Home / Taubat / Menyongsong Nuzulul Qur’an: Perhatikan Adab Membaca Al-Qur’an

Menyongsong Nuzulul Qur’an: Perhatikan Adab Membaca Al-Qur’an

Beberapa mukjizat Nabi yang hingga kini masih bisa dirasakan adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah mukjizat yang menjadi pedoman dan petunjuk bagi umat Islam dan relevan hingga akhir zaman. Di dalam Al-Qur’an juga mengandung hikmah, pelajaran, ancaman, janji, penyembuh, kabar gembira, kisah, serta beberapa informasi penting lainnya.

Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk ke jalan yang lurus dan memisahkan baik buruk. Umat Islam sangat beruntung atas karunia ini dan sudah seharusnya setiap membaca Al-Qur’an berusaha memuliakan al-Qur’an.

Dalam surat Al-Isra’ ayat 82 disebutkan:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”

Tidak mengherankan jika dalam riwayat Nukman bin Basyir bahwa Rasulullah bersabda:

أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآن

Artinya: “Ibadah paling mulia bagi umatku adalah membaca Al-Qur’an” (Al-Itqan: 1/360)

Namun realitanya, masih banyak umat Islam kurang menghormati saat membaca Al-Qur’an sebab tidak mengerti adab atau etika membaca Al-Qur’an. Berkaitan dengan hal ini, Imam An-Nawawi Al-Dimasyqa dalam Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an menyebutkan:

اعلم أن قراءة القرآن محبوبة على الإطلاق إلا في أحوال مخصوصة جاء الشرع بالنهي عن القراءة فيها وأنا أذكر الآن ما حضرني منها مختصرة بحذف الأدلة فإنها مشهورة

Artinya: “Ketahuilah, aktivitas membaca Al-Qur’an dianjurkan secara mutlak (kapan dan di mana saja) kecuali pada beberapa kondisi tertentu yang diterangkan larangannya oleh agama. Saya (Imam Nawawi) akan menyebutkannya sekarang apa yang saya ingat secara ringkas tanpa menyebutkan dalil karena ini sudah masyhur” (Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, [Indonesia, Al-Haramain: tanpa tahun], halaman 93).

Imam Nawawi dalam kitab tersebut menguraikan secara detail dalam setiap bab terkait adab membaca Al-Qur’an. Di antara etika itu adalah: bersiwak, keadaan suci, tempat yang bersih suci, menghadap kiblat, membaca ta’awwudz, khusyuk dan tadabbur, menangis, membaca tartil, memuliakan Al-Qur’an sepenuh hati.

Sedangkan Syekh Atiyyah dalam kitab Ghayatul Murid fi ilmi Tajwid halaman 14 menegaskan:

ينبغي على قارئ القرآن أن يتأدب بالآداب التالية: ١- أن يستقبل القبلة ما أمكنه ذلك، ٢- أن يَسْتَاكَ تطهيرًا وتعظيمًا للقرآن ، ٣- أن يكون طاهرًا من الحدثين. ٤- أن يكون نظيف الثوب والبدن. ٥- أن يقرأ في خشوع وتفكر وتدبر. ٦- أن يكون قلبُه حاضرًا؛ فيتأثر بما يقرأ تاركًا حديث النفس وأهواءها. ٧- يستحب له أن يبكي مع القراءة فإن لم يبكِ يتباكى.  ٨- أن يزين قراءته ويُحَسِّنَ صوتَه بها، وإن لم يكن حسن الصوت حسنه ما استطاع بحيث لا يخرج به إلى حد التمطيط. ٩- أن يتأدب عند تلاوة القرآن الكريم، فلا يضحك، ولا يعبث ولا ينظر إلى ما يلهي بل يتدبر ويتذكر

Artinya: “Bagi pembaca Al-Qur’an sebaiknya memiliki adab atau etika sebagai berikut: 1. Diupayakan menghadap kiblat, 2. Tempatnya suci dan memuliakan Al-Qur’an, 3. Suci dari hadats kecil dan hadats besar, 4.  Membaca Al-Qur’an dengan berbusana yang rapi, dianjurkan memakai wewangian, 5. Membaca dengan khusyuk dan memahami maknanya, 6. Membaca dengan menghadirkan Al-Qur’an dalam hati sehingga memberikan dampak positif, 7. Dianjurkan membaca Al-Qur’an dengan menangis, atau meneteskan air mata , 8. Membaguskan bacaan dan suara ketika membaca Al-Qur’an, 9. Beretika saat membaca Al-Qur’an dengan tidak tertawa, tidak bermain-main, tidak mengalihkan perhatian pada sesuatu yang sia-sia, akan tetapi memahami makna dan berfikir.”

Dari uraian ini dapat ditarik simpulan, bahwa membaca Al-Qur’an itu juga harus memperhatikan adab atau tata krama serta situasi kondisi dan tempat ketika membaca Al-Qur’an. Sebab ada terdapat ketentuan yang harus dipatuhi.

Misalnya tidak boleh membaca Al-Qur’an dalam kamar mandi, membaca Al-Qur’an sambil menggunjing, tidak khusyuk, tertawa dan beberapa akhlak tercela lainnya. Walhasil, dalam rangka menyambut momentum Nuzulul Qur’an, sudah sepatutnya umat Islam memperbanyak tadarus Al-Qur’an agar mendapatkan keberkahannya dengan mengedepankan etika dan adab dalam membacanya. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: https://www.arina.id/syariah/ar-7bVav/menyongsong-nuzulul-qur-an–perhatikan-adab-membaca-al-qur-an