Beranda / News / JI Bubar, Moeldoko: Pemerintah Perlu Hadir Dampingi Eks Anggota JI

JI Bubar, Moeldoko: Pemerintah Perlu Hadir Dampingi Eks Anggota JI

Kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI) membubarkan diri dan menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pernyataan pembubaran dilakukan di sebuah hotel di kawasan Sentul, Bogor, beberapa hari lalu. 16 tokoh JI membubuhkan tanda tangan pada poin-poin pembubaran JI antara lain mantan pimpinan JI Para Wijayanto, Abu Dujana, dan lain-lain. Pernyataan pembubaran itu dibacakan oleh Abu Rusydan.

Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengatakan pembubaran organisasi Jamaah Islamiyah (JI) merupakan sesuatu yang positif. Moeldoko mengatakan pemerintah perlu hadir sebagai pendamping bagi eks anggota JI.

“Pembubaran JI perlu kita perkuat lagi. Perkuat dalam arti bahwa ini organisasi besar. Maka perlu kehadiran dari semua kita untuk bisa menjadi pendamping, bisa menjadi penasehat dan seterusnya,” kata Moeldoko, Senin (22/7/2024).

Mantan Panglima TNI ini mengatakan pendampingan bagi eks anggota JI diperlukan sehingga mereka bisa memiliki tanggung jawab yang sama dengan yang lain. “Dalam kerangka ikut terlibat dalam pembangunan nasional. Itu poinnya,” ucap Moeldoko.

Video deklarasi pembubaran JI berdurasi 3 menit 20 detik itu diunggah di akun YouTube Arrahmah_id. Dalam keterangan tertulis, deklarasi pembubaran ini dilakukan oleh di kawasan Bogor pada 30 Juni 2024.

Dalam video itu tampak seorang pria membacakan pernyataan dengan 15 orang berdiri di belakangnya. Pria yang membacakan deklarasi itu disebut sebagai petinggi Jamaah Islamiyah bernama Abu Rusydan.

Abu menyatakan pembubaran berdasarkan kesepakatan majelis para senior dengan para pimpinan lembaga pendidikan forum pondok pesantren yang berafiliasi dengan Al-Jamaah Al-Islamiyah.

Laporan dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) membenarkan keaslian pernyataan video pada 30 Juni yang dibuat oleh 16 pemimpin JI yang mengumumkan bahwa mereka membubarkan jaringan ekstremis tersebut.

JI merupakan Kelompok militan yang terkait dengan Al-Qaeda yang dituduh mendalangi beberapa serangan paling mematikan di Indonesia. Termasuk pengeboman klub malam di Bali pada 2002 yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meyakini anggota JI yang tersisa akan mengikuti langkah pimpinan mereka. Kepala BNPT Komisaris Jenderal Mohammed Rycko Amelza Dahniel mengatakan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri selama bertahun-tahun telah melakukan pembinaan, komunikasi, silaturahmi, hingga melaksanakan edukasi dan rehabilitasi dengan menggunakan hati.