Beranda / Milenial / Perkuat Sikap Moderat dari Ragam Jemaah di Masjidil Haram

Perkuat Sikap Moderat dari Ragam Jemaah di Masjidil Haram

Masjidil Haram adalah masjid suci umat Islam yang setiap saat dikunjungi jemaah dari seluruh penjuru dunia. Ragam bangsa, suku, bahasa, budaya, sifat dan karakter, termasuk pemahaman keagamaan Islam yang beragam bertemu dalam satu waktu dan tempat.

Keragaman yang bertemu ini bisa berjalan beriringan dan menjadi poin penting bagaimana bersikap moderat dan saling menghormati sesama manusia. Siapa pun yang berada di Masjidil Haram pasti akan bertemu dan menyaksikan perbedaan-perbedaan yang jika tidak memiliki gen moderat, bisa memunculkan friksi.

Dengan mudah, beberapa fenomena bisa dijumpai yang terkadang bisa menyulut emosi jemaah yang sensitif dan tidak mengedepankan sikap moderat. Semisal, seenaknya seseorang jalan di depan jemaah yang sedang sholat. Lebih dari itu, terlihat seseorang berjalan melewati kepala orang yang sedang sujud dan melangkahi pundak jemaah lain.

Berikut beberapa perbedaan-perbedaan yang terlihat dan terasa dan perlu dimaklumi dari para jamaah seluruh dunia saat kita berkunjung ke Masjidil Haram, baik saat umrah maupun haji.

1. Pakaian
Dari sisi pakaian, kita belajar bagaimana tradisi dan budaya memengaruhi ekspresi keimanan yang terlihat dari pakaian yang dikenakan. Jika jemaah Indonesia identik dengan peci hitam, sarung, dan batiknya, maka jemaah dari negara lain memiliki ciri yang berbeda.

Jemaah dari kawasan Timur Tengah banyak yang mengenakan jubah yang dipadu dengan penutup kepala dari sorban. Sementara jemaah dari kawasan Asia Selatan seperti Afghanistan, Bangladesh, dan India, banyak menggunakan baju koko dipadu celana panjang dan peci khas yang bagian depannya terbuka bermotif kubah masjid. Atau ada juga yang hanya memakai kaos dan celana olahraga!

Semua itu adalah ekspresi keimanan yang terpancar dan kental terpengaruh tradisi lokal. Tidak boleh ada klaim yang paling beriman adalah mereka yang pakai jubah atau diukur dari tampilan fisiknya. Semua sama di hadapan Allah, dan yang membedakan adalah ketakwaannya.

2. Cara ibadah
Di Masjidil Haram, sangat mudah juga dijumpai ragam cara ibadah seperti sholat dan sejenisnya. Berbagai mazhab dan muamalah dalam sholat tidak menjadikan jemaah saling menyalahkan. Ada yang sholat bergerak-gerak seperti membawa mushaf Al-Qur’an ataupun memegang HP, memperbaiki baju atau sorban, bahkan membuah lendir/ludah ke sapu tangan dan.memasukkannya ke dalam saku saat sholat.

Bagi jemaah Indonesia, aktivitas tersebut tentu sangat jarang ditemukan di Indonesia dan bisa membuat terheran-heran dan kaget. Aktivitas seperti itu bisa membatalkan sholat karena melakukan gerakan lebih dari tiga kali. Namun pastinya, jemaah yang melakukan hal tersebut memiliki dasar sehingga umat Islam Indonesia tidak boleh terpancing untuk menyalahkan bahkan berdebat.

3. Tingkah laku dan bahasa
Tingkah laku jemaah negara satu dan negara lain juga sangat berbeda. Jemaah dari kawasan Timur Tengah cenderung berbicara dengan nada keras. Jika salah paham, hal itu bisa dimaknai sebagai sikap marah. Padahal cara berbicara tersebut dipengaruhi budaya dan tradisi yang mereka bawa dari tanah air mereka.

Berbeda dengan tingkah laku jemaah Indonesia yang memang terkenal sebagai jemaah paling sopan dan patuh pada peraturan. Banyak jemaah dari luar Indonesia yang terkadang berdebat dengan para Askar yang menjaga Masjidi Haram. Terlebih saat ini banyak perubahan peraturan pasca-pandemi Covid-19.

Masih banyak tingkah laku jemaah yang menurut kacamata tradisi Indonesia tidak sopan atau di luar kebiasaan. Semua itu tidak perlu diperdebatkan dan dipermasalahkan dengan senantiasa menguatkan sikap moderat.

4. Fisik
Dari sisi fisik, keragaman postur tubuh dan warna kulit juga sangat tampak. Jemaah dari Indonesia cenderung memiliki postur tubuh yang kecil dan tidak terlalu besar dengan kulit sawo matang. Beda dengan jemaah dari Timur Tengah, Eropa, dan Afrika yang rata-rata memiliki postur tubuh besar dipadu dengan jenggot yang tebal.

Dengan kondisi ini maka saat jemaah berdesak-desakkan dalam beribadah misalnya, jemaah Indonesia akan lebih baik mengalah agar tidak terjadi terjadi kontak fisik. Jangan memaksakan diri kontak fisik dengan jemaah luar negeri seperti saat mencium Hajar Aswad atau di situs-situs lain seperti Multazam, Maqam Ibrahim, dan Hijir Ismail.

Dari empat hal tersebut, sikap moderat menjadi kunci dalam ibadah di Masjidil Haram agar dapat berjalan dengan baik. Larangan berselisih paham karena perbedaan-perbedaan juga menjadi poin penting dalam ibadah haji di Makkah.

Hal ini tertuang dalam Al-Qur’an yang telah menegaskan bahwa tidak boleh dilakukan orang yang sedang berhaji dalam tiga hal yakni rafats, fusuq, dan jidal. Tiga hal ini termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 197:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berdebat di dalam masa mengerjakan haji.”

Perbedaan di Masjidil Haram, khususnya saat haji dan umrah menjadi contoh perbedaan bisa bersatu tanpa harus merasa paling baik. Sikap moderat menjadi kunci dalam menyikapi perbedaan.

Muhammad Faizin