Anak-anak menjalani rutinitas sehari-hari dengan harapan ingin tetap bahagia. Mereka bersekolah, bermain, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Dunia yang makin ramai dalam tatapan digital kerap menghentikan suasana bahagia sebagaimana mestinya. Namun, salah satu tajuk rencana di Harian Kompas edisi 12 September 2024 memberi posisi penting akan arti kebahagiaan dalam menjalani kehidupan, yang berwujud keberadaan pohon bagi anak-anak.
Keterhubungan di antara keduanya tak lain terkait isu berkepanjangan, krisis iklim. Para pengamat dan hasil forum internasional sejauh ini agaknya hanya memiliki dua langkah dalam menghadapi krisis iklim, masing-masing adalah mitigasi dan adaptasi. Di sana pohon menjadi bagian adaptasi dalam menghadapi krisis iklim. Krisis iklim salah satunya berdampak pada kenaikan suhu lingkungan. Panas itu berbahaya bagi tubuh.
Di kota Phoenix, Arizona, Amerika Serikat pada 3 September 2024 terdapat catatan suhu terpanas sebesar 37,9 derajat celcius. Di tajuk rencana berjudul “Adatasi terhadap Suhu Panas” tersebut mengabarkan banyak sekolah di Amerika Serikat menjalankan misi membuat halaman sekolah menjadi hijau. Mereka mengganti aspal atau karet menjadi halaman hijau, dengan cara menanam rumput dan pepohonan serta mengupayakan kebun.
Pohon menjadi penting lewat keterangan: “Para ahli mengatakan, pohon adalah salah satu cara terbaik untuk mendinginkan ruangan. Pohon menurunkan suhu udara dan permukaan. Menurut penelitian, naungan dari pohon dapat mengurangi panas yang dialami anak-anak sekolah hingga 21 derajat Celsius.” Kita tak diajak berpikir mengenai mesin pendingin untuk mengatasi panas, namun berhubungan dengan pohon.
Pada 1982, Emha Ainun Nadjib membuat puisi berjudul “Sajak Pohon di Udara”. Kita dapat membaca lewat bukunya dengan judul Sesobek Buku Harian Indonesia (Bentang, 1993). Beberapa larik terbaca: Karena matahari tak pernah tua,/ maka harapan selalu menyala,/ tetapi karena hasrat tak pernah ada batasnya:/ matahari bisa berarti sebaliknya// Bung! Ladang-ladang kita telah dikeringkan,/ pepohonan ditebang,/ sawah-sawah diratakan,/ sebab tak mengandung masa depan.//.
Emha nampak ingin mengajak pembaca untuk merenungkan perubahan ekologi. Ia memberi keterangan-keterangan sebagai renungan masa depan. Emha tak mengeklaim sedang bicara krisis iklim, namun ia telah berpikir lebih maju. Kita masih mendapatkan keterangan pohon dalam puisi tersebut, tepatnya pada larik: Pohon-pohon hidup, pohon-pohon impor,/ meraung raung dan gaduh di sepanjang jalan-jalan kota dan desa//.
Puisi Emha mengajak kita menengok penghormatan terhadap pohon. Kini, pohon mudah tersingkir di jalan-jalan. Pohon-pohon kerap mendapati sakit, ketika baliho iklan dan politisi ditempelkan dengan cara memaku. Pohon telah jauh dari kata sakral. Kita telanjur mudah tak mengacuhkan pohon dari hakikat ilmu dan pengetahuan. Padahal, melalui keberadaan pohon, manusia terbantu dalam pasokan oksigen untuk bernapas.
Keterangan itu membuat kita berpikir pohon dalam konteks mutakhir yang membawa pada aras kekhawatiran. Majalah National Geographic edisi Mei, 2022 mengangkat topik utama berupa “Menyelamatkan Hutan”. Frasa itu mudah membawa pembaca pada persoalan pohon. Di hutan-hutan, pohon mulai terancam. Terdapat keterangan penting: “Manusia terikat pada hutan. Pepohonan memberi kita makan, melindungi kita, memberi pengobatan. Kita bersandar pada mereka sebagai sumber keajaiban dan inspirasi.”
Di kehidupan perkotaan, mereka masih ingin mengadopsi hutan sebagai bahasa publik dengan sebutan ruang hijau atau taman. Kehidupan urban menaruh harap akan pohon-pohon di sana. Hal itu tak terlepas dengan nasib pohon di jalanan yang menghadapi gejolak dengan polusi dari transportasi yang menurunkan kualitas udara. Kota terancam dari keteduhan. Di sana cenderung mudah merasakan panas. Belum lagi ditambah kemacetan yang menyiksa jiwa dan raga.
Pada beberapa kota di Amerika Serikat, kita diajak memaknai ulang akan keberadaan pohon melalui lakon anak-anak. Pohon yang memberi jawaban atas masalah yang membayangi masalah-masalah terkait lingkungan. Anak-anak mengajak pada kesadaran untuk menghormati keberadaan pohon. Mereka tahu, panas yang dirasakan tak cukup dijawab dengan teknologi yang tersedia. Mereka menyiratkan ingatan pada alam.
Dengan begitu, pohon dimaknai sebagai sesuatu yang sakral dari renungan jiwa terhadap kehidupan. Betapapun, menarik membaca uraian Mircae Eliade dalam bukunya yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Nurwanto dengan judul Sakral dan Profan: Menyingkap Hakikat Agama (Fajar Pustaka Baru, 2002). Mircea Eliade memberikan uraian mengenai fenomena yang sakral di dalam kompleksitas kehidupan manusia. Tentang keseimbangan dan pengantisipasian kerusakan.
Ia menjelaskan bagaimana pohon menjadi simbolisme kehidupan yang terus melakukan pembaharuan. Jelasnya: “Misteri penampilan kehidupan yang tiada habisnya diikat dengan pembaharuan ritmik pada kosmos. Inilah mengapa kosmos diimajinasikan dalam bentuk pohon raksasa; pola wujud dari kosmos, dan terutama dalam kemampuan untuk melakukan regenerasi yang tiada pernah berakhir, ditunjukkan secara simbolik oleh kehidupan pohon.”
Anak-anak itu tidak sedang mengkhayalkan maupun menghafalkan teori yang didapatkannya di sekolah melalui buku-buku pelajaran. Akan tetapi, mereka telah melakukan terobosan atas permenungannya terhadap lingkungan. Raga tegerak dengan acuan pada keberadaan pohon sebagai wujud keselarasan. Mereka mengembalikan makna sakral yang terdapat dari pohon. Pohon yang memperpanjang harapan dan memberi keselamatan.









