Keberagaman bukan sekadar soal kerukunan, melainkan juga berkaitan erat dengan penegakan hak konstitusi setiap warga negara. Hal ini disampaikan oleh Koordinator Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan Gusdurian, Jay Akhmad, dalam acara Festival Beda Setara pada Senin, 11 November 2024, di Yogyakarta.
“Keberagaman tidak hanya soal kerukunan, tapi juga soal penegakan hak konstitusi warga negara,” ujar Jay. Ia merujuk pada pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dengan menekankan bahwa keberagaman sejatinya adalah bagian dari upaya menciptakan perdamaian. Namun, perdamaian hanya bisa dicapai jika disertai keadilan. “Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi. Keadilan harus diwujudkan dengan menegakkan hak konstitusi,” lanjutnya.
Jay menyoroti insiden penolakan rumah ibadah yang masih sering terjadi di Indonesia. Menurutnya, masalah ini menunjukkan tantangan yang masih belum tuntas dalam mewujudkan kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. “Undang-Undang Dasar kita menjamin kebebasan beragama bagi para pemeluknya. Ini menjadi tantangan agar masyarakat Indonesia bisa menjalankan ibadahnya dengan tenang,” tambahnya.
Festival Beda Setara, atau Best Fest, diselenggarakan untuk menyuarakan nilai-nilai toleransi dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional pada 16 November 2024 dan Haul ke-15 Gus Dur. “Festival ini akan berlangsung selama satu minggu, 10-16 November 2024, di berbagai titik di kampus UIN Sunan Kalijaga. Tujuannya adalah untuk merayakan keberagaman dan mempromosikan toleransi di Indonesia,” jelas Jay. Selain sebagai penghormatan kepada Gus Dur, festival ini juga menjadi ruang pembelajaran dan dialog lintas agama.
Rangkaian kegiatan di Festival Beda Setara meliputi Pasar Bestari, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai wadah dialog antarumat beragama. Selama festival, berbagai kegiatan menarik digelar, termasuk Forum Belajar, yang memberikan kesempatan kepada kaum muda dan pelajar untuk mendalami tradisi dan keyakinan agama yang ada di Indonesia. Forum ini diadakan setiap sore, 11-15 November 2024, dan menghadirkan praktisi dan tokoh agama dari berbagai agama di Indonesia.
Festival Beda Setara juga menghadirkan Panggung Budaya dan Bioskop Rakyat, yang menayangkan film-film bertema keberagaman dari berbagai agama. Melalui film-film tersebut, diharapkan publik dapat lebih memahami agama-agama lain dan mengembangkan empati terhadap sesama.
Puncak festival adalah Simposium Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, yang menghadirkan akademisi dari UIN dan perguruan tinggi lainnya serta praktisi keberagaman untuk berdiskusi tentang kebebasan beragama di Indonesia. “Ini adalah upaya untuk memperjuangkan agar hak konstitusi beragama masyarakat Indonesia tetap terjaga,” kata Jay.
Selain itu, festival ini juga menampilkan Pameran ‘Sengketa Rumah Tuhan,’ yang mengangkat isu sengketa rumah ibadah dan dampaknya terhadap keharmonisan antarumat beragama. Pameran ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga rumah ibadah sebagai simbol keberagaman di Indonesia.






