Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa monumental dalam sejarah Islam, tetapi juga pengalaman transenden yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan Yang Mutlak. Peristiwa ini melampaui dimensi ruang dan waktu serta memperlihatkan pengaruh spiritual yang mendalam terhadap pribadi Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks spiritualitas Islam, Isra’ dan Mi’raj mengandung simbolisme filosofis yang memperlihatkan perjalanan ruhani manusia menuju puncak eksistensi—kedekatan dengan Allah.
Isra’ dimulai dengan perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Isra’ (17:1): “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”. Perjalanan horizontal ini mencerminkan dimensi duniawi dan tanggung jawab manusia menjalin hubungan dengan sesama, membangun keadilan, dan memahami realitas sosial. Nabi Muhammad SAW diperlihatkan berbagai tanda kebesaran Allah sepanjang perjalanan ini, menunjukkan bahwa dunia material adalah medan bagi manusia untuk menyaksikan dan menghayati kebesaran Sang Pencipta.
Namun tidak berhenti di situ. Mi’raj, perjalanan vertikal Nabi menuju Sidratul Muntaha, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Najm (53:13-18), membawa Nabi ke dimensi yang melampaui batas fisik. Ibn Arabi, seorang tokoh filsafat dan tasawuf Islam, menyebut Mi’raj sebagai puncak perjalanan spiritual manusia, di mana jiwa melepaskan keterikatannya pada dunia material dan mencapai kedekatan dengan Yang Mutlak, Allah SWT. Dalam dimensi ini, Nabi tidak hanya melihat tanda-tanda kebesaran Allah, tetapi juga mengalami penyaksian langsung atas hakikat ilahi.
Analisis ini menunjukkan bahwa Isra’ dan Mi’raj adalah representasi simbolis perjalanan manusia dalam dua dimensi: horizontal (hubungan manusia dengan dunia) dan vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan). Filosof Islam seperti Al-Ghazali menekankan pentingnya dimensi batin dalam Isra’ Mi’raj. Baginya, peristiwa ini adalah manifestasi pengalaman ruhani Nabi, yang sekaligus menjadi teladan bagi umat manusia. Mi’raj mengajarkan pentingnya mengatasi keterbatasan indrawi dan logika, karena kedekatan dengan Allah hanya bisa dicapai melalui penyucian jiwa.
Dari perspektif eksistensial, Isra’ Mi’raj mencerminkan respons Allah terhadap penderitaan manusia. Nabi Muhammad SAW berada dalam kondisi psikis yang berat setelah kehilangan dua orang terdekatnya, Khadijah RA dan Abu Thalib, serta menghadapi penolakan keras di Thaif. Dalam momen kesedihan ini, Nabi mengadukan kelemahannya kepada Allah dengan doa yang sangat menyentuh, “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, sedikitnya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia…”. Doa ini mencerminkan kerendahan hati seorang manusia yang menyadari keterbatasannya di hadapan Allah SWT.
Di sinilah letak pentingnya dimensi filosofis Isra’ dan Mi’raj. Perjalanan ini bukan sekadar mukjizat, tetapi juga penghiburan ilahi yang melampaui batas logika manusia. Allah memperlihatkan kepada Nabi bahwa penderitaan duniawi bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, justrui pintu menuju pencerahan spiritual. Dalam Mi’raj, Nabi menerima perintah salat, yang dalam hadis disebut sebagai “mi’raj-nya orang mukmin”. Salat menjadi simbol perjalanan spiritual umat manusia, sebuah sarana meraih kedekatan dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Isra’ dan Mi’raj juga mengandung pelajaran mendalam tentang hubungan manusia dengan dunia dan akhirat. Perjalanan horizontal Isra’ mengajarkan pentingnya tanggung jawab sosial, sementara Mi’raj menunjukkan tujuan akhir manusia yakni kedekatan dengan Tuhan. Keseimbangan antara kedua dimensi ini adalah inti dari kehidupan spiritual Islam.
Peristiwa ini juga mengingatkan kita bahwa perjalanan spiritual tidak hanya membutuhkan keimanan, tetapi juga keberanian melampaui rasionalitas. Mukjizat Isra’ dan Mi’raj mengajarkan bahwa realitas ilahi tidak dapat dibatasi oleh hukum-hukum duniawi. Dalam pandangan filsafat Islam, kedekatan dengan Tuhan tidak terjadi melalui perjalanan fisik, tetapi transformasi atau perubahan batin yang mendalam.
Isra’ dan Mi’raj secara filosofis adalah pelajaran universal tentang perjalanan menuju kedekatan dengan Allah. Peristiwa ini mengajarkan bahwa ujian dan penderitaan adalah bagian penting dari proses spiritual, membentuk manusia menuju kesempurnaan.
Lebih dari sekadar sejarah, Isra’ dan Mi’raj mencerminkan perjalanan ruhani setiap individu. Kita diajarkan untuk mengatasi batasan duniawi, memahami makna ujian, dan terus mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai puncak dari pencarian spiritual.
Sumber: https://arina.id/perspektif/ar-IntEZ/isra–mi-raj–perjalanan-spiritual-menuju-pencerahan




