Dalam rangka mewujudkan sebuah cita-cita negara yang makmur dan berkeadilan tentu tidak bisa terlepas dari kebijakan pemimpin dan pejabat pemerintahan setempat. Faktanya, masih banyak pemimpin dan pejabat yang ditengarai kurang amanah. Biasanya setelah dipilih, mereka khianat jabatan, suka obral janji tanpa bukti. Padahal, sebagai pemimpin mereka memiliki tanggung jawab besar.
Allah mengingatkan perihal ini dalam Al-Quran:
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
Artinya: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shad [38]: 26).
Berkenaan dengan kalimat: “Kami menjadikan kamu (Dawud) penguasa (khalifah) di muka bumi” dalam kitab tafsir al-Qasimi karya Jamaluddin Al-Qasimi dijelaskan:
استخلفناك على الملك في الأرض كمن يستخلفه بعض السلاطين على بعض البلاد ويملكه عليها، ومنه قولهم: خلفاء الله في أرضه
Artinya: “Aku (Allah) mengangkatmu (Dawud) sebagai pemimpin kerajaan di dunia, seperti raja yang digantikan oleh sebagian sultan di belahan dunia dan menguasainya atau dikenal khalifah di bumi Allah.”
فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوى أي: هوى النفس، من الميل إلى مال، أو جاه، أو قريب، أو صاحب
Selanjutnya maksud dari berilah keputusan di antara manusia dengan adil adalah menegakkan kebenaran tidak terbujuk hawa nafsu, misalnya condong pada harta, tahta, kerabat atau sahabat.
فيضلك عن سبيل الله أي: صراطه الموصل إلى الكمالات، كحفظ المملكة، والنصر على الأعداء، والنجاة في الآخرة ورفع الدرجات فيه
Sebab hawa nafsu akan menjauhkanmu dari jalan Allah yang dapat mengantarkan menuju kesempurnaan, seperti terjamin keamanan negara, mendapat pertolongan atas musuh, selamat di akherat dan derajat yang terangkat. (Tafsir Al-Qasimi, 14/5095)
Sedangkan dalam tafsir Ibnu Katsir ayat tersebut menjadi dasar bahwa seorang pemimpin harus menjalankan amanah kepemimpinannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Balasan untuk pemimpin yang zalim adalah siksa pedih yang sudah Allah siapkan di akhirat kelak. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil ‘Adzim, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, 1988], juz IV, h. 29).
Surat Shad ini memberi peringatan keras untuk para pemimpin agar berlaku adil di antara umatnya dan bersikap tegas dalam menegakkan hukum yang haq/benar tanpa pandang bulu. Sementara pada surat lain, yakni Surat Al-Hujurat ayat 9 berikut ini, Allah menyatakan restu-Nya untuk mereka yang berbuat adil.
وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Artinya: “Berbuat adillah, Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil,”
Merujuk dari ayat dan tafsir ini jika dikontekstualisasikan dalam kepemimpinan seorang penguasa, maka tanggung jawab utamanya adalah harus adil dan bersikap tegas dalam menegakkan hukum yang benar. Jika tidak dapat demikian, maka ia akan mudah dibujuk oleh bisikan nafsu yang akan menyengsarakan kehidupannya dan berimbas pada kesejahteraan rakyatnya.
Sebab keputusan seorang pemimpin di tengah masyarakat sangat berkaitan erat dengan kepentingan publik dan hajat hidup orang banyak, terutama dengan kelompok minoritas yang tidak didengarkan suara dan terabaikan hak-haknya.
Sumber: https://www.arina.id/syariah/ar-9l3uf/peringatan-keras-dari-al-quran-untuk-para-pemimpin









