Beranda / Milenial / Haddad Alwi di Synchronize Fest: Menghadirkan Muhammad, Menembus Sekat

Haddad Alwi di Synchronize Fest: Menghadirkan Muhammad, Menembus Sekat

Semua orang, terlepas dari penampilan, memiliki hak yang sama untuk mencintai Rasulullah. Pesan ini digaungkan Haddad Alwi lewat panggung Synchronize Festival di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, Minggu (6/10/2024) malam.

“Anda yang pakai topi terbalik, Anda yang pakai anting satu, Anda yang pakai tato, Anda punya hak yang sama untuk mencintai Rasulullah,” ucap penyanyi religi Haddad Alwi dihadapan ribuan penonton konser.

Teriakan Haddad Alwi sontak disambut sorak sorai dan tepuk tangan para penonton. Panggung Forest malam itu pun berubah menjadi lautan kerinduan kepada Nabi Muhammad Saw.

Malam itu, Haddad Alwi dan “partner kecilnya”, Sulis tampil bersama setelah lebih dari 20 tahun absen manggung. Dalam konser tersebut kalangan anak muda datang dari latar belakang berbeda. Ada yang tidak berhijab, berpakaian kasual, bahkan ada yang berpakaian terbuka, dan bertato.

Haddad Alwi dan Sulis tak kuasa menahan air mata saat menjelaskan betapa berkesannya momen tersebut: “Biasanya kita tampil di acara-acara yang berbeda, dan saya sangat mengapresiasi Synchronize Fest yang memberi panggung kepada kami setelah sekian lama,” ungkap Sulis. Synchronize Festival merupakan pagelaran musik tahunan yang menampilkan musik multi-genre. Ada enam panggung yang digunakan secara bergantian oleh musisi-musisi top tanah air yang datang dari dekade 1960-an hingga 2000-an.

Synchronize Fest digelar selama tiga malam, dan berhasil mendatangkan puluhan ribu audience. Beragam ekspresi tertuang saat muda-mudi itu memadati setiap panggung, berjingkrak, tersedu-syahdu bersama musisi favoritnya.

Mereka yang menyaksikan penampilan Haddad Alwi pun mengalami pengalaman spiritual yang mendalam. Tidak sedikit penonton yang mengaku terharu dan meneteskan air mata ketika ikut bersalawat dan mendengarkan pesan-pesan cinta dalam setiap lirik yang dibawakan.

Silvi, salah satu penonton yang turut dalam pertunjukan Haddad Alwi mengungkapkan bahwa dirinya tak kuasa menahan tangis saat bait-bait dilantukan Haddad Alwi.

“Hangat melihat penonton, melihat gemuruhnya orang-orang mengagungkan Rasulullah. Speechless, begitu banyak orang yang merindukan Rasulullah biarpun kondisi konser, banyak penonton memakai pakaian kurang baik,” ujar Silvi dalam bincang bersama Haddad Alwi. Silvi, salah satu penonton konser Haddad Alwi di panggung Synchronize Festival 2024. (Foto: Hadad Alwi Pro)

Haddad Alwi menyebut mereka adalah generasi yang tumbuh di era orang saling hujat dan saling fitnah. Mereka tumbuh dalam tekanan persaingan hidup yang semakin menghimpit perasaan.

Saat itulah ketika nama Rasulullah diserukan, “Muhammadku… Muhammadku..” dalam lagu Rindu Muhammadku, mereka seperti baru tersadar bahwa nama itulah jawaban atas kegelisahan yang mereka hadapi.

Maka, dalam haru biru, puluhan ribu anak-anak muda itu ikut menyeru,

يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفٰی يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفٰی يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفٰی بَلِّغْ مَقَا صِدَنَا وَاغْفِرْ لَنَا مَامَضٰی يَاوَاسِعَ الْكَرَمِ

Demi cinta-Mu, Ya Allah Pada Muhammad, Nabi-Mu Ampunilah dosaku Wujudkan harapanku Muhammadku, Muhammadku, dengarlah seruanku Aku rindu, aku rindu padamu, Muhammadku

Bagi Haddad Alwi semua orang punya hak yang sama untuk mencintai Rasulullah tanpa terkecuali.

