Walmart Amerika – kalau di Indonesia Carrefour (Transmart), atau Lotte Mart– membuat heboh karena menjual tas Hermès Birkin KW seharga Rp1.000.000an, yang asli ratusan juta rupiah (Washington Post, 28/12/ 2024). Sebagian orang menganggap Walmart melanggar hak cipta, sementara yang lain mendukung karena simbol “kemewahan” jadi bisa terbeli. Kasus ini mengundang pertanyaan: apa sebenarnya barang mewah, dan sejauh mana hak cipta bermanfaat?
Tas Hermès bukan sekadar tas tetapi sudah menjadi simbol status sosial, kekayaan, prestise, bahkan kesuksesan. Namanya barang mewah. Fenomena yang oleh filsuf Jean Baudrillard disebut hyper-reality ini sebenarnya kenyataan ilusif akibat sikap melebih-lebihkan kenyataan. Hasilnya ilusi. Kalau sudah memakai tas Hermès dan barang mewah terasa keren, terhormat, atau bahagia. Ilusi ini nampak nyata karena dipupuk media dan budaya konsumerisme. “Kita hidup di dunia simulasi,” kata Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation (1981). Barang mewah, sekali lagi, sejatinya ilusi pemenuhan kebutuhan semu akan rasa hebat dan bahagia— sebuah kebohongan yang dibangun manusia dan dipercayai sendiri.
Kemudian hak cipta. Hak cipta semula digunakan untuk melindungi karya seperti tulisan, musik, seni, produk, atau perangkat lunak. Dengannya si pencipta atau penemu punya hak eksklusif untuk menggunakan, mendistribusikan, atau memperbanyak ciptaannya. Tujuannya melindungi, mendorong kreativitas, dan memberikan penghargaan. Sesederhana itukah?
Apa yang sering dianggap sebagai hasil cipta manusia, lalu diteguhkan sebagai ciptaannya, sebenarnya anugerah Tuhan. Mencipta adalah wilayah Tuhan; manusia hanya menemukan. Mengklaimnya sebagai milik sesungguhnya tidak relevan, bahkan problematis. Maka, menjadikan hak cipta sebagai instrumen perlindungan hanya memperkuat ilusi bahwa penemunya adalah pemiliknya.
Jika demikian, apakah hak cipta benar-benar melindungi kreativitas, atau justru menjadikannya eksklusif dan memutus manfaat berbagi dan memiskinkan kehidupan bersama? Jika seperti ini, hak cipta justru memperkuat budaya konsumsi, karena melahirkan anggapan karya kreatif adalah milik eksklusif yang boleh dimonopoli. Nilai sejatinya—ekspresi keindahan, kebenaran, dan pengalaman bersama—tersingkir. Karya tidak lagi memperkaya kehidupan, tapi berubah menjadi simbol status bagi segelintir orang.
Hak cipta yang diberlakukan tanpa batas waktu sejatinya menciptakan ketidakadilan. Contohnya, perusahaan seperti Hermès terus menguasai simbol-simbol barang mewah, sedangkan masyarakat kehilangan kesempatan untuk menikmati atau menggunakan ide-ide karya tersebut. Ada cara lain yang lebih adil, seperti pendekatan open-source di dunia teknologi. Linux, misalnya, adalah sistem operasi gratis yang dapat digunakan, diubah, dan dikembangkan bersama. Linus Torvalds, penciptanya, mengatakan, “Kreativitas sejati muncul ketika karya dibagikan, sehingga banyak orang bisa ikut membangun sesuatu yang lebih besar.” Ini bisa jadi solusi: lindungi karya untuk waktu tertentu, lalu bebaskan agar manfaatnya bisa dirasakan oleh semua orang.
Kasus tas Hermes tiruan dari Walmart bukan hanya soal asli atau palsu, tapi soal bagaimana kita melihat harta benda. Apakah benar simbol-simbol kemewahan bisa membuat kita bahagia, atau justru hanya membuat kita terus mengejar sesuatu yang tidak nyata? Tas mewah hanyalah harapan palsu anak budaya konsumsi, yang membuat kita merasa harus memilikinya untuk terlihat lebih baik.
Barang mewah dan hak cipta adalah alat untuk ‘melindungi’ karya atau menunjukkan status, tidak perlu dijadikan tujuan hidup. Kebahagiaan sejati ada dalam hubungan dengan orang lain, kontribusi kepada sesama, dan pencarian makna hidup. Baudrillard mengatakan “konsumerisme membuat kita membeli simbol, bukan hal-hal yang benar-benar kita butuhkan.” Kesadaran ini membantu kita melepaskan diri dari jebakan simbol palsu, ilusi, dan kembali pada hal-hal yang lebih bermakna dalam hidup.
Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM, mahasiswa S3 Universitas Leipzig, Jerman.
*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/perspektif/ar-eXi6B/tas-hermes–kemewahan–dan-ilusi-bahagia–apa-yang-sebenarnya-kita-kejar-






