Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kepadamu mudarat dan tidak (pula) manfaat?” Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (AL-Maidah 67).
Ber Tuhan karena kita meyakini diri sebagai manusia yang lemah. Memiliki Tuhan dan mengimaniNya karena kita merasa tidak mampu mengontrol di luar batas kemampuan yang bisa diraih. Merasa butuh kepada Tuhan karena kita menyadari tidak semua hal bisa diraih kecuali dengan kekuasaanNya.
Mencari kekuasaan Tuhan tidak perlu membayangkan ke-Maha-Besar-anNya yang tidak mungkin dijangkau pikiran manusia. Mulailah dengan keterbatasan diri untuk mengetahui sedikit saja keagungan Tuhan. Maka, kenali lah diri sendiri untuk mengenal Tuhan.
Kenali keterbatasan diri akan membawa kesadaran kebutuhan untuk ber- Tuhan. Mulai dari yang paling kecil dan sepele. Manusia ternyata makhluk yang sangat bergantung terhadap yang lain. Manusia bisa lapar dan membutuhkan makanan. Manusia tergantung kepada makanan. Dan Tuhan bukan dzat yang membutuhkan makanan dan tidak tergantung kepada makanan untuk menjadi Tuhan.
Kesadaran ini akan menegasikan anggapan manusia yang dipertuhankan. Selama itu manusia tidak layak dianggap Tuhan karena ia memiliki sifat tergantung kepada sesama makhluk. Logika akan menolak jika ada manusia bertuhan kepada sesama manusia.
Manusia sekuat apapun dan semenjaga apapun terhadap dirinya ternyata bisa sakit. Manusia ketika sakit membutuhkan benda dan orang lain untuk sembuh. Apakah dokter pantas di-tuhan-kan karena bisa menyembuhkan?
Logika ber-Tuhan kita akan menolaknya karena dokter sama posisinya sebagai manusia yang bisa jatuh sakit. Dan pada saatnya ia akan membutuhkan dokter lain. Apakah benda yang menyembuhkan dapat dijadikan tuhan? Ternyata, benda itu tidak kekal dan memiliki sifat hancur dan binasa. Pantaskah kita menyembah kepada hal yang tidak kekal dan akan binasa?
Hal yang bergantung kepada yang lain tidak pantas secara logis diper-Tuhan-kan. Itulah logika ber-Tuhan yang harus dipegang. Selama ada dzat yang mengaku diri tuhan tetapi ia tergantung pada yang lain secara logika keyakinan itu sangat lemah dan mudah dipatahkan.
Siapa yang mengatakan beragama tidak memiliki argumentasi yang logis?
Pencarian Tuhan bukan semata masalah keyakinan, tetapi keyakinan yang kokoh dengan nalar. Begitu lah cara Ibrahim yang begitu cemerlang mencari Tuhan sehingga pada keyakinan monoteistik yang kokoh. Begitu lah Musa mematahkan argument secara logis ketuhanan Fir’aun. Begitulah Muhammad mengajari logika kepada kaum jahiliyah meninggalkan berhala-berhala yang menyesatkan akal fitrah manusia.
Dalam al-Quran surat al-Maidah kita menemukan argumen yang sangat memukau logika. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kepadamu mudarat dan tidak (pula) manfaat?” Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (AL-Maidah 67).
Ayat ini jika dipahami secara logis akan mematahkan apapun sembahan yang tidak pantas dipertuhankan. Segala sesuatu yang tidak mendatangkan mudarat dan manfaat, tetapi bergantung pada hal lain, berarti bukan Tuhan. Penegasan kalimat tauhid, tiada tuhan selain Tuhan (Allah) adalah wujud sederhana dari penjelasan logis yang kompleks tersebut.
Ketika kita bertahlil, putaran logika sebagaimana di atas harus dihadirkan dalam hati sebagai keyakinan yang kokoh. Tidak ada tuhan yang Maha Sempurna yang tidak bergantung kepada siapapun selain Tuhan yang Maha Memberi Manfaat dan Mudharat kepada manusia. Dialah Tuhan sebagai sumber dari segala sumber manfaat dan mudhrat di dunia.
Keyakinan ber-Tuhan harus dimulai dengan kesadaran diri manusia yang lemah. Kenali diri kita yang lemah, hina, dan tanpa daya kuasa, maka kita akan menemukan Tuhan. Semakin manusia angkuh dia akan jauh dari Tuhan. Pelajari kesalahan terbesar iblis, dia merasa angkuh dan sombong atas dirinya sehingga dijauhkan dari cahaya Tuhan.