“Orang punya jalannya masing-masing, saya ingin anak-anak muda yang ikut berkumpul bershalawat jangan sampai mereka punya jarak dengan kita,” timpalnya.

Ia menyoroti stigma yang sering disematkan orang-orang kepada anak muda yang punya penampilan berbeda. Haddad Alwi menyebut tidak patut rasanya jika cepat menghakimi seseorang hanya karena penampilannya saja.

“Itu nanti dulu di ruang yang berbeda. Tetapi kalau yang namanya cinta jangan kita usik, apalagi cinta mereka buat Allah dan rasul itu penting sekali,” ucap Haddad Alwi.

Haddad Alwi mengatakan semua orang punya proses masing-masing. Mereka mesti diberikan ruang yang sama.

“Kasih ruang bagi mereka, peluk mereka, mereka butuh itu. Siapa pun tidak boleh merasa lebih mulia daripada orang lain,” ujarnya. Dengan inovasi dalam musik, termasuk elemen rap, Haddad berhasil menjadikan lagu-lagunya lebih menarik bagi generasi sekarang. Ia berkomitmen untuk terus berkarya dan menyampaikan pesan dakwah melalui musik, meskipun menghadapi tantangan dalam industri musik religi.

“Anak muda zaman sekarang dikasih yang sulit-sulit enggak mau. Maka saya ajak shalawat dengan gaya rap,” tuturnya.

Strategi dakwah Haddad Alwi melalui musik religi 

Sebagai musisi atau penyanyi religi solo yang memulai karier sejak tahun 1997, Haddad Alwi tak pernah redup. Tak peduli ketika Ramadhan datang, usai Ramadhan pun ia tetap berkarya dengan lagu religinya untuk menyebarkan ajaran Islam.

Mulai  2006 ia menyisipkan tausiah ringan tentang makna cinta kepada Rasulullah saw dan bagaimana mewujudkan dalam laku sehari-hari.

Meski begitu ia punya pengalaman yang tak mengenakkan. Pelantun tembang the way of love itu pernah dipersekusi dan diminta turun dari panggung, hingga jadwal manggungnya dibatalkan. Hal itu pun diakui sebagai titik terendah dalam kariernya.

Pengusiran Haddad Alwi ini sempat beredar viral di media sosial. Haddad menyebut telah memaafkan orang-orang yang membenci ataupun memfitnah dirinya.

Penelaah musik independen, Rudyanto menyebut musik religi terutama di Indonesia saat ini sudah tidak begitu semarak apalagi sudah banyak band atau musisi pop atau dangdut. Mengeluarkan single bahkan album religi pun tetap sama tidak menjadi pusat perhatian utama bagi beberapa kalangan.

Namun bukan berarti penggemar musik religi hilang begitu saja tergerus perubahan tren. Pasarnya masih selalu ada meski musisi-musisi yang murni di jalur religi biasanya baru mengeluarkan album di bulan Ramadhan. Tetapi tetap ada musisi dan penyanyi yang berusaha konsisten mengembangkan lagu relligi sebagai penyampaian dakwah.

Musik religi punya nilai tersendiri bagi penggemarnya. Namun mendengarkan musik religi tak sebatas lewat telinga tapi hati. Hati dan sense of art dari manusia pembuatnya. Musik religi bagaimanapun punya kelebihan sendiri. Mampu menggugah kesadaran atas kebiasaan buruk seseorang lewat syair-sya’irnya yang menyentuh. Syair yang kuat akan mengikat pendengarnya apalagi dikemas dalam sebuah lagu akan terjadi sinergitas yang powerfull.