Pentingnya Berdakwah Tanpa Amarah

Judul Buku: 80 Pepeling Diri, Penulis: M. Husnaini, Penerbit: Haura Utama, Cetakan: I, Agustus 2023, Tebal: 157 halaman, ISBN: 978-623-492-552-4, Peresensi: Sam Edy Yuswanto.

Jalanhijrah.com Berdakwah mestinya dilakukan dengan cara-cara terpuji tanpa disertai amarah. Sebagai umat Islam, sudah seharusnya kita selalu  berupaya meneladani perilaku mulia Nabi Muhammad Saw. yang dalam setiap dakwahnya selalu diwarnai dengan kasih sayang dan kelembutan. Beliau bukanlah sosok yang mudah marah saat ada orang yang dengan sengaja memancing amarahnya.

Dakwah beliau yang kental dengan kasih sayang dan rasa kemanusiaan, membuat banyak orang yang awalnya sangat benci dan memusuhinya, lantas berubah haluan: menyatakan keimanan di hadapannya.

Ada satu kisah menarik yang semoga dapat kita jadikan sebagai renungan terkait bagaimana cara beliau memperlakukan orang yang berlaku kurang ajar padanya. Kisah tersebut diceritakan oleh M. Husnaini dalam buku terbarunya ini.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah sedang bersama para sahabat, tiba-tiba seorang Yahudi bernama Zaid bin Sihnah nyelonong masuk tanpa salam. “Muhammad, mana pembayaran utangmu?” hardiknya. “Kalian Bani Hasyim memang sudah dikenal kalau bayar utang selalu molor” lanjutnya.

Sontak saja ucapan Yahudi tersebut langsung membuat para sahabat Nabi mengangkat muka. Yang paling gusar tentu saja Umar bin Khaththab. Duduk di sebelah Nabi, Umar bergegas bangkit dan menghunus pedang. “Izinkan saya memenggal leher orang yang sudah berani kurang ajar kepada Baginda Rasulullah ini,” kata Umar tegas.

Di luar dugaan justru Rasulullah bermuka sangat manis, “Bukan itu yang diperlukan, wahai Umar,” tutur beliau dengan lembut. “Ajarkan kepada orang ini akhlak yang baik dalam menagih, dan kepadaku agar juga cepat kalau membayar utang,” Bukan marah, beliau malah menampakkan keteduhan sikap.

Baca Juga  Bolehkah Aborsi Demi Keselamatan dan Kesehatan Ibu?

Semua yang hadir pun tercengang dan kagum melihat sikap Nabi yang benar-benar di luar dugaan mereka. Tiba-tiba Zaid memecah keheningan. “Demi Allah!” tutur penagih utang itu dengan suara gemetar, “Saya tidak lupa bahwa waktu membayar utang memang belum tiba. Sengaja saya tagih lebih cepat, dengan cara yang kasar pula, saya ingin menguji dan membuktikan apakah Muhammad benar-benar Nabi seperti yang dikabarkan Taurat. Segala sifat beliau di kitab suci kami telah saya pelajari dan buktikan, kecuali satu yang belum.”

Semua menyimak Zaid menggenapkan kalimat, “Yaitu bahwa Muhammad ini bijaksana ketika marah. Hari ini telah saya buktikan, dan saya puas sekali.” Kemudian, di hadapan Nabi dan para sahabat, Zaid bin Sihnah, rabi Yahudi itu, langsung luruh dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia memeluk Islam bukan karena ceramah atau khotbah, melainkan kelembutan akhlak Rasulullah.

Dari kisah tersebut kita tentu dapat memetik hikmah yang sangat luar biasa, salah satunya terkait cara menghadapi orang yang kurang ajar kepada kita. Berusahalah untuk membalasnya dengan dengan kelembutan dan kasih sayang. Hindari meluapkan amarah kita.

Cara berdakwah dengan perilaku mulia inilah yang mestinya selalu kita jadikan cerminan dan praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan, dengan orang nonmuslim saja Rasulullah mampu bersikap sedemikian bijak dan ramah, apalagi dengan sesama Muslim?

Sangat jauh berbeda dengan sebagian kita selama ini, yang begitu mudah terpancing amarah hanya gara-gara berbeda pendapat, padahal sama-sama Muslim. Tak jarang ada yang begitu beringas dan menuduh kafir dan sesat pada sesama Muslim.

Baca Juga  Istri Ngidam, Haruskah Suami Menurutinya? Berikut Ketentuannya dalam Islam

Orang yang mudah marah dan enggan menerima pendapat orang lain, menandakan hatinya sempit sehingga hidupnya akan diwarnai ketidakbahagiaan. Saya setuju dengan pendapat M. Husnaini dalam buku ini, bahwa kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah ketika berhasil mengikis marah dan buruk sangka.

Jika diperhatikan, mereka yang sukses di bidang masing-masing, di antara kuncinya, ternyata jarang marah dan selalu mengedepankan baik sangka.

Hijrah Tanpa Ilmu  

Saat ini kita mengenal istilah hijrah. Istilah ini biasanya ditujukan kepada orang yang semula memiliki perilaku yang kurang baik bahkan buruk, kemudian berusaha menjadi lebih baik dengan cara berhijrah.

Misalnya, para artis perempuan yang semula hobi buka-buka aurat, lantas memutuskan untuk ‘hijrah’ dengan cara mengenakan kerudung dan menutupi tubuhnya dengan busana Muslimah. Begitu juga dengan artis laki-laki yang tiba-tiba berubah tampilan menjadi tampak alim, mengenakan baju koko, celana ngatung, dan berjenggot.

Tentu, perubahan para artis tersebut harus kita sambut dengan suka-cita, karena mereka bisa menjadi contoh bagi artis-artis lain agar mengikuti upaya baik mereka untuk menjadi sosok pribadi yang lebih baik lagi.

Hanya saja, yang disayangkan terkadang sebagian dari mereka, baik yang artis maupun bukan, kurang memahami arti dari hijrah itu sendiri. Istilahnya, mereka ada yang salah kaprah dalam berhijrah.

Sebagian dari mereka terlalu keras dalam berislam, mudah menghakimi orang lain, atau melakukan dakwah tapi dengan cara ekstrim dan tak mau menerima pendapat ulama-ulama yang berseberangan pendapat dengan ulama-ulama yang dianutnya.

Padahal perbedaan pendapat di kalangan para ulama adalah keniscayaan, bahkan termasuk rahmat. Jadi, bukan untuk diperdebatkan oleh orang awam yang tak begitu paham agama, apalagi sampai mendakwa pendapat kita sendirilah yang paling benar.

Baca Juga  Terorisme Itu Bukti Kedangkalan Spiritual, Bagaimana Memberantasnya?

Dalam buku ini, M. Husnaini juga menyinggung soal fenomena salah hijrah ini. Dalam artian, sebelum hijrah, mereka kerap meratapi dosa dan kesalahan sendiri, begitu sudah hijrah, mereka justru sibuk mengintai dan menghakimi orang lain dengan menyebutnya penuh dosa, ahli bidah, pelaku syubhat, sesat jalan, dan semisalnya.

Kenapa muncul sikap arogan dalam beragama? Ekstremitas semacam itu barangkali lahir akibat pemahaman terhadap ajaran agama secara tidak utuh. Ibarat orang belajar Aritmatika, ketika baru tahu penambahan, begitu ditanya bilangan berapa yang jika dioperasikan akan ketemu hasil 10, pasti akan ngotot menyodorkan dua angka yang lebih kecil dari 10, seperti 5+5 atau 8+2.

Berbeda sekali dengan orang yang, selain penambahan, sudah mengenal pengurangan, perkalian, pembagian. Jawaban yang diajukan untuk pertanyaan “bilangan berapa yang jika dioperasikan akan ketemu hasil 10” tentu lebih banyak pilihan (hlm. 12).

Sangat menarik membaca tulisan-tulisan dengan tema yang sangat beragam karya M. Husnaini dalam buku ini. Semoga hadirnya buku ini dapat menjadi ‘pepeling diri’ (pengingat untuk diri kita), atau semacam sarana introspeksi diri, agar kita tidak serampangan dalam bergaul dengan sesama manusia.

Terutama saat kita hendak berdakwah, berusahlah untuk menahan diri agar tidak mudah terpancing amarah. Hendaknya, kita selalu berusaha mengedepankan akhlak mulia yang sudah dicontohkan secara lengkap oleh baginda Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Sam Edy Yuswanto

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *