Menu

Mode Gelap

Perempuan · 4 Okt 2021 12:00 WIB ·

Wanita Milenial Wajib Paham Hijrah dan Jihad, Agar Tidak Jadi Teroris


					Wanita Milenial Wajib Paham Hijrah dan Jihad, Agar Tidak Jadi Teroris Perbesar

Jalanhijrah.com-Indonesia kembali geger ketika terjadi terorisme yang melibatkan wanita milenial di Makassar beberapa waktu yang lalu. Aksi tersebut diduga sebagai radikalisme yang masih sangat kental di beberapa golongan yang belum bisa melakukan sikap toleransi. Aksi tersebut menyudutkan salah satu golongan ataupun agama sehingga akan berdampak memecah belah persatuan dari Indonesia.

Radikalisme itu sendiri adalah sebuah kelompok atau gerakan dengan tujuan mencapai kemerdekaan dengan pandangan ekstrem dan keinginan untuk perubahan social yang cepat. Radikalisme sangat erat dengan ektremisme dan terorisme. Terorisme itu berasal dari sikap radikal yang menganggap selain kelompoknya adalah salah. Radikalisme dan terorisme merupakan ancaman yang benar-benar nyata bagi bangsa Indonesia.

Pelaku terorisme di Makassar adalah sepasang suami istri anggota dari JAD (Jamaah Ansharut Daulah) yang melakukan ini dengan motif amaliyah jelang Ramadhan yang termaksuk dari jihad. Tapi cara jihadnya yang salah. Meledakkan bom di depan Gereja Katedral Makassar. Peristiwa tersebut terjadi ketika banyak orang berlalu lalang. Dua orang sebagai pelaku tewas dan 20 orang lainnya luka-luka.

Peristiwa ini bukan hanya sekali 2 kali terjadi, tapi sudah menjadi isu yang serius. Apalagi dilibatkannya wanita atau istri dalam tindak terorisme sebagai bentuk patuh terhadap suami yang malah mencelakai dirinya sendiri. Perempuan di pedesaan yang tingkat pendidikan dan ekonominya rendah lebih rentan terpengaruh radikalisme. Anak-anak gadis apabila suaminya kombatan meninggal di peperangan, nanti dinikahi lagi oleh kombatan lain, dan mau tidak mau harus diterima.

Baca Juga  Khotbah Haji Terakhir Rasulullah, Hormatilah Perempuan

Keterlibatan wanita dalam radikalisme ini yang dulunya hanya sebatas berperan sebagai pengelola data melalui jaringan internet, pengumpul dana atau pendorong jihad sang suami yang notabane nya “Teroris” kini juga ikut dalam aksi pengeboman. Hal ini menjadi suatu kegelisahan baru untuk seluruh elemen masyarakat Indonesia.

Perlu adanya paham radikalisme, toleransi serta arti jihad yang sesungguhnya kepada seluruh masyarakat terutama kaum wanita milenial yang hidup di zaman modern yang mengalami penyebaran informasi yang begitu cepat, bila lengah kita akan mengkonsumsi seluruh informasi yang benar ataupun hoaks, tanpa filtrasi informasi yang benar.

Radikalisme ini sendiri merupakan posisi ekstrem, karena fanatisme agama dari pengikutnya, dan secara mudahnya melabelkan kafir kepada orang yang tidak sepaham dengan agama sesuai yang dianutnya. Korban dari golongan radikal ini adalah orang yang tidak benar-benar memahami agamanya, secara gampang mempercayai tentang jihad yang dipelajarinya melalui media sosial ISIS.

Wanita harus paham mengani jihad, terutama wanita milenial yang kini banyak belajar melalui media sosial. Harus ada guru yang bisa memfilter ilmu yang didapatnya. Secara etimologis, jihad berarti aktivitas yang dilakukan manusia secara sadar yang melibatkan 2 pihak dimana keduanya berusaha saling mengalahkan. arti jihad berkembang menjadi sesuatu yang mengharuskan untuk memerangi musuh Islam dan orang-orang kafir menurut golongan radikal.

Radikalisme menanamkan konsep jihad besar, yaitu dengan turun langsung ke medan perang dan itu merupakan tugas laki-laki. Sementara perempuan menjadi pendorong dan penguat bagi para laki-lakinya. Peran lainnya dari seorang perempuan adalah menjadi seorang yang menyiapkan jundi yang akan menjadi jundullah, tentara Allah. Secara keseluruhan, peran perempuan dalam aksi terorisme yang dipropagandakan oleh radikalisme bukanlah menjadi pelaku sentral.

Baca Juga  Radikalisme Sasar Perempuan

Berdasarkan hasil wawancara terhadap dua pelaku aksi penyerangan Mako Brimob yang dilakukan oleh Tempo. Siska dan Dita mempelajari ISIS melalui internet dengan mendengarkan ceramah-ceramah pimpinan JAD Aman Abdurrahman. Siska sangat setuju dengan propaganda ISIS, menurutnya ISIS senantiasa memperjuangkan berdirinya Daulah Islam yang sesuai dengan perintah Rasul. Sementara, demokrasi yang diterapkan di Indonesia menurutnya adalah lingkar setan.

Paham yang seperti inilah yang kemudian sangat membahayakan. Apalagi di era digital seperti sekarang sangat mudah untuk siapa saja mengakses segala bentuk pembelajaran yang bersumber dari paham radikal dan ajakan-ajakan untuk berjihad melalui aksi teror dengan embel-embel ganjaran surga. Aksi terorisme dengan kekerasan ini malah mengatasnamakan jihad agama islam, padahal islam tidak pernah mengajarkan melakukan kekerasan kepada sesama manusia.

Perlu adanya edukasi yang signifikan di lingkungan serta kelompok-kelompok tertentu, pembatasan informasi yang mengandung unsur hoax, agar masyarakat milenial di era digital tidak mudah mengakses informasi yang salah. mereka juga dibekali keterampilan tentang cara-cara mendeteksi bila ada gerakan-gerakan berbau radikalisme dan terorisme di masyarakat.

Para kaum perempuan diajak untuk tidak gagap teknologi. Pasalnya, saat ini dunia komunikasi melalui internet menjadi sasaran penyebaran radikalisme dan terorisme. Karena itu kaum perempuan tidak anti menggunakan media sosial. Dengan demikian peran orang tua akan berpengaruh terhadap pengawasan penggunaan medsos anak.

Baca Juga  Melihat Nasib Keluarga yang Terkatung-katung Pasca Dibohongi ISIS
Artikel ini telah dibaca 22 kali

Baca Lainnya

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam

25 Januari 2023 - 10:00 WIB

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam
Trending di Perempuan