Beranda / Mujadalah / Menyapa Agama-Agama dalam Sejarah dan Teologi (2/2)

Menyapa Agama-Agama dalam Sejarah dan Teologi (2/2)

Pertikaian ini tidak berhenti pada wilayah politik semata. Pertikaian itu berlanjut pada ranah perdebatan teologis. Pertikaian politik yang diramu secara sakral oleh doktrin teologis memunculkan pertentangan baru yang bersifat batiniyah. Sampai kapan pun pertikaian ini tidak akan menemukan titik kesesuaiannya. Karena perdebatan teologis mengandung beberapa hal yang tidak pernah dipahami oleh salah satu pihak yang mempunyai standar sendiri . Wilayah ini adalah wilayah keyakinan.

Isu-isu tentang trinitas, ketuhanan yesus dan penyaliban (crucification) yang menjadi doktirn sentral dalam Kristen tidak akan mendapatkan celah sedikit pun dalam keimanan umat Islam. Begitu pula tuduhan teologis yang  dilancarkan oleh Kristen terhadap Islam bahwa Islam adalah agama yang menuruti hawa nafsu, khususnya seksual, dan Muhammad adalah agen syaitan yang mengabarkan agama baru tidak juga bisa mempertegas keyakina umat Kristen dan menghancurkan keimanan umat Islam.

Isu-isu kontroversial yang dilontarkan oleh kedua agama itu tidak akan pernah bisa disatukan. dalam medan dialogis. Setiap pihak mempunyai standar tersendiri untuk membenarkan dirinya. Pandangan itu pun diselimuti oleh kabut kecurigaan dan dendam sejarah yang sudah melekat pada masing-masing pihak. Untuk menapaki zaman baru yang lebih indah dan harmonis Islam dan Kristen harus melakukan islah (rekonsiliasi) baik yang bersifat politik (sejarah) maupun teologis.

Sejarah telah berlalu. Ia tidak harus digunakan sebagai sandaran dan legitimasi pihak tertentu untuk menapaki masa depannya. Pembenahan diri dan refleksi panjang terhadap sejarah dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan merupakan keniscayaan.

Hubungan harmonis antar keduanya juga menuntut untuk membuang double standar yang menjadi landasan kecurigaan mereka baik yang bersifat teologis maupun politis. Pelepasan diri dari rasa curiga dan dendam itu akan membawa Islam dan Kristen pada dialog yang intensif yang didasarkan pada premis awal “pengakuan timbal balik” (mutual recognition) yang sehat.

Sebenarnya sejarah pertemuan antara Islam-Kristen tidak selalu diwarnai oleh perjumpaan peradaban yang melulu bersifat negatif. Selama beberapa abad umat Kristen timur berada di bawah kekuasaan yang mampu memberikan kebebasan beragama yang cukup luas. Simbol perdamaian Islam-Kristen dalam sejarah sering dinostalgiakan pada masa ini. Demikian pula Kristen telah meyumbangkan hal yang berharga bagi Islam. Perjumpaan Islam dengan Kristen Nestorian, umpama di Syiria dan Persia, telah mengenalkan Islam pada kebudayaan hellenistik dan India. Dengan sumbangan ini Islam dapat meramu dengan canggih peradabannya. Pertemuan ini pun mendapatkan hal yang setimpal bagi Kristen karena masa selanjutnya ia mendapatkan kembali kebudayaan itu dari Islam lewat Spanyol.

Kerja sama antar Islam-Kristen yang telah lama terjalin merupakan fakta sejarah yang harus dipertahankan. Optimisme dialog beragama pun akan tumbuh. Ia pun menjadi bukit bahwa agama Islam-Kristen mempunyai potensi kontruktif dalam membangun sejarah peradaban manusia. Kerja sama antar keduanya merupakan keniscayaan pada dewasa ini.

Era global yang mendobrak sekat geografis maupun kultural setiap negara bisa menjadi hal yang menyedihkan dan juga menguntungkan bagi adanya dialog. Jika  pertemuan antar peradaban dunia itu tidak disertai oleh sikap saling pengetian dan toleran sejarah kelam manusia akan mencapai pada jilid yang tak terhitung jumlahnya. Mampukah agama dengan nilai humanis-transendentalnya mampu melaksanakan itu semua. Jawaban yang mungkin bagi kita saat ini adalah tergantung kerja sama global antar umat beragama itu sendiri.

Hatim Gazali

Pemimpin Redaksi Islamina.id | Dosen Universitas Sampoerna | Ketua PERSADA NUSANTARA | Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU