Menu

Mode Gelap

Perempuan · 15 Mar 2022 09:56 WIB ·

Memerdekakan Rahim Perempuan: Memanusiakan Perempuan


					Memerdekakan Rahim Perempuan: Memanusiakan Perempuan Perbesar

Jalanhijrah.com- Jangan nikah kelamaan biar bisa cepet punya anak

Buruan punya anak. Ntar rahimmu keburu expired. Jangan egois. Gimana mau bahagia keluarganya, hamil aja belum

 

Sebagai perempuan ujaran semacam ini pasti sudah akrab di telinga. Diikuti dengan beragam doa supaya kita ringan jodoh serta segera mendapat “titipan” anak dari Tuhan melalui rahimnya. Perempuan dan rahimnya memang selintas terasa seperti milik bersama. Milik orang tua yang berpindah pada suami, milik mertua dan segenap keluarga besar, milik komplek perumahan, hingga milik negara. Perempuan seperti seluruh aspek hidupnya selalu didikte supaya sesuai dengan konstruksi masyarakat akan keluarga dan masyarakat yang bahagia.

Karena itu rahim yang “dititipkan” Tuhan pada perempuan seolah menjadi alasan atas dibebankannya tanggung jawab terhadap reproduksi sosial dalam memproduksi keturunan serta generasi baru bangsa. Sehingga muncul anggapan perempuan adalah alat pencetak keturunan. Hal inilah yang seharusnya kita lawan sebagai bentuk upaya memerdekakan rahim perempuan.

 

Anggapan Perempuan sebagai Alat Pencetak Keturunan

Narasi mengenai perempuan baik salah satunya digambarkan sebagai seorang istri yang mampu memberi anak untuk melanjutkan garis keturunan keluarga. Belum lagi anggapan semakin banyak anak artinya semakin subur rahim perempuan tersebut yang sering dikaitkan dengan kemurahan rezeki. Sebagaimana ungkapan yang sering diucapkan masyarakat “Semakin banyak anak, semakin banyak rezeki”. Sehingga, rahim perempuan, organ yang memegang peranan besar dalam keberhasilan proses menciptakan dan melahirkan manusia baru ke dunia ini.

Baca Juga  Perempuan Reformis dan Cita Lahirnya Generasi Islami

Diharuskan mengemban tanggung jawab yang besar pula dalam keberhasilan pemenuhan ekspektasi dan proses regenerasi masyarakat. Hal-hal semacam ini pada akhirnya diam-diam menyelinap menjadi beban yang menindas perempuan, si empu rahim, secara fisik maupun psikis. Penindasan terhadap perempuan melalui rahimnya dapat kita temui dengan beragam rupa. Salah satunya, lewat cara masyarakat mengerdilkan nilai perempuan sebagai manusia hanya dari mampu atau tidaknya organ reproduksi mereka, dalam kasus ini rahim, untuk mengandung dan mengantarkan manusia baru ke dunia ini.

Tentunya ini menjadi beban yang harus ditanggung perempuan ketika mulai memasuki usia produktif. Ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengandung secara biologis, bahkan ketakutan mengenai mampu atau tidaknya ia menjadi seorang ibu. Perempuan dipaksa untuk mengadopsi nilai bahwa hamil dan melahirkan adalah kodrat perempuan yang wajib untuk dipenuhi supaya memenuhi standar masyarakat sebagai seorang perempuan yang utuh.

Kemudian, karena proses hamil dan melahirkan yang merupakan kodrat perempuan menjadikan perempuan sebagai subjek pasif. Di mana pendapat serta hak mereka untuk memilih dan berpendapat tentang apa yang ingin mereka lakukan terhadap tubuh mereka menjadi sesuatu hal yang didikte dan tidak dipedulikan masyarakat.

Namun, di kesempatan lain, ia menjadi subjek aktif ketika dalam keluarga terjadi kegagalan selama proses berusaha mendapatkan garis keturunan. Perempuan adalah pihak pesakitan yang harus disalahkan, rahim mereka adalah sesuatu yang perlu diobati, ketidakmampuan mereka adalah suatu dosa besar, bahkan mereka adalah para perempuan yang tidak utuh. Masyarakat lupa untuk melihat laki-laki atau sperma yang juga memiliki peluang sebagai pihak penyebab kegagalan saat upaya mendapatkan anak.

Baca Juga  Khotbah Haji Terakhir Rasulullah, Hormatilah Perempuan

Laki-laki sebagai kepala keluarga yang memiliki peran dominan di ranah publik dianggap tidak memiliki peran besar serta tanggung jawab di ranah privat. Misalnya, saat proses perencanaan dan berjalannya kehamilan. Kepemilikan rahim juga menyebabkan perempuan rentan mendapat kekerasan berbasis gender dalam pernikahan. Kegagalan memiliki anak, yang bisa terjadi karena berbagai hal, seringkali menargetkan perempuan sebagai samsak untuk meluapkan kekecewaan. Baik itu dari pihak suami dan keluarganya, maupun keluarga sendiri. Sebab, dianggap gagal memenuhi “kodrat dan tugas” mereka sebagai seorang perempuan dan istri.

Memerdekakan Rahim Perempuan

Masyarakat kita luput bahwa mereka telah memainkan peran besar dalam mengerdilkan perempuan sebagai manusia seutuhnya lewat pandangan. Begitu juga dengan tindakan yang sudah melembaga di struktur sosial bahwa perempuan dilihat dari kemampuan rahimnya matau untuk mengandung dan melahirkan anak. Karena itulah, ketika wacana childfree ramai dibicarakan, seorang influencer ternama Gitasav mengatakan ia memilih untuk tidak memiliki anak.

Masyarakat kita seketika kebakaran jenggot karena perempuan childless-tidak mampu memiliki anak-saja sudah dipandang sebagai cacat di masyarakat. Sehingga perempuan-perempuan yang berani menyuarakan pilihan terhadap rahim mereka dan memutuskan untuk childfree tentunya akan segera diserang. Mereka dianggap mengganggu nilai-nilai sosial yang sudah susah payah dibangun masyarakat. Hal ini tentu saja dikarenakan rahim perempuan selama ini dianggap sebagai milik bersama, membuat masyarakat merasa berhak untuk mendikte perempuan atas tubuh dan hak reproduksinya.

Baca Juga  Edukasi Seksual Inklusif Guna Mitigasi Sexual Violence dan Harassment pada Perempuan

Padahal, bagaimanapun juga perempuan sebagai si empunya maka mereka adalah pihak yang paling berhak dalam mengambil keputusan atas rahimnya. Sehingga, memberi kemerdekaan kepada perempuan atas rahim mereka merupakan salah satu bentuk nyata untuk memanusiakan perempuan dan mengembalikan kembali apa yang memang menjadi hak mereka sedari awal.

Penulis

Annisa Azzahra, anggota puan menulis

 

Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan