerintah RI dan GAM. Padahal kita melihat sejarah bahwasannya Aceh memiliki tokoh perempuan yang tangguh dan progresif. Kebijikan politik yang tidak ramah gender juga faktor penyebabnya kemunduran perempuan di Aceh.
Selanjutnya perempuan saat ini tidak hanya dituntut pandai dalam domestik saja namun juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Misalnya para perempuan yang turut aktif dalam berorganisasi. Dalam berorganisasi para perempuan juga secara langsung bersaing dengan laki-laki. Apalagi perempuan yang mengikuti organisasi akan mendapatkan materi tentang kesetaraan gender dalam berorganisasinya, bagaimana cara bermasyarakat yang baik, menyusun program dengan terencana dan rapi, membuat keputusan dan lain-lain.
Peran aktif perempuan di ruang publik diharapkan memberikan hal yang berdampak positif. Terutama perempuan yang telah memasuki di dunia politik dengan harapan kebijakan yang dibuat dapat seimbang dan tidak bias gender. Peran seperti ini masih minim disadari oleh perempuan terutama di Aceh. Akan tetapi jika tidak disadari mulai dari sekarang akan muncul kebijakan yang merugikan kaum perempuan. Maka perlu perempuan-perempun Aceh masa kini untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan salah satunya melalui panggung politik. Sehingga diskriminatif terhadap perempuan tidak muncul kembali.
Kolaborasi antara Laki-laki dan Perempuan dalam Membangun Peradaban
Meski era sudah berubah bukan berarti kita tidak mampu meraih apapun. Perlu adanya kolaborasi antara laki-laki dan perempuan. Baik kerjasama politik, ekonomi, sosial dan budaya. Sejarah menjadikan kita untuk mereflesikan diri kita hari ini apakah kita sudah lebih baik dari yang dulu? Atau jangan-jangan kita ini lebih buruk dari yang dulu. Dukungan laki-laki amat berperan penting dalam membangun peradaban.
Contohnya ialah para ulama terkenal di Aceh yaitu Abdulrauf Al-Singkili dan Nuruddin Ar-raniry yang mendukung kepemimpinan Sultanah Safaituddin ketika ia memerintah. Salah satu permintaan Sultanah Safiatuddin di bidang ilmu pengetahuan ialah kitab yang berjudul Tibyan Fi Ma’rifat Al-Adyan. Pengantar kitab ini ditulis oleh Nurudin Ar-raniry berisi tentang perdebatan kaum Wujudiah dihadapan Sultan Iskandar Tsani. Kitab ini menjadi rujukan fatwa ulama terhadap ajaran ini dan akibat yang ditimbulkan. Ini adalah salah satu potret sejarah dahulu bagaimana kolaborasi laki-laki dan perempuan dalam membangun peradaban.
Oleh sebab itu keterlibatan perempuan sangat penting dalam mengambil keputusan politik. Misalnya seperti Negara Finlandia yang keterlibatannya mencapai 47% di parlemen. Maka sudah sepatutnya keterlibatan perempuan juga ikut andil dan tak sekedar hanya memenuhi persyaratan untuk ikut kontes politik 5 tahun sekali. Selanjutanya ialah doktrin keagamaan yang kurang tepat terhadap perempuan juga menjadi penghambat majunya perempuan. Perlu adanya ijtihad dan pembaharuan pemahaman Islam yang berkemajuan dan kontensktual sesuai zaman. Sehingga pemahaman agama bukan menjadi penghambat utama perempuan tidak berkembang namun sebalik justru membawa kejayaan. Amin ya rabbal ‘alamin.






