Jalanhijrah.com-“Di mana pun kau berkiprah tak ada masalah, yang penting semangat keislaman dan keindonesiaan itu yang harus kau pegang teguh.” (Lafran Pane, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam).

Bertepatan pada momentum  Hari Pahlawan Nasional yang dihelat pada 10 November, Prof Drs Lafran Pane, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan nasional. Anugerah gelar pahlawan yang diterima Lafran Pane bukan main-main, melainkan berdasar pada dedikasi beliau yang luar biasa untuk Indonesia Raya. Hal ini dibuktikan, salah satunya, dengan gagasan cemerlangnya, yaitu ketika kondisi Indonesia masih belum stabil, tepat pada tanggal 5 Februari 1947, ia mendirikan organisasi kemahasiswaan yang diberinama HMI, yang pada fase awal pembentukannya fokus untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Bisa dibayangkan. Ketika Indonesia berada dalam fase sulit, Lafren tergetuk jiwa patriotismenya, kemudian menggerakkan segenap mahasiswa untuk terjun langsung dalam perjuangan fisik. Pasca peninggalan Lafran, HMI tumbuh subur; mencetak kader umat dan bangsa, yang  selalu terlibat aktif dalam mengisi kemerdekaan, bahkan hingga detik ini para kader HMI dan alumni, banyak mengisi pos-pos setrategis dalam pemerintahan. Tidak hanya di pemerintahan, melainkan juga tersebar di berbagai daerah. Mereka secara sadar dan penuh visi kuat, terlibat langsung dalam memajukan bangsa dan negara Islam di bawah landasan Alquran dan hadis.

Sementara itu, Alfian (2017) menegaskan bahwa selain sebagai pendiri pergerakan mahasiswa Indonesia, hal yang patut diteladani dari sosok Lafran adalah keikhlasan dan kesungguhannya dalam berjuang demi kepentingan bangsa dan negara, dan mengimplementasikan ajaran atau nilai Islam dalam konteks keindonesiaan (MI, 09/11).

Baca Juga  Waspada Teror Menjelang Natal

Realitas kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini sedang dalam ancaman yang serius. Hal ini ditandai dengan menguatnya orang atau kelompok yang mempertentangkan antara Islam dan Indonesia. Kelompok ini mengklaim dan berkeyakinan bahwa konsep nasionalisme tidak dikenal di dalam kamus umat Islam. Jadi, sistem nation-state yang dianut Indonesia saat ini merupakan sistem kufur, oleh karenanya umat harus mengingkari sistem tersebut. Tegas kata, menaati sistem yang tidak ada (tidak dikenal) dalam Islam hukumnya haram. Terlebih menjadikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi Indonesia merupakan ‘ketololan’ umat Islam. Sebab, masih menurut kelompok ini, Islam sudah mempunyai sistem sendiri, yakni khilafah.

Jelas. Arah kelompok yang getol mengkamanyekan bahwa demokrasi itu kufur dan thagut dan menamai aparat yang berseragam cokelat sebagai monyet sembari gencar melakukan gerakan untuk mengganti Pancasila dengan khilafah, tentu akan menimbulkan masalah beberapa baru. Pertama, akan terjadi instabilitas keamanan. Kita semua harus fair bahwa setiap agama yang ada di Indonesia telah menanamkan saham masing-masing untuk membentuk karakter dan memerdekan Indonesia. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah ideologi terbuka, agar semua elemen bangsa yang beragam dalam mengekspresikan diri dengan baik , nyaman, tanpa adanya sebuah kekangan. Dan yang bisa begitu adalah Pancasila. Jika Pancasila hendak diganti, sudah bisa dipastikan kekacauan terjadi. Masyarakat akan terpecah-belah. Jika yang demikian terjadi, maka habis sudah bangsa ini.

Baca Juga  Hukum Makan Barang Haram Dengan Mengucap Basmallah

Kedua, mengingkari karakter masyarakat Indonesia. Indonesia adalah negara besar dan masyarakat mempunyai karakter yang unik; ia bisa hidup berdampingan, meskipun berbeda-beda. Maka, muncullah istilah ‘’Bhinneka Tunggal Ika’’. Istilah tersebut muncul bukan dari saduran gagasan orang luar, melainkan dari nenek moyang dan para founding fathers kita, yang sudah barang tentu lebih memahami karakter dan komposisi masyarakat Indonesia. Jadi, jika Pancasila hendak diganti, itu sama saja mengingkari karakter masyarakat Indonesia.

Ketiga, menimbulkan gap dan kecurigaan antar kelompok tiada akhir. Belum apa-apa kelompok ini sudah gencar mengkafirkan sesama pemeluk agama sendiri. Bagaimana jika sudah tercapai tujuannya dan berkuasa? Entahlah.

Nah, dalam situasi dan kondisi memprihatinkan sebagaimana tergambar dalam uraian di atas, gagasan dan pemikiran Lafran Pane terkait visi keislaman dan keindonesiaan patut dikuak lebih dalam. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat wawasan keislaman dan keindonesian para pemuda, khususnya mahasiswa, yang dalam beberapa dekade belakangan ini terlihat sangat memudar, bahkan cenderung menyukai ideologi impor.

Sekali lagi, Lafran Pane adalah sosok nasionalis yang religius. Hal ini dapat ditelisik, sebagaimana disinggung di awal, dari tujuan HMI didirikan. Dalam AD/ART HMI disebutkan; (1) mempertahankan Negara Reublik Indonesia, dan (2) menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.

Hadi Supeno, sebagaimana dikutip dari republika.co.id (09/11) menjelaskan lebih rinci lagi bahwa sosok asketis dan lebih memilih jalan sunyi itu, di tengah tarikan berbagai ideologi, Lafran tetap konsisten memilih Pancasila sebagai ideologi negara, dengan nilai-nilai yang menjiwainya. Terlihat betapa pemikiran Lafran sudah melaju pesat melampui zamannya kala itu.

Baca Juga  Menolak Khilafah: Apakah Pembenci Syariat?

Sebagai penegasan, gelar pahlawan nasional yang diperoleh oleh Lafran Pane harus dijadikan sebagai pemantik kader HMI untuk terus meneguhkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan sebagai dua hal yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Dengan demikian, apabila ada orang maupun kelompok yang bertanya tentang dalil nasionalisme dalam Islam, maka kader HMI harus bisa menjelaskannya, sebagaimana yang dilakukan oleh Lafran sebagai pendiri HMI. Hemat kata,  HMI harus menjadi wadah pencerahan bagi generasi yang mulai kehilangan arah.

*Muhammad Najib, kader HMI Cabang Semarang.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *