Beranda / Milenial / Kritik Imam Ghazali untuk Pengejar Ijazah, Gelar, dan Pekerjaan

Kritik Imam Ghazali untuk Pengejar Ijazah, Gelar, dan Pekerjaan

Mayoritas saat seorang mahasiswa ditanya, “Apa motivasi Anda kuliah?” jawabannya adalah untuk mendapatkan ijazah, gelar, potensi pekerjaan yang layak, gaji tinggi, dan hal-hal duniawi lainnya. Jarang sekali mahasiswa yang kuliah dengan niat memperdalam ilmu demi meraih ridha Allah. Ketika mereka ditanya lagi, “Bukannya niat seperti itu salah, ya?” jawaban yang sering muncul adalah, “Ya, zaman sekarang realistis aja lah.”

Dilihat dari sudut pandang agama, niat menuntut ilmu semata-mata demi ijazah, gelar, dan pekerjaan, diakui atau tidak, memang keliru. Namun, menyalahkan atau menghakimi mereka yang memiliki niat seperti itu tentu bukanlah sikap yang bijaksana.

Kenyataannya, kondisi saat ini memang membentuk pola pikir tersebut. Banyak lowongan pekerjaan yang mensyaratkan para pelamarnya harus berstatus lulusan sarjana. Hal ini membuat gelar akademik dipandang sebagai kunci utama untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Wajar jika banyak mahasiswa terjebak dalam paradigma bahwa kuliah adalah sarana meraih kesuksesan duniawi semata.

Nasihat Imam Ghazali agar Mencari Ilmu karena Allah

Imam Al-Ghazali, yang dikenal dengan gelar Hujjatul Islam, mewanti-wanti para penuntut ilmu agar senantiasa mencari ilmu dengan niat yang tulus, semata-mata demi meraih ridha Allah SWT. Beliau mengingatkan bahwa menuntut ilmu dengan tujuan berbangga di hadapan masyarakat, untuk memperoleh pujian, kekayaan, atau status duniawi, bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sebab, niat yang seperti ini hanya akan membawa kerugian di akhirat.

أَنَّكَ إِنْ كُنْتَ تَقْصِدُ بِطَلَبِ العِلْمِ المُنافَسَةَ وَالمُبَاهَاةَ وَالتَّقَدُّمُ عَلَى الأَقْرَانِ،وَالِاسْتِمَالَةُ، وُجُوهِ النَّاسِ إِلَيْكَ، وَجَمْعُ حِطَامِ الدُّنْيَا، ، فَأَنتَ سَاعٍ، فِي هَدْمِ دِينِكَ وَإِهْلَاكِ نَفْسِكَ ، وَبَيْعُ آخِرَتِكَ بِدُنْيَاكَ فَصَفْقَتُكَ، خَاسِرة ، وَتِجَارَتُكَ، بَائِرة،

Artinya: ”Jika kamu menuntut ilmu dengan niat untuk bersaing, berbangga diri, melampaui rekan-rekan, menarik perhatian manusia, mengumpulkan harta dunia, maka kamu sebenarnya sedang berusaha merusak agamamu dan menghancurkan dirimu sendiri. Kamu menjual akhiratmu demi dunia yang fana. Kesepakatan jual beli ini adalah kerugian besar, dan perdaganganmu adalah kegagalan total.” (Bidayatul Hidayah, halaman 3)

Bahkan dalam sebuah riwayat hadits disebutkan seorang penuntut ilmu yang tidak berniat mencari ilmu untuk semata-mata meraih ridha Allah SWT, namun ia hanya bertujuan untuk keuntungan duniawinya ia kelak tidak akan pernah mencium harumnya bau surga.

