Beranda / Milenial / 5 Negara yang Bisa Jadi Tujuan Kabur Versi Yenny Wahid

5 Negara yang Bisa Jadi Tujuan Kabur Versi Yenny Wahid

Seruan #KaburAjaDulu masih menggema di sejumlah media sosial hingga sekarang. Putri kedua Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid pun ikut mengomentari tren ini di instagram pribadinya.

Belakangan banyak warganet yang geram dengan kebijakan pemerintah, khususnya generasi muda. Mereka lantas mempertimbangkan untuk mencari peluang di luar negeri sebagai respons terhadap situasi dalam negeri yang mereka anggap semakin tidak kondusif.

Yenny mengingatkan agar keinginan Kabur Aja Dulu tak hanya mengikuti tren, tetapi juga dipertimbangkan segi kemampuan finansial dan kemauan belajar bahasa asing.

“Daripada kena mental health gegara capek mikirin kondisi negeri yang makin lama makin gak ramah pada kepentingan rakyat dan demokrasi, memang mending healing dulu aja keluar negri bagi yang mampu, baik mampu secara finansial maupun mampu secara niatan,” kata Yenny dalam unggahan video di akun pribadinya, Senin (24/2/2025).

Yenny lantas memberi rekomendasi sejumlah negara yang bisa jadi destinasi untuk Kabur Aja Dulu.

Ada lima negara yang bisa dieksplorasi bahkan warga Indonesia bisa mendapat bayaran ketika bekerja di sana lantaran negara tersebut membutuhkan tenaga produktif untuk menunjang ekonomi lokal.

1. Kanada

Negara kedua terbesar di dunia setelah Rusia ini membutuhkan pekerja di beberapa daerah karena jumlah penduduknya mulai berkurang.

Bagi pendatang yang ingin pindah diberi  insentif bahkan ada pihak-pihak tertentu  yang membantu mencarikan pekerjaan.

Pemerintah setempat juga memberikan subsidi rumah pertama diskon  hingga $3.000 atau sekitar Rp 34 juta.

2. Jepang

Jepang menjadi salah satu negara yang pemerintah setempat siap memberikan insentif lebih sampai 3.000.000 yen atau sekitar 321 juta buat yang tinggal di desa dan bantu ekonomi lokal.

Bahkan, di beberapa daerah ada rumah kosong yang bisa ditempati.

3. USA

Amerika Serikat dibeberapa daerah seperti Tulsa, Oklahoma mereka mau menerima pendatang dari negara lain bahkan mampu membayar pekerja hingga USD10.000 atau sekitar 160 juta buat pendatang yang mau pindah ke sana.

4. Spanyol

Beberapa kota kecil di Spanyol juga membutuhkan pendatang baru dan memberikan hibah hingga 20.000 euro atau sekitar Rp 340 juta.

“Cocok nih buat kamu yang mau memulai hidup baru,” kata Yenny.

5. Italia

Pemerintah Italia juga memberi tawaran menarik, pemerintah setempat punya program buat pendatang yang mau pindah dan menetap.

Mereka memberikan subsidi senilai 30.000 euro atau sekitar Rp510 juta jika bersedia menetap dan buka usaha di beberapa desa kecil di Italia.

untuk diketahui, tagar #KaburAjaDulu tiba-tiba mencuat di media sosial. Banyak yang menjadikannya lelucon, tetapi tak sedikit yang memaknainya sebagai kritik serius terhadap kondisi tata kelola pemerintahan di Indonesia.

Sebuah ekspresi frustrasi yang lahir dari realitas sehari-hari: sulitnya mencari pekerjaan layak, harga kebutuhan pokok yang terus meroket, korupsi yang seolah tak terbendung, serta kebijakan yang sering kali terasa tidak berpihak kepada rakyat kecil.

Di balik tagar itu, terselip kelelahan kolektif yang dirasakan oleh banyak masyarakat. Generasi muda, terutama, melihat masa depan yang semakin buram. Jika dulu slogan yang sering didengar adalah “Kerja Keras, Raih Masa Depan,” kini banyak yang merasa bahwa usaha mereka hanyalah berputar dalam lingkaran tanpa ujung.

Sejumlah cuitan di media sosial mengungkapkan keinginan mereka untuk “kabur” ke negara lain, mencari kehidupan yang lebih stabil dan sistem yang lebih transparan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan berbagai ketimpangan dalam tata kelola pemerintahan. Dari kebijakan ekonomi yang tidak stabil, proyek infrastruktur yang mangkrak atau dikerjakan dengan kualitas rendah, hingga absennya perlindungan bagi kelompok masyarakat yang rentan.

Reformasi yang diperjuangkan dengan darah dan air mata selama bertahun-tahun kerap terasa mundur oleh praktik nepotisme dan oligarki yang semakin mengakar.

Salah satu isu utama yang kerap disebut dalam perbincangan terkait #KaburAjaDulu adalah lapangan pekerjaan yang semakin sulit diakses. Laporan terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tak sebanding dengan peningkatan jumlah tenaga kerja.

Lulusan baru dari berbagai universitas menghadapi realitas pahit: pekerjaan bergaji layak semakin langka, sementara biaya hidup terus meningkat.

Mereka yang memiliki kesempatan mencari penghidupan di luar negeri mulai mempertimbangkan opsi tersebut, bukan karena tidak cinta tanah air, tetapi karena di dalam negeri mereka merasa tak diberi ruang untuk berkembang.

Namun, di tengah gelombang pesimisme ini, masih ada suara yang menolak untuk menyerah. Tagar ini bukan sekadar seruan untuk melarikan diri, tetapi juga bisa dilihat sebagai alarm bagi pemangku kebijakan bahwa ada yang tidak beres dalam sistem yang ada.

Pemerintah perlu lebih peka terhadap aspirasi masyarakat, terutama generasi muda yang merupakan tulang punggung bangsa ke depan.

Kebijakan yang berpihak kepada rakyat, transparansi dalam pengelolaan anggaran, serta peningkatan kualitas pendidikan dan peluang kerja adalah beberapa langkah mendesak yang harus diambil.

Tanpa perbaikan nyata, bukan tidak mungkin fenomena #KaburAjaDulu akan menjadi kenyataan—bukan sekadar tagar di media sosial, melainkan gelombang eksodus orang-orang terbaik negeri ini ke tempat yang mereka anggap lebih menjanjikan.

Pada akhirnya, apakah #KaburAjaDulu hanya menjadi tren sesaat atau benar-benar menggambarkan fenomena yang lebih dalam?

Yang jelas, ini adalah peringatan keras: bahwa jika pemerintah tidak segera membenahi sistem yang ada, rakyat bisa saja mencari tempat lain untuk menggantungkan harapan mereka.

 

Sumber: https://www.arina.id/berita/ar-av5Zi/5-negara-yang-bisa-jadi-tujuan-kabur-versi-yenny-wahid