Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 19 Mei 2022 09:00 WIB ·

Hukum Hewan Kurban yang Belum Disembelih Hingga Lewat Hari Tasyriq


					Hukum Hewan Kurban yang Belum Disembelih Hingga Lewat Hari Tasyriq Perbesar

Jalanhijrah.com – Dalam beberapa keterangan kitab fikih dapat ditemukan beberapa keutamaan dan anjuran untuk melaksanakan ibadah kurban. Namun, penting diketahui bahwa ibadah kurban harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan.  Lantas, bagaimanakah hukum hewan kurban yang belum disembelih hingga lewat hari tasyriq?

Menurut ulama Syafiiyah, waktu penyembelihan hewan kurban dimulai sejak salat Idul Adha telah dilaksanakan pada tanggal 10 Dzul Hijjah hingga terbenam matahari pada hari terakhir hari Tasyrik. Dengan demikian, waktu penyembelihan hewan kurban ada empat hari, yakni hari Idul Adha pada tanggal 10 Dzul Hijjah, juga tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah.

Beberapa ulama fikih masih merinci hukum mengenai hewan kurban yang belum disembelih hingga lewat dari hari-hari Tasyriq.

Apabila kurban itu sunah, maka boleh memilih antara disembelih atau ditangguhkan pada tahun berikutnya. Namun jika disembelih, maka bernilai sedekah biasa, bukan bernilai ibadah kurban. Hal ini karena salah satu syarat sah kurban adalah disembelih pada waktu yang telah ditentukan. Sehingga, hewan yang disembelih di luar waktu yang telah ditentukan hanya akan menjadi sedekah biasa. Sebagaimana dalam keterangan kitab fiqhul Islam wa adillatuhu, karangan Syaikh Wahbah Azzuhail berikut ;

وهو مخير في التطوع فأن فرق اللحم كانت القربة بذلك دون الذبح لانها شاة لحم وليست اضحية

Artunya : “Dia boleh memilih dalam hewan kurban sunah. Jika dia membagikan daging hewan tersebut, maka berpahala ibadah (sedekah) dengan daging tersebut, bukan sebagai kurban. Hal ini karena daging tersebut dinilai daging biasa bukan daging kurban.”

Baca Juga  Hukum Zakat via Transfer Bank Atau Online

Akan tetapi, apabila kurban tersebut merupakan kuban wajib, maka wajib disembelih dalam rangka qada’ atau ganti karena tidak melakukannya di waktu yang telah ditentukan. Penyembelihan itu juga tidak boleh ditangguhkan hingga tahun berikutnya dan wajib untuk mendistribusikannya sebagaimana hewan kurban yang pada biasanya. Sebagaimana dalam kelanjutan keterangan berikut ;

واذا فات وقت الذبح ذبح الواجب قضاء وصنع به ما صنع بالمذبوح في وقته

Artinya : “Ketika waktu menyembelih sudah lewat, maka kurban wajib tetap disembelih sebagai qada’ dan juga wajib diperlakukan sebagaimana hewan kurban yang disembelih pada waktunya.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa ulama fikih masih merinci hukum mengenai hewan kurban yang belum disembelih hingga lewat dari hari-hari Tasyriq. Apabila kurban itu sunah, maka boleh memilih antara disembelih atau ditangguhkan pada tahun berikutnya. Namun jika disembelih, maka bernilai sedekah biasa, bukan bernilai ibadah kurban. Akan tetapi, apabila kurban tersebut merupakan kuban wajib, maka wajib disembelih dalam rangka qada’ atau ganti karena tidak melakukannya di waktu yang telah ditentukan.

Demikian penjelasan hukum hewan kurban yang belum disembelih hingga lewat hari tasyriq. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Penulis: Zainal abidin Bondowoso

Artikel ini telah dibaca 9 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian