Beranda / Milenial / Potret Cinta dalam Tafsir Kisah Nabi Nuh

Potret Cinta dalam Tafsir Kisah Nabi Nuh

Jalanhijrah.com-Cinta pada hakikatnya adalah melakukan pengorbanan berbagai hal demi kebaikan pihak yang dicintainya. Dalam prosesnya, rasa sakit, sedih, luka, lara, dan merana menjadi keniscayaan yang harus dilalui. Namun demikian, jika akhirat menjadi tujuan abadi, semua akan dilalui dengan penuh kekuatan hati.

Para Nabi dan Rasul menjadi potret utama dalam mencurahkan rasa cinta mereka. Dengan misi dan visi dakwah tauhid, menjadikan mereka sosok yang tak pernah lekang diteladani oleh umatnya bahkan hingga saat ini. Melalui Al-Quran dan tafsirnya, kita akan terkesima menyelami kisah pengorbanan mereka. Di antara kisah itu adalah potret kehidupan manusia yang diberikan keajaiban usia yang panjang yaitu Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Nabi Nuh As. Allah Swt. utus di tengah-tengah umatnya ketika itu bukan tanpa alasan. Allah Swt. mengutusnya berdakwah mengingat perilaku menyimpang mereka yang menjadikan patung-patung yang mereka buat sendiri sebagai sesembahan yang mereka yakini dapat mendatangkan manfaat dan menolak kerusakan. Namun pada kenyataannya mereka menolak mentah-mentah dakwah tersebut. Lalu apa yang Nuh lakukan setelah mendapatkan penolakan tersebut? Dan hal inilah yang menjadi bukti cinta Nuh;

Pertama, karena cintanya kepada Allah Swt., Nuh sigap dalam menerima perintah-Nya untuk berdakwah kepada kaumnya. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf : 59,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ إِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيم

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”

Kedua, karena cintanya kepada kaumnya, Nuh mengungkapkan kekhawatirannya jika kaumnya akan mendapat azab jika tidak menerima dakwahnya dan Nuh tidak segan mengingatkan mereka akan bahaya ini. Imam As-Sa’di dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa di antara hal-hal yang Nuh sampaikan adalah perihal perlunya ikhlas beribadah kepada Allah Swt., menjelaskan apa bentuk penyimpangan mereka dan mengingatkan hukuman di dunia dan akhirat.

Ketiga, karena cintanya kepada umatnya, Nuh dan umatnya bersabar dengan segala penolakan dan cacian mereka. Imam As-Sa’di menjelaskan bahwa di antara hinaan mereka bahwa Nuh adalah manusia biasa yang tidak memiliki apapun bahkan pengikutnya juga demikian sehingga Nuh tidak pantas diikuti. Secara santun dan bijaksana Nuh membalas hinaan mereka sebagaimana dalam QS. Hud; 31

وَلاَ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلاَ أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلاَ أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلاَ أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَن يُؤْتِيَهُمُ اللّهُ خَيْراً اللّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنفُسِهِمْ إِنِّي إِذاً لَّمِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): “Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib”, dan tidak (pula) aku mengatakan: “Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat”, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: “Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka”. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.”

Keempat, Nuh sadar mereka tidak akan berubah. Pada titik ini, sebagai bentuk cintanya pada umatnya ia berdoa agar membinasakan mereka guna memutus keturunan yang buruk kualitasnya. Imam As-Sa’di menjelaskan bahwa Nuh sadar bahwa dakwahnya semakin tidak berguna dari sisi apapun. Bahkan semakin lama generasi yang lahir dari mereka itu semakin kacau. Ia pun berdoa agar mereka dibinasakan.

Kelima, meski sudah mengetahui bahwa kaumnya yang menolak dakwah, termasuk anaknya adalah orang-orang yang akan ditenggelamkan, masih dengan rasa cintanya ia memohon kepada Allah Swt. agar anaknya diselamatkan. Allah Swt. berfirman dalam QS. Hud ayat 45,

وَنَادَى نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

Artinya: “Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.“

Dalam Tafsir Kemenag mengenai ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah Swt. menegaskan bahwa anaknya Nuh (Kan’an) bukanlah termasuk keluarga yang dijanjikan selamat, karena dia tidak beriman, jahat, durhaka, bahkan mengingkari ayahnya sendiri. Oleh sebab itu Nuh tidak diperkenankan memohon sesuatu yang tidak diketahui hakikatnya. Allah Swt. menasehati agar tidak meminta sesuatu yang belum diketahui dengan yakin bahwa permohonan itu benar atau wajar.

Keenam, karena cinta hakikinya kepada Allah Swt., Nuh menerima koreksi dari Allah Swt. dan segera memohon ampun kepada-Nya,

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ

Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.“ (Q. Hud)

Demikianlah potret cinta Nabi Nuh kepada keluarga dan umatnya. Namun pada akhirnya cinta kepada Allah Swt. menjadi muara terakhir dalam hidupnya.

 

Tag: