Islam selalu menempatkan keimanan selalu bergandengan dengan kebajikan sosial. Barangsiapa beriman dan beramal shaleh selalu menjadi gandengan kata yang banyak ditemukan dalam al-Quran. Ini menunjukkan sesungguh keimanan yang bersifat spiritual, tidak bisa dilepaskan dengan kebaikan yang bersifat sosial.
Tidak bisa dipisahkan antara orang yang beriman kepada Tuhan, Rasul dan hari akhir dengan praktek kebaikan sosial. Keimanan harus diekspresikan dengan kebaikan sosial. Karena itulah, orang yang beriman adalah orang yang selalu memancarkan rasa aman di tengah kehidupan sosial.
Bukan orang yang beriman jika dalam kehidupan sehari-hari justru mengabaikan keteraturan dan kerukunan sosial. Bukan orang beriman jika tindakannya justru menimbulkan kecemasan dan kekacauan di tengah masyarakat. Ciri khas orang beriman adalah orang yang memberikan rasa aman kepada lingkungannya.
Nabi mengilustrasikan iman dengan beberapa cabang. “Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘Laa ilaaha illallah’ (tidak ada Tuhan selain Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman.((HR. Muslim dan Bukhari).
Iman itu bukan sekedar persoalan keyakinan ketuhanan, tetapi tentu saja yang paling dari keimanan adalah persoalan keimanan. Namun, praktek kebaikan sosial seperti yang dicontohkan Nabi memberikan rasa aman kepada pengguna jalan adalah bagian dari iman.
Jika sekedar menyingkirkan batu, kerikil, dan gangguan lainnya di tengah jalan adalah bagian iman, tentu hal yang lebih besar dari itu seperti menjamin keamanan masyarakat adalah sebuah praktek keimanan. Iman itu adalah bagian dari tindakan kebaikan sosial.
Karena itulah, dalam beberapa hadist Nabi selalu menjadikan syarat kebaikan sosial sebagai sempurnanya keimanan. Misalnya, hadist Nabi tentang sempurnanya orang beriman ketika ia menghormati tamu, sempurnanya orang beriman ketika menghargai tetangganya dan bahkan sempurnanya iman ketika ia mampu berkata baik.
Nabi bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” (HR Bukhari dan Muslim). Jadi, orang beriman adalah orang yang mampu memberikan rasa aman terhadap orang lain akibat mulut atau lisannya. Orang yang selalu menebar kebencian dan makian sesungguh bukan orang beriman yang sempurna.
Bukan orang beriman, kata Nabi, kecuali orang itu mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Sungguh iman adalah sesuatu yang mahal dan tidak hanya persoalan keyakinan semata. Bukti keimanan harus dipraktekkan dalam tindakan kebaikan yang mampu memberikan rasa aman kepada yang lain.
Karena itulah, bukan orang yang beriman atau tidak sempurna keimanannya orang yang mengklaim diri paling memegang tauhid, tetapi tindakannya selalu meresahkan, menimbulkan kecemasan dan kekacauan di tengah masyarakat. Merasa diri paling memurnikan iman, tetapi dalam tindakannya ia justru merusak keamanan.
Iman tidak boleh hanya didiamkan menjadi keyakinan, tanpa praktek kebaikan. Namun sebaliknya praktek kebaikan harus mempunyai dasar yang kuat tentang ketuhanan. Karena itulah, Nabi meletakkan level paling tinggi keimanan adalah persoalan Tauhid.






