Rahima bersama Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) dan Working Group Working Group on Women and P/CVE (WGWC), memfasilitasi Forum Refleksi dan Evaluasi terkait implementasi program Female Ulama Goes to Prison di Jakarta. Forum tersebut melibatkan 19 orang peserta dari petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) di Jawa Barat dan Banten yang terlibat dalam program.
“Forum ini sangat penting sebagai wadah refleksi untuk mengukur keberhasilan program dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi selama penggunaan buku saku di lapangan,” ungkap Khariroh Maknunah, Program Manager Yayasan Prasasti Perdamaian, saat ditemui di sela-sela acara.
Menurut Perempuan yang akrab disapa Nuna tersebut, peserta forum mendapat kesempatan untuk mendiskusikan berbagai aspek positif dari program ini, termasuk dampaknya terhadap upaya pencegahan radikalisme di lingkungan Lapas dan Bapas. ”Para peserta dapat secara terbuka menyampaikan kendala yang mereka hadapi dalam proses penyebaran dan penerapan materi di institusi masing-masing,” tambahnya.
”Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi peserta untuk memberikan masukan, baik terkait konten buku saku maupun strategi penyebarannya,” jelas Nuna. Ia menekankan pentingnya masukan substantif untuk penyempurnaan konten dan masukan strategis untuk meningkatkan efektivitas penggunaan buku saku di lapangan.
Khariroh mengungkapkan bahwa hasil evaluasi dari forum ini akan menjadi dasar penyempurnaan program ke depan. ”Kami berharap dengan adanya masukan dari para praktisi di lapangan, buku saku ini bisa menjadi instrumen yang lebih efektif dalam upaya kontra-narasi ekstremisme kekerasan di lingkungan Lapas dan Bapas,” pungkasnya.
Buku kontra-narasi memiliki peran strategis dalam melawan ideologi radikal yang mengancam keberagaman dan kebhinekaan. Dalam konteks Indonesia, buku semacam ini bukan hanya menjadi alat literasi, tetapi juga menjadi senjata intelektual untuk melawan doktrin-doktrin ekstrem yang berusaha mencabik-cabik persatuan bangsa. Namun, seiring dengan dinamika masyarakat yang terus berubah, keberhasilan sebuah buku kontra-narasi tidak hanya bergantung pada isi dan distribusinya. Diperlukan langkah strategis untuk memastikan pesan yang dikandungnya benar-benar berdampak.
Forum refleksi dan evaluasi menjadi ruang penting dalam optimalisasi buku kontra-narasi. Forum ini memungkinkan penggiat literasi, penulis, akademisi, dan aktivis sosial bertemu untuk berdialog. Refleksi dari berbagai pihak memberikan kesempatan untuk meninjau efektivitas pesan yang telah disampaikan, mengidentifikasi kekurangan, dan merancang strategi perbaikan ke depan.
Di tengah gempuran teknologi digital, buku kontra-narasi sering kali bersaing dengan konten cepat saji di media sosial. Banyak pihak yang merasa bahwa buku tidak lagi relevan bagi generasi muda yang cenderung memilih video singkat atau infografis untuk mendapatkan informasi.
Namun, forum refleksi dapat menjadi ajang untuk menemukan titik temu antara tradisi literasi dan teknologi. Ide-ide kreatif untuk mengadaptasi isi buku menjadi konten digital, seperti video animasi atau serial diskusi daring, dapat muncul dari diskusi dalam forum semacam ini.
Selain itu, forum refleksi membantu memastikan bahwa buku kontra-narasi tidak hanya berbicara pada kelompok yang sudah sepakat, tetapi juga menjangkau mereka yang berada di ambang ketidakpastian. Narasi kontra yang efektif tidak hanya mematahkan argumen kelompok radikal, tetapi juga menawarkan alternatif yang membangun, relevan, dan menggugah.
Forum refleksi memberikan kesempatan untuk mengevaluasi apakah buku telah berhasil mencapai audiens ini atau masih perlu penyempurnaan dalam penyajian dan pendekatannya.
Di sisi lain, forum evaluasi memberikan ruang untuk memeriksa dampak buku secara kuantitatif dan kualitatif. Berapa banyak buku yang telah didistribusikan? Sejauh mana pembacaannya mampu mengubah pandangan atau menginspirasi tindakan? Dalam evaluasi, para pelaku gerakan kontra-narasi dapat berbagi pengalaman, kendala, dan keberhasilan mereka. Pengalaman-pengalaman ini kemudian menjadi dasar bagi perencanaan distribusi dan promosi yang lebih efektif di masa depan.
Optimalisasi buku kontra-narasi bukan hanya soal distribusi fisik atau digital, tetapi juga bagaimana pesan yang dikandungnya dapat menjangkau hati dan pikiran pembaca. Di sinilah pentingnya pendekatan yang berbasis kolaborasi, dialog, dan refleksi mendalam. Buku kontra-narasi tidak hanya memerangi ekstremisme, tetapi juga merawat harapan akan masa depan yang lebih toleran, adil, dan damai.
Dengan forum refleksi dan evaluasi, buku kontra-narasi dapat menjadi lebih dari sekadar dokumen; ia menjadi gerakan yang hidup, berkembang, dan terus relevan di tengah tantangan zaman. Di sinilah masa depan narasi kebangsaan kita ditentukan, melalui dialog yang berani, refleksi yang jujur, dan aksi yang nyata.









