jalanhijrah.com – Banyak orang mengibaratkan biduk rumah tangga sebagai ibadah terpanjang. Suami dan istri bisa mendulang pahala dari setiap kesabaran, pengertian, dan kasih sayang yang mereka curahkan setiap hari. Tujuan utamanya tentu saja untuk meraih keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Namun, realitanya, menyatukan dua isi kepala yang berbeda tidaklah mudah. Sering kali, kita tidak menyadari dan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan kecil, padahal hal tersebut ibarat rayap yang perlahan menggerogoti tiang keharmonisan rumah tangga.
Dalam kacamata Islam, kita wajib menjaga keutuhan pernikahan. Agar keluarga terhindar dari badai kehancuran, mari kenali 4 perusak keharmonisan pernikahan yang pantang Anda abaikan:
1. Memelihara Komunikasi yang Buruk dan Silent Treatment
Komunikasi adalah nyawa dalam sebuah hubungan. Sayangnya, ketika konflik melanda, banyak pasangan memilih jalan pintas berupa silent treatment (saling mendiamkan) berhari-hari, atau sebaliknya, melontarkan kata-kata yang menyakiti hati.
Islam mengajarkan kita untuk selalu mengedepankan qaulan sadida (perkataan yang benar dan baik). Jika masalah datang, selesaikanlah dengan cara tabayyun (klarifikasi) dan diskusi yang tenang. Menyimpan kekesalan berlarut-larut hanya akan menumpuk luka dan menjauhkan rahmat Allah dari dalam rumah.
2. Mengumbar Aib Pasangan dan Urusan Dapur ke Pihak Luar
Di era media sosial seperti sekarang, banyak orang merasa lumrah menceritakan masalah rumah tangga atau sekadar membuat status sindiran. Padahal, kebiasaan ini sangat fatal bagi kelangsungan rumah tangga.
Allah mengibaratkan suami istri sebagai pakaian bagi satu sama lain (QS. Al-Baqarah: 187), yang berfungsi saling menutupi dan melindungi. Mengumbar aib pasangan—entah kepada teman, di media sosial, atau bahkan kepada keluarga besar tanpa tujuan mencari solusi dari penengah yang adil—sama saja dengan menelanjangi diri sendiri dan merusak benteng kepercayaan pasangan.
3. Mengabaikan Pemenuhan Hak dan Kewajiban
Suami dan istri akan menciptakan keharmonisan ketika keduanya menyadari dan menjalankan perannya masing-masing dengan ikhlas. Ketimpangan terjadi ketika salah satu pihak terlalu sibuk menuntut hak, namun melalaikan kewajiban.
Misalnya, suami mengabaikan kewajiban menafkahi atau tidak memimpin keluarga dengan baik. Di sisi lain, istri mungkin kurang menghormati suami atau lalai menjaga kehormatan rumah. Kunci mengatasi hal ini adalah dengan menurunkan ego dan saling berlomba memberikan yang terbaik untuk pasangan karena Allah Ta’ala.
4. Kurangnya Rasa Syukur dan Sering Membandingkan
“Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.” Kita sangat membahayakan pernikahan jika menerapkan pepatah ini ke dalam urusan rumah tangga. Terlalu sering membandingkan penghasilan suami, fisik istri, atau keromantisan rumah tangga orang lain (terutama yang terlihat sempurna di media sosial) hanya akan mematikan rasa syukur.
Rasulullah ﷺ sangat mewanti-wanti umatnya akan bahaya kufur nikmat terhadap kebaikan pasangan. Fokuslah pada kelebihan dan kebaikan pasangan Anda, bukan melulu mencari celah kekurangannya. Ingatlah, keluarga bahagia bukan mereka yang tak punya masalah, melainkan mereka yang selalu melibatkan Allah dan mensyukuri setiap karunia-Nya.
Mari Rawat Pernikahan Kita
Tidak ada pernikahan yang sempurna, karena suami dan istri pasti akan terus berproses dan belajar bersama. Namun, dengan menghindari keempat hal di atas dan terus menyandarkan harapan kepada Allah, insyaAllah kita bisa senantiasa menjaga keharmonisan rumah tangga.








