Beranda / Mujadalah / Refleksi Interfaith dan Kesan Mendalam tentang Pancasila

Refleksi Interfaith dan Kesan Mendalam tentang Pancasila

Demikian kata Pastor Stuart Barnes Jamieson, anggota Dewan Persekutuan Gereja Carter-Westminster, Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Hal tersebut ia sampaikan dalam bincang-bincang sebagai moderator pada Annual Conference on Difficult Conversations in Interfaith Relations yang digelar oleh World Council of Muslims for Interfaith Relations (WCMIR) di Oakbrook Terrace, Illinois, pada Ahad, 10 November 2024.

Pernyataan Pastor Jamieson terasa relevan, mengingat wacana keagamaan di Amerika Serikat kian menurun. Survei yang dilakukan Pew Research pada Maret 2024 menunjukkan bahwa 80 persen orang Amerika menyatakan peran agama dalam kehidupan mereka semakin menyusut, angka tertinggi dalam sejarah survei ini. Minimnya wacana keagamaan, melemahnya pemberitaan terkait isu keagamaan di media, serta kurang berkembangnya dialog lintas iman menjadi indikasi nyata.

Dalam suasana itu, ketika peserta program Micro-Credential Interfaith and Intrafaith yang dibiayai Dana Abadi Pesantren Kementerian Agama RI dan LPDP memperkenalkan Pancasila—dengan sila pertamanya tentang Ketuhanan Yang Maha Esa—hal tersebut memberikan kesan mendalam bagi Pastor Jamieson.

“Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemanusiaan, persatuan bangsa, dialog, dan keadilan sosial bagi seluruhnya,” ujar Pastor Jamieson merinci lima sila. Ia mengakui bahwa Pancasila mencerminkan demokrasi, penghormatan terhadap keragaman, dan harmoni yang telah menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.

Pancasila dan Relevansi Nilainya di Tengah Dialog Lintas Iman

Situasi sosial dan politik Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat. Di Indonesia, tokoh agama dan organisasi keagamaan memiliki pengaruh besar hingga ke akar rumput. Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menjadi dasar penting yang menarik perhatian banyak peserta konferensi.

Para tokoh agama di konferensi ini menekankan pentingnya ukhuwah basyariyah, atau persaudaraan kemanusiaan. Sebuah adagium menarik disampaikan: “Tidak ada Muslim, Hindu, Yahudi, atau Kristen tanpa menjadi manusia terlebih dahulu.” Dalam konteks ini, sila Kemanusiaan dan ayat Al-Qur’an, seperti Surah Al-Isra ayat 70, yang menyatakan kemuliaan manusia, menjadi sangat relevan.

Selain itu, sila Persatuan Indonesia juga menjadi sorotan. Dengan keragaman suku, budaya, dan bahasa, Indonesia menunjukkan bagaimana perbedaan dapat disatukan dalam bingkai keindonesiaan. Hal ini dipandang serupa dengan keberagaman warga Amerika yang berasal dari berbagai belahan dunia.

Dialog Antariman dan Tantangan Bersama

Konferensi ini membahas sepuluh isu penting, di antaranya:

  1. Gender Dysphoria dan Komunitas Keyakinan
  2. LGBTQ dan Komunitas Keyakinan
  3. Keadilan dalam Konteks Antar dan Intrakepercayaan
  4. Ekstremisme Agama dan Respons Komunitas Keyakinan
  5. Mengatasi Kebencian dan Kekerasan dalam Kelompok Agama
  6. Klaim Kebenaran Antar Tradisi Agama
  7. Kebekuan Ruang Komunitas Keagamaan di Tengah Masyarakat Sipil
  8. Membangun Metodologi Mengatasi Perbedaan Teologi
  9. Prinsip Kepercayaan dalam Kebijakan Luar Negeri AS
  10. Etika Penerimaan Kepercayaan Lain

Sebanyak 100 tokoh agama dari berbagai latar belakang, mulai Islam, Kristen, Katolik, Bahai, Sikh, hingga akademisi studi agama, turut serta dalam konferensi ini.

Pancasila: Inspirasi untuk Dunia

Pastor Jamieson terkesan dengan Pancasila yang menjadi landasan masyarakat Indonesia dalam menciptakan harmoni. Baginya, prinsip-prinsip Pancasila dapat menjadi inspirasi global untuk membangun kehidupan bersama yang damai.

Sebagai masyarakat Indonesia, tentu menjadi kewajiban kita tidak hanya melafalkan Pancasila setiap Senin pagi, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan Indonesia menjaga keberagaman ini menjadi pelajaran penting bagi dunia, termasuk Amerika Serikat, untuk menghidupkan kembali dialog lintas iman dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

 

 

Syakir NF
Jurnalis muda, peserta Micro-Credential Program di Amerika Serikat, beasiswa non-degree Dana Abadi Pesantren Kementerian Agama RI dan LPDP.