Jalanhijrah.com-Sekarang ini banyak orang yang menginginkan menjadi pribadi yang mulia. Fatalnya, tidak sedikit orang yang mengira menjadi pribadi yang mulia itu harus menjadi orang yang kaya dan bisa melakukan segala hal. Padahal, untuk bisa menjadi pribadi yang mulia, menurut para ulama setidaknya bisa dilihat dari 3 karakter

Salah seorang ulama, Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (wafat th. 187H) menyatakan setidaknya untuk menjadi pribadi mulia itu harus memiliki tiga karakter.

لَمْ يُدْرِكْ عِنْدَنَا مَنْ أَدْرَكَ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلاَةٍ؛ وَإِنَّمَا أَدْرَكَ عِنْدَنَا بِسَخَاءِ الأَنْفُسِ، وَسَلاَمَةِ الصَّدْرِ، وَالنُّصْحِ لِلْأُمَّةِ

Artinya: “Di kalangan kami, seseorang tidak dikenal (sebagai orang yang mulia) dengan banyaknya puasa dan shalat. Akan tetapi, kami mengenali seseorang (sebagai orang yang mulia) dari jiwanya yang dermawan, hatinya yang selamat, dan senang menasehati umat.” (Lihat Sayrus Salafus Shalihin Li Qiwaamis Sunnah, hal. 1034)

Menitik pada pendapat ini, maka untuk menjadi pribadi yang mulia lakukanlah 3 hal berikut

Pertama, menjadi jiwa yang dermawan. Nabi Muhammad sendiri dalam hadisnya, orang yang bisa dekat dengan manusia, mudah bergaul dengan manusia adalah orang yang dermawan. Orang yang bisa bergaul dengan siapa saja tentu adalah pribadi yang mulia.  Selain menjadikan pribadi yang mulia, memiliki sifat dermawan adalah hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan surga

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ

Baca Juga  Merdekakan Diri Dengan Sifat Qonaah

Artinya: “Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang pelit itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah ketimbang ahli ibadah yang pelit.” (HR Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Kedua, memiliki hati yang bersih. Secara sederhana untuk menjadi pribadi yang unggul, seseorang setidaknya harus memiliki karakter ini, tidak mudah iri, dengki dan sombong. Menjadi pribadi mulia, ia tidak silau dan iri dengan kesuksesan seseorang. Menjadi pribadi unggul tentu selalu memiliki kebersihan hati dari sifat yang bisa merusaknya seperti iri, dengki, sombong dan lain sebagainnya

Ketiga, suka memberi nasehat dan juga suka dinasehati. Imam Nawawi sendiri dalam sebuah pendapatnya menyatakan bahwa pangkal dari agama adalah sikap saling menasehati

مَدَارُ الدِّيْنِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَحَادِيْثَ وَأَنَا أَقُوْلُ بَلْ مَدَارُهُ عَلَى حَدِيْث الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Para ulama berpendapat bahwa poros dasar agama ini berputar pada empat hadis, sedangkan saya berkata bahwa poros itu berputar pada satu hadis. Yaitu, sabda Nabi, ‘Agama adalah nasihat.‘” (Lihat Basha’ir Dzawit Tamyiz, 5: 64)

Demikianlah 3 hal yang perlu dilakukan untuk menjadi pribadi yang mulia. Wallahu a’lam bishowab.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *