Beranda / Mujadalah / Langit dan Bumi dalam Kekuasaan-Nya: Mengapa Kita Tak Perlu Terlalu Khawatir

Langit dan Bumi dalam Kekuasaan-Nya: Mengapa Kita Tak Perlu Terlalu Khawatir

Langit dan Bumi dalam Kekuasaan-Nya: Mengapa Kita Tak Perlu Terlalu Khawatir

jalanhijrah.com – Dalam seri renungan Ayat al-Kursi ini, kita telah merenungkan dua nama agung yang membuka ayat tersebut: Al-Hayyu (Yang Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Yang Maha Menegakkan dan Memelihara segala sesuatu). Kedua nama itu mengajarkan bahwa seluruh makhluk pada hakikatnya bergantung, sementara hanya Allah yang menjadi sumber kehidupan dan penopang segala yang ada. Setelah memahami fondasi ini, kini kita memasuki bagian yang menjadi pusat kekaguman Ayat al-Kursi, ayat yang oleh Nabi Muhammad saw. disebut sebagai ayat paling agung dalam al-Qur’an. Setelah tahu hal ini apakah kita masih khwatir berlebihan?

Allah berfirman:

“Wasi’a kursiyyuhus-samawati wal-ardh”Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.

Kalimat yang singkat ini mengandung makna yang begitu luas sehingga para ulama besar sepanjang sejarah Islam memberikan perhatian khusus dalam menafsirkannya. Menariknya, perbedaan penafsiran yang muncul tidak mengurangi keagungan maknanya, tetapi justru semakin memperlihatkan betapa terbatasnya kemampuan manusia untuk memahami kebesaran Allah.

Lebih Besar dari Segala yang Dapat Kita Bayangkan

Sebagian ulama memahami kata kursi sebagai tempat kedua kaki. Dari pemahaman ini lahirlah terjemahan footstool dalam sebagian literatur Barat. Namun sejumlah mufasir besar seperti Al-Tabari dan Al-Razi menilai bahwa makna tersebut terlalu sempit untuk menggambarkan keluasan yang dimaksud ayat. Mereka lebih cenderung memahami kursi sebagai simbol kekuasaan ilahi yang agung, bahkan sebagian mengaitkannya dengan ‘Arsy, singgasana Allah yang melampaui seluruh alam ciptaan.

Dalam berbagai riwayat yang dinukil oleh Ibnu Kathir, terdapat penjelasan dari Ibnu Abbas ra., sahabat yang dikenal sebagai penerjemah dan penafsir utama al-Qur’an. Ia menggambarkan bahwa perbandingan antara langit dan bumi dengan Kursi Allah ibarat sebuah cincin kecil yang dilemparkan ke tengah padang pasir yang sangat luas tanpa batas.

Bayangkan sejenak gambaran itu.

Seluruh bumi yang kita tempati, matahari yang menjadi pusat tata surya kita, miliaran bintang di galaksi Bima Sakti, bahkan seluruh alam semesta yang dapat diamati manusia dengan teleskop modern, semuanya tidak lebih dari sebuah cincin kecil jika dibandingkan dengan Kursi-Nya. Analogi ini tentu bukan untuk memberikan ukuran fisik yang dapat dihitung, melainkan untuk menanamkan kesadaran tentang betapa jauhnya kebesaran Allah melampaui imajinasi manusia.

Ketika kesadaran ini hadir, perspektif kita terhadap hidup pun berubah. Masalah yang selama ini terasa begitu besar, kekhawatiran yang memenuhi pikiran, atau kesulitan yang tampak mustahil diatasi, semuanya kembali pada ukuran yang sebenarnya ketika diletakkan di hadapan Tuhan yang Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.

Ilmu yang Meliputi Segala Sesuatu

Al-Razi menawarkan lapisan makna yang sangat mendalam. Menurutnya, kursi tidak harus dipahami semata-mata sebagai entitas kosmis, tetapi juga dapat dipahami sebagai lambang ilmu, kekuasaan, dan otoritas Allah. Sebagaimana kata “mahkota” sering digunakan untuk mewakili seorang raja beserta pemerintahannya, demikian pula kata kursi dapat merujuk kepada keluasan pengetahuan dan kedaulatan Allah.

Dalam pemahaman ini, ayat tersebut seakan berkata bahwa ilmu Allah meliputi seluruh langit dan bumi. Tidak ada satu peristiwa pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Tidak ada satu gerakan hati, satu bisikan pikiran, atau satu lembar daun yang jatuh tanpa berada dalam cakupan ilmu-Nya.

Makna ini sangat relevan dengan salah satu kegelisahan terbesar manusia modern: perasaan tidak terlihat dan tidak diperhatikan.

Banyak orang menjalani hari-harinya dengan keyakinan bahwa perjuangan mereka tidak dipahami siapa pun. Ada air mata yang jatuh tanpa saksi, kecemasan yang disimpan sendiri, dan luka yang tidak pernah diketahui orang lain. Dalam keadaan seperti itu, manusia mudah merasa sendirian.

Ayat al-Kursi datang membawa penawar. Jika ilmu Allah benar-benar meliputi langit dan bumi, maka tidak ada satu pun kisah hidup manusia yang tersembunyi dari-Nya. Tidak ada doa yang hilang di ruang kosong. Tidak ada tangisan yang menguap tanpa diketahui. Tidak ada kesabaran yang terlewat dari catatan-Nya.

Semakin Besar Allah, Semakin Dekat Perhatian-Nya

Sering kali manusia mengira bahwa sesuatu yang sangat besar pasti jauh dari hal-hal kecil. Namun logika ini tidak berlaku bagi Allah. Justru karena kebesaran-Nya tidak terbatas, tidak ada satu detail pun yang terlalu kecil untuk luput dari perhatian-Nya.

Inilah salah satu pesan paling menenangkan dari bagian Ayat al-Kursi ini. Ketika kita merasa lemah, tidak berarti, atau tenggelam dalam masalah yang tampaknya tidak dipedulikan siapa pun, Allah mengingatkan bahwa Dia adalah Tuhan yang Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kebesaran-Nya tidak menjadikan-Nya jauh, tetapi justru memastikan bahwa seluruh alam berada dalam pengawasan-Nya.

Karena itu, ayat ini bukan hanya mengajarkan tentang keluasan kosmos. Ia juga mengajarkan tentang keluasan rahmat dan perhatian Allah. Di hadapan-Nya, kita memang sangat kecil. Namun justru karena itulah kita tidak perlu memikul beban dunia sendirian. Tuhan yang mengatur galaksi-galaksi juga mengetahui isi hati hamba-Nya yang paling tersembunyi.

Tag: