Menu

Mode Gelap

Mujadalah · 8 Des 2021 12:00 WIB ·

Musdah Mulia: Seandainya Kita Berdakwah Kepada Diri Sendiri, Kita Tidak Sibuk Menghitung Dosa Orang Lain


					Musdah Mulia: Seandainya Kita Berdakwah Kepada Diri Sendiri, Kita Tidak Sibuk Menghitung Dosa Orang Lain Perbesar

Jalanhijrah.com- Keberagaman menjadi keniscayaan yang dimilliki oleh setiap daerah, terutama dalam konteks nasional sebagai keniscayaan yang abadi. Pada term ini, kesadaran akan keberagaman menjadi salah satu aspek yang penting ketika menjalani kehidupan yang plural seperti Indonesia.

Implementasi yang diberikan kepada sosial, tentu adalah sikap saling menghargai aas perbedaan yang tercipta. Lalu bagaimana dengan persoalan kelompok-kelompok yang selalu hadir menciptakan kebencian terhadap sesama?

Kafir mengkafirkan menjadi budaya sebagian kelompok

Pengalaman bergerak di bidang sosial, khususnya berfokus pada isu HAM, Demokrasi dan perempuan, bunda Musdah, sapaan akrabnya memiliki banyak pengalaman yang cukup bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Fenomena keberagamaan dewasa ini menyebabkan Bunda Musdah cukup teriris hati dengan  maraknya kafir mengkafirkan, bid’ah membid’ahkan, bahkan saling menyalahkan dalam internal masyarakat Islam.

Lebih jauh, Bunda Musdah juga melihat relasi sosial antar agama yang ditunjukkan oleh sebagian kelompok justru sangat timpang, bahkan menyebabkan perpecahan akibat perbedaan yang ada. Hal itu sebenarnya menjadi kemunduran Indonesia sebagai negara yang plural, seharusnya dijaga bukan dihancurkan.

Fenomena itu harus dipahami oleh millenial sebagai bahan acuan untuk terus belajar agar tidak berfikir dengan timpang, apalagi tersesat dengan kelompok itu. Sebab hal itu akan merusak generasi yang seharusnya memiliki sikap dan semangat nasionalisme yang tinggi, berubah menjadi hitam dan putih.

Baca Juga  Quraish Shihab: Jika Orang Tua Berbeda Agama, Tetap Hormati, Antar ke Tempat Ibadahnya

Lebih lanjut, Bunda Musdah juga menjelaskan bahwa sebenarnya aktifitas dakwah yang kita lakukan, seharusnya berfokus kepada diri sendiri, bukan mendakwahkan kepada orang lain. Jika seseorang sudah fokus mendakwahkan dirinya, ia tidak memiliki waktu untuk menghitung kesalahan orang lain, bahkan tidak penting dosa orang lain baginya. Sebab yang diurusi untuk diperbaiki adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.

Membaca adalah gerbong utama

Pengalaman hidup yang dilalui oleh Musdah Mulia cukup sering mendapatkan kritikan, bahkan caci maki dari beberapa kelompok ketika membawa ajaran Islam ke permukaan dengan wajah berbeda. Wajah Islam yang segan kepada setiap umat manusia, khususnya pada perempuan yang selama ini mengalami ketertindasan akibat sistem, budaya dan sosial yang terbangun sudah sejak masa lampau, menjadi sebuah refleksi kritis yang amat baru dan tabu bagi masyarakat Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, nyatanya ancaman, tantangan yang dilaluinya ia balas dengan tidak membiarkan dirinya tidak menggubris segala hal yang ancaman buruk yang diperoleh. Lebih jauh, ia justru semakin fokus terhadap aktifitas yang dilakukan, fokus dengan tujuan yang selama ini menjadi goals setting dalam hidupnya.

Prof. Musdah Mulia menjelaskan bahwa fenomena diatas menunjukkan bahwa ketiadaan kegiatan membaca dalam kehidupan kita sehari-hari. Ia juga tidak segan menyuruh orang-orang yang melawan dan mengkritik pemikirannya untuk membaca setiap narasi dan tulisan yang sudah ditulisnya.

Baca Juga  Makhmum, Karakter Yang Membuat Manusia Paling Mulia

Baginya, orang-orang yang masih sibuk mencaci maki orang lain, nyinyir dengan kegiatan orang lain, ia belum selesai dengan dirinya sendiri, serta tidak membaca segala hal, baik lingkungan, buku, bahkan tidak tahu menempatkan diri.

Padahal membaca merupakan hal yang esensial dalam ajaran Islam. Sebab surah yang pertama diturunkan oleh Allah Swt. Kepada Nabi Muhammad SAW. Adalah iqra’ (bacalah). Maka menjadi non sense ketika ada orang yang ingin mengkritik pemikiran seseorang, berdakwah kepada orang lain, bahkan ingin memperoleh pengetahuan jika tanpa membaca.

Membaca apapun, seharusnya menjadi kegiatan yang melekat dalam diri seseorang. Apalagi sebagai individu yang mengkhidmatkan diri sebagai seorang muslim, berpengetahuan, kegiatan membaca terus dilakukan dalam upaya mandiri secara intelektual, pengetahuan agama, hingga finansial agar tidak bergantung terhadap orang lain.

Apabila ketika bergantung terhadap orang lain, bukanlah hal yang tidak mungkin jika ia akan tergerus pada kelompok-kelompok yang menganut ajaran Islam provokatif dan menyebabkan kehancuran NKRI. Sebab kelompok-kelompok Islam yang memakai jubah agama sudah memberikan kenyamanan yang amat tinggi pada orang lain.

Apabila kita sebagai individu kita bergantung, maka akan tergerus pada lingkungan-lingkungan tersebut. Demikian sebuah kehidupan, seyogyanya menjadi manusia tetaplah berpegang teguh untuk memperbaiki diri sendiri. Jika kita masih sibuk mencari kesalahan orang lain, kita justru mencuri otoritas Tuhan. Padahal kita hanya seorang hamba yang sedang menjalankan segala perintahNya. Wallahu a’lam

Artikel ini telah dibaca 17 kali

Baca Lainnya

Ini yang Dimaksud dengan Seribu Bulan dalam Lailatul Qadar

24 April 2022 - 09:00 WIB

Ini yang Dimaksud dengan Seribu Bulan dalam Lailatul Qadar

Larangan Perilaku Flexing dalam Islam

23 Maret 2022 - 12:00 WIB

Larangan Perilaku Flexing dalam Islam

Tafsir QS. Ali Imran Ayat 159: Etika Musyawarah dan Faedah di Baliknya

9 Maret 2022 - 16:00 WIB

Tafsir QS. Ali Imran Ayat 159: Etika Musyawarah dan Faedah di Baliknya

Zikir Spesial Rasulullah Untuk Muadz Bin Jabal, Apa Itu?

6 Maret 2022 - 12:00 WIB

Walaupun secara tersurat hadis ini ditujukan kepada sahabat Muadz bin jabal. Namun secara tersurat hadis ini ditujukan juga kepada semua Umat Islam. Oleh karenanya Yuks amalkan zikir spesial Rasulullah

Sudahkah Kita Ikhlas dalam Beramal?

1 Maret 2022 - 09:00 WIB

Sudahkah Kita Ikhlas dalam Beramal?

Mengenal Makna Tarekat dalam Tasawuf

23 Desember 2021 - 12:05 WIB

Mengenal Makna Tarekat dalam Tasawuf
Trending di Mujadalah