Jalanhijrah.com-Fatma Aliye adalah seorang pelopor hak-hak perempuan di Kekaisaran Ottoman pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Lahir di Istanbul pada tahun 1862, Fatma Aliye adalah putri dari seorang hakim Ottoman. Besar dalam keluarga yang punya kesempatan untuk merasakan pendidikan yang tinggi dan aktif secara politik.
Fatma Aliye memulai aktivismenya dengan menulis artikel dan novel yang membahas nasib perempuan dalam masyarakat Ottoman. Ia menyoroti kurangnya pendidikan dan kesempatan bagi perempuan, serta bagaimana cara dalam adat dan hukum tradisional Utsmaniyah untuk menundukkan perempuan. Tulisannya menjadi unik karena berusaha untuk tidak frontal menentang tradisi, tetapi upaya untuk menggali nilai-nilai tradisi yang tetap menghargai perempuan.
Menuangkan Gagasan dalam Sastra
Gagasan gagasannya yang ia tuangkan dalam bentuk sesah dan novel juga menjadi inspirasi. Sejak karier kepenulisannya berawal dari penerjemahan Volonté, novel karya George Ohnet (1888) tercatat dia telah menulis dan menerbitkan 6 buku dan 9 essay. Namanya juga disebut sebagai novelist petra a dark Turki (Ottoman). Saat itu perempuan tidak diterima untuk terlibat dalam sastra dan literatur, maka Fatma Aliye menulis dengan nama pena. Bukunya diterjemahkan dan diterbitkan sebagai “Meram” dengan nama penulisnya tercantum sebagai “Bir Hanım”. Hal ini membuatnya disebut sebagai “Meram Mütercimi” (Penerjemah Meram).
Fatma Aliye Hanım memiliki ketertarikan yang kuat pada filsafat sejak usia muda. Melalui pengamatannya terhadap berbagai keluarga dan studinya tentang berbagai peristiwa, ia menjadi lebih tertarik pada subjek tersebut. Ia membaca lebih banyak buku, berdiskusi filosofis dengan ayah dan teman-temannya. Bahkan membandingkan filosofi Aristoteles, Plato, Ibnu Rusyd, dan Ghazali dalam banyak diskusinya dengan ayahnya. Pada tahun 1904, ia menulis sejarah filsafat yang pertama, yang mencakup bagian tentang Filsafat Islam.
Novel-novelnya sering menampilkan wanita sebagai karakter utama. Dalam novelnya yang paling terkenal, Muhadarat, ia bertujuan untuk membantah gagasan bahwa wanita tidak dapat melupakan cinta pertama mereka. Dalam novel-novelnya, ia juga mengangkat isu-isu sosial dan memasukkan filsafat. Salah satu contohnya adalah dalam novelnya yang berjudul Udî (Sang Pemain Kecapi). Fatma mengeksplorasi hubungan antara musik dan filsafat melalui sebuah cerita tentang seorang gadis yang mengambil pelajaran musik untuk mencari nafkah di bawah bimbingan ayahnya.
Berperan Melalui Organisasi
Pada tahun 1897, Fatma Aliye mendirikan “Society for the Elevation of Women” yang bertujuan untuk meningkatkan pendidikan dan kesempatan karir bagi perempuan di Kekaisaran Ottoman. Margot Barron dalam “Feminism in Islam: Secular and Religious Convergences” (2013) menjelaskan perkumpulan ini juga berupaya memfokuskan pada pemberdayaan hak wanita dan represi terhadap hak mereka.
Fatma juga terlibat dalam berbagai organisasi yang mempromosikan hak-hak dan pendidikan perempuan, seperti “Müdafaa-i Hukuk Cemiyeti” (Masyarakat Pembela Hak-hak) dan “Turk Kadınlar Birliği” (Persatuan Perempuan Turki), yang berdiri pada tahun 1908 untuk mempromosikan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial bagi kaum perempuan. Melalui organisasi-organisasi ini, ia bekerja untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan perempuan dan perlunya reformasi sosial untuk meningkatkan kehidupan perempuan.
Berkat usahanya yang tak kenal lelah dan dukungan dari para aktivis feminis lainnya, Fatma Aliye berhasil meraih beberapa pencapaian yang signifikan bagi kaum perempuan di Kekaisaran Ottoman. 1914, mereka mendapatkan hak untuk belajar di universitas. Pada 1915, pemerintah Utsmaniyah mengesahkan undang-undang yang memberikan hak kepada perempuan untuk memilih dan mencalonkan diri untuk jabatan publik. Ini merupakan kemenangan besar bagi Fatma Aliye dan gerakan hak-hak perempuan di Kekaisaran Ottoman.
Feminis dan Islam
Dalam perjuangannya untuk hak-hak perempuan dan pendidikan, Fatma Aliye menghadapi banyak tantangan, bahkan setelah ia meninggal. Meskipun ia seorang feminis, dia juga seorang wanita Islam yang baik, itulah yang membuatnya unik. Bahkan Sultan Abdul Hamid II mengakui kontribusinya dan memberinya kehormatan Order of Charity (Şefkat Nişanı).
Kecintaan Fatma Aliye pada hijab juga tercermin dalam tulisan-tulisannya. Itulah yang membuat ia sering tidak sejalan dengan revolusi Mustafa Kemal. Juga, Fatma Aliye tidak pernah bisa menerima penghapusan kesultanan, perubahan alfabet dan penghapusan sultan, dan dia selalu menentang banyak gagasan revolusi Ataturk. Fatma, sekalipun dia seorang yang terbuka, kritis seorang reformis dan mencintai sastra Barat, ia tetap seorang muslimah yang percaya pada nilai-nilai tradisional agamanya.
Warisan Fatma Aliye terus menginspirasi para aktivis feminis di Turki dan dunia Muslim yang lebih luas. Tulisan-tulisan dan aktivismenya mendahului zamannya dan perjuangannya untuk meningkatkan status perempuan dalam masyarakat Ottoman. Namun, ia tetap bertahan dan membuat dampak yang abadi pada kehidupan perempuan di Kekaisaran Ottoman dan sekitarnya. Gagasan dan kisah hidupnya menjadi pengingat untuk menjadi seorang yang memperjuangkan sebuah nilai yang tidak begitu populer kita tidak perlu untuk merendahkan kepercayaan yang sudah mendahului.