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الجَنَّةِ يَوْمَ القِيَامَةِ، يَعْنِي: رِيحَهَا رواه أَبُو دَاوُدَ بإسنادٍ صحيحٍ

Artinya: ”Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diniatkan untuk mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka pada hari kiamat ia tidak akan mencium bau surga. Maksudnya adalah ia tidak akan mencium harumnya. Hadis riwayat Abu Dawud, sanadnya shahih ”(Riyadhus Salihin [Beirut; Dar Ibnu Katsir, 2007] halaman 383)

Seorang yang menuntut ilmu semata-mata dengan niat mencari ridha Allah tidak hanya berdampak positif bagi kehidupan di akhirat, tetapi juga bagi kehidupan di dunia. Ketika ilmu yang diperoleh digunakan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat, seperti melalui profesi sebagai guru, pedagang, atau dalam berbagai bidang lainnya, ia akan menjalankan pekerjaannya dengan penuh integritas dan kejujuran. Tidak ada korupsi, penipuan, atau perilaku merugikan masyarakat, karena orientasi utamanya bukan lagi hanya mengejar keuntungan duniawi, melainkan juga pahala di akhirat. Pola pikir seperti ini sangat penting, terutama di era saat ini yang dihadapkan pada krisis etika moral dan integritas.

Meskipun niat yang benar dalam mencari ilmu seharusnya semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan berarti kita harus berhenti ketika kita awalnya berniat untuk mendapatkan ijazah, pekerjaan, atau hal duniawi lainnya. Sebab sikap seperti ini bisa menjadi tipuan setan.

Menunda pencarian ilmu hanya karena niat yang belum sepenuhnya lurus akan melahirkan rasa malas dan menimbulkan stagnasi dalam usaha mengembangkan diri. Oleh karena itu, penting untuk melanjutkan pencarian ilmu dengan niat yang bisa diperbaiki seiring waktu.

وَقَالَ ٱلْإِمَامُ مِنْ مَكَايِدِ ٱلشَّيْطَانِ تَرْكُ ٱلْعَمَلِ خَوْفًا مِّنْ أَنْ يَقُولَ ٱلنَّاسُ إِنَّهُ مَرَاءٌ لِأَنَّ تَطْهِيرَ ٱلْعَمَلِ مِنْ نَزْعَاتِ ٱلشَّيْطَانِ بِالْكُلِّيَّةِ مُتَعَذَّرٌ فَلَوْ قَفَلْنَا ٱلْعِبَادَةَ عَلَى ٱلْكَمَالِ لَتَعَذَّرَ ٱلَاشْتِغَالُ بِٱلْعِبَادَاتِ وَذٰلِكَ يُؤَدِّي إِلَىٰ ٱلْبَطَالَةِ ٱلَّتِي هِيَ أَقْصَىٰ غَرْضِ ٱلشَّيْطَانِ.

Artinya: ”Imam Haramain berkata;”Sebagian dari tipu daya setan adalah meninggalkan amal kebaikan karena takut dikatakan “sok alim” oleh manusia, takut dikatakan “sok suci” dan lain lain. Sesungguhnya membersihkan semua amal ibadah dari tipu daya setan dan nafsu itu tidak pernah bisa. Jika kita beramal menunggu sempurna, maka sampai kapanpun kita tidak akan bisa beramal.” (Bughayyah Mustarsyidin, halaman 5)

Dari uraian ini dapat diambil kesimpulan bahwa niat yang benar dalam menuntut ilmu seharusnya semata-mata untuk mencari ridha Allah, bukan demi pujian, gelar, atau keuntungan duniawi. Sebab, menuntut ilmu dengan niat seperti itu justru merugikan diri sendiri di akhirat. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua niat awal kita dalam mencari ilmu selalu murni dan lurus.

Menunda pencarian ilmu hanya karena niat yang belum sempurna justru bisa menjadi tipu daya setan, yang ingin menjauhkan kita dari kebaikan. Oleh karena itu, yang terpenting adalah terus menuntut ilmu, dengan niat yang akan diperbaiki seiring berjalannya waktu, dan berusaha mengabdikan ilmu tersebut demi kebaikan dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Ahmad Yaafi Kholilurrohman

Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma’had Aly Situbondo, Jawa Timur

*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/syariah/ar-kTOs3/kritik-imam-ghazali-untuk-pengejar-ijazah–gelar–dan-pekerjaan