Ketua Pengurus Daerah Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Aceh Besar Cut Rezky Handayani menyatakan pengajian rutin yang dilaksanakan di setiap gampong menjadi bagian memperkuat silaturahim dan mempertajam ilmu agama.
“Pengurus BKMT di seluruh gampong-gampong dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar dapat meningkatkan pengajian rutin guna memperkuat ilmu agama dan juga silaturahim sesama warga,” katanya di sela-sela bersilaturahim dengan pengurus BKMT Kecamatan Seulimuem di Gampong Keunaloe, Aceh Besar, beberapa waktu lalu.
Lewat pengajian rutin tersebut masyarakat khususnya ibu-ibu dapat memperdalam berbagai kajian agama termasuk pelaksanaan ibadah yang dilaksanakan sehari-hari.
Menurut dia mencari ilmu itu tidak mesti harus di suatu tempat yang besar, tetapi bisa juga di satu rumah yang dilaksanakan secara bergantian, seperti membuat arisan yang dilaksanakan secara rutin baik di tingkat lorong, gampong dan kecamatan.
“Mari kita terus memperdalam ilmu agama lewat kegiatan pengajian rutin baik yang digelar oleh BKMT khususnya dan organisasi lainnya,” katanya.
Menurut dia peningkatan pemahaman agama juga menjadi bagian dalam mendidik anak-anak menjadi generasi berakhlakul karimah dan berkarakter Islami serta dapat membentengi dari pengaruh perbuatan negatif. Ia menambahkan kunjungan ke Kecamatan Seulimuem tersebut juga bagian dari memperkuat silaturahim dan pengajian perdana ke Pengurus Cabang BMKT tingkat kecamatan di Meunasah Gampong Keunaloi.
Ia juga memberikan apresiasi kepada ketua BKMT Kecamatan Seulimuem yang sudah menjadi tuan rumah kegiatan perdana BKMT Kabupaten Aceh Besar.
Gerakan Ayo Ngaji
Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyatakan, bahwa siap menggalakkan Gerakan Ayo Mengaji di sekolah wilayah setempat.
“Gerakan ini sebenarnya sudah kami laksanakan di Sumatera Utara beberapa tahun lalu,” ucap Kabid Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kanwil Kemenag Provinsi Sumut Muksin Batubara, di Medan, Jumat.
Pihaknya melanjutkan, bahwa gerakan itu dimulai dari seluruh staf Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Utara.
Kemudian, sudah disampaikan kepada guru-guru pendidikan agama Islam di sekolah melalui tuntas baca tulis Alquran yang diterapkan di tingkat SD, SMP, SMA maupun SMK.
Menurutnya, Gerakan Ayo Mengaji di sekolah ini merupakan langkah yang tepat dan cermat agar siswa di sekolah umum juga bergiat dalam membaca Alquran.
“Semoga Gerakan Ayo Mengaji ini meningkatkan semangat siswa rutin membaca Alquran, sehingga tidak ada lagi siswa yang tidak bisa membaca Alguran,” ungkap Muksin.
Selain itu, Gerakan Ayo Mengaji ini adalah rangkaian empat komponen dalam pembelajaran Agama Islam di sekolah umum, yaitu Aqidah Akhlak, Alquran dan Hadits, Fiqh, serta Sejarah Kebudayaan Islam.
Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama untuk mengetahui pelaksanaan Gerakan Ayo Mengaji nantinya.
“Dari situ, kemudian kita membuat peta jalan dan strateginya, sehingga gerakan ini sesuai dengan tujuan,” jelas Muksin.
Ketua Tim Kerja Pendidikan Agama Islam Menengah Atas Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kanwil Kemenag Provinsi Sumut Muhammad Asrul mengatakan, gerakan ini nantinya diterapkan guru-guru pendidikan Agama Islam.
Hal ini sejalan dengan school religious culture yang telah diluncurkan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama.
“Dalam pelaksanaannya nanti, kita bisa kolaborasi organisasi siswa seperti rohani Islam. Kemudian sebelum memberi mata pelajaran, wajib membaca Alquran terlebih dahulu,” ucap Asrul.
Direktorat Pendidikan Agama Islam Kemenag akan menggalakkan Gerakan Ayo Mengaji di sekolah. Terobosan ini diharapkan dapat menjadi jawaban atas permasalahan keterbatasan literasi tuntas buta aksara Alquran.
Gerakan ini akan dituangkan dalam Surat Keputusan Bersama lintas kementerian, yakni Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Dasar Menengah, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Hukum, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
“Kita semua sedang berjihad fisabilillah. Barangsiapa yang mengajarkan agama dan Alquran adalah berjihad. Siap atau tidak bapak dan ibu sekalian memberikan pengajaran kepada sekitar 40 juta peserta didik beragama Islam di seluruh jenjang pendidikan?,” kata Direktur Pendidikan Agama Islam Kemenag M Munir, di Bogor, Jawa Barat.
Pengajian rutin yang dilaksanakan di berbagai pelosok gampong, seperti yang didorong oleh Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Aceh Besar, memiliki peran strategis dalam memperkuat kebangsaan. Dalam keterangannya, Ketua BKMT Aceh Besar, Cut Rezky Handayani, menegaskan pentingnya kegiatan ini tidak hanya untuk mempertajam ilmu agama, tetapi juga sebagai wadah mempererat silaturahim antarwarga. Pandangan ini membuka cakrawala tentang bagaimana pengajian dapat menjadi salah satu pilar penguatan kebangsaan di Indonesia.
Dalam konteks sosial, pengajian rutin adalah ruang yang mendukung harmonisasi masyarakat. Di tengah berbagai perbedaan latar belakang, warga yang berkumpul dalam satu forum pengajian memiliki kesempatan untuk mempererat persaudaraan, menanamkan nilai toleransi, dan saling mengenal lebih dekat. Hal ini menjadi pondasi penting bagi kebangsaan, terutama di Indonesia yang dikenal dengan keberagamannya. Silaturahim yang terjalin melalui pengajian menciptakan solidaritas yang dapat memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
Lebih dari itu, pengajian menjadi sarana penguatan nilai-nilai keagamaan yang esensial untuk menjaga karakter bangsa. Dengan pemahaman agama yang lebih baik, masyarakat diajarkan untuk mengedepankan akhlak mulia, kejujuran, dan rasa tanggung jawab. Nilai-nilai ini tidak hanya mendukung kehidupan beragama, tetapi juga memperkuat prinsip-prinsip kebangsaan, seperti gotong royong, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap hukum.
Di era modern ini, pengajian juga memiliki potensi untuk menjadi medium kontra-narasi terhadap radikalisme dan ekstremisme. Dengan pengajian yang memberikan pemahaman agama yang moderat dan inklusif, masyarakat dapat dilindungi dari ajaran-ajaran yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan kebhinekaan. BKMT sebagai organisasi yang menaungi majelis taklim memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa pengajian yang dilaksanakan di setiap gampong mendukung penguatan harmoni dan persatuan bangsa.
Manfaat lain dari pengajian adalah kontribusinya dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Pengajian yang tidak hanya membahas ilmu agama tetapi juga wawasan sosial, ekonomi, dan kebudayaan dapat menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi lebih religius, tetapi juga lebih produktif dalam berbagai aspek kehidupan.
Upaya BKMT Kabupaten Aceh Besar dalam mendorong pengajian rutin patut diapresiasi. Gerakan ini menunjukkan bahwa pengajian bukan hanya kegiatan spiritual, tetapi juga memiliki dampak nyata dalam menjaga dan memperkuat kebangsaan. Di tengah tantangan globalisasi dan perpecahan yang sering mengancam, pengajian menjadi oase untuk membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan nasionalis.
Indonesia, dengan keberagamannya, memerlukan wadah-wadah seperti pengajian untuk memperkuat fondasi persatuan. Dengan menjadikan pengajian sebagai ruang silaturahim dan penguatan ilmu, masyarakat tidak hanya memperdalam iman tetapi juga memperkokoh nilai kebangsaan. Ini adalah langkah kecil dengan dampak besar untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.






