Menu

Mode Gelap

Perempuan · 28 Feb 2022 12:00 WIB ·

Optimalisasi Peran Perempuan dalam Menangkal “Family Terrorism”


					Optimalisasi Peran Perempuan dalam Menangkal “Family Terrorism” Perbesar

Jalanhijrah.com – Jika diamati, dalam beberapa tahun terakhir ini aksi teror di Indonesia menunjukkan gejala yang mengarah pada fenomena “family terrorism”. Istilah family terrorism merujuk pada fenomena aksi teror yang melibatkan anggota keluarga, mulai dari bapak (suami), ibu (istri), dan anak.

Fenomena family terrorism ini bisa kita lihat dari sejumlah aksi teror yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan. Antara lain, peristiwa teror bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia pada tanggal 28 Maret 2021.

Pelaku bom bunuh diri di Makassar diketahui merupakan pasangan suami-istri. Bahkan, sang istri teridentifikasi tengah berbadan dua alias hamil. Pola serupa juga terjadi pada aksi bom bunuh diri Surabaya tahun 2018 yang menyasar tiga gereja.

Yaitu Gereja Pusat Pantekosta Surabaya, Gereja Kristen Indonesia Diponegoro, dan Gereja Santa Maria. Satu keluarga terdiri atas dua orang tua dan empat anak menjadi pelaku bom bunuh diri di tiga gereja tersebut.

Jika ditarik ke awal munculnya aksi teror di Indonesia, fenomena family terrorism ini sebenarnya muncul sejak peristiwa Bom Bali 1. Tiga dari empat pelaku utama, yakni Amrozi, Ali Imron dan Mukhlas merupakan saudara kandung. Kini, fenomena family terrorism kerap melibatkan perempuan (istri) dan anak-anak.

Jaringan teroris yang berafiliasi dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) bahkan menjadikan family terrorism ini sebagai strategi andalannya. Proses rekrutmen ISIS umunya tidak hanya menyasar individu, melainkan lebih menyasar satu anggota secara keseluruhan.

Baca Juga  Mudarat Reuni PA 212: Antara Pandemi dan Mobokrasi

Menjadi wajar jika banyak aksi teror yang dilakukan oleh anggota atau simpatisan ISIS dilakukan oleh satu keluarga; suami, istri, bahkan anak.

Fenomena family terrorism ini tentu mengkhawatirkan. Seperti kita tahu, keluarga merupakan inti dari masyarakat. Kualitas keluarga menentukan kualitas masyarakat. Apa jadinya jika keluarga terpapar ideologi radikal bahkan menjadi pelaku kekerasan dan teror atas nama agama?

Fenomena family terrorism juga mengindikasikan bahwa perempuan dan anak-anak memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap infiltrasi terorisme. Di titik inilah, perempuan kiranya bisa berperan dalam menjaga keluarga dari infiltrasi ideologi dan gerakan radikal-terorisme.

Perempuan harus menjadi pilar bagi penguatan resiliensi (daya tahan) keluarga dari tarikan arus konservatisme dan ekstremisme yang datang dari segala arah. Peran perempuan di zaman ini tentu tidak hanya terbatas di ruang private alias domestik, namun juga merambah ruang publik.

Dalam konteks domestik, ibu memiliki peranan penting dalam membentuk keluarga yang relijius sekaligus moderat. Dengan tidak mengesampingkan keterlibatan ayah, peran ibu dalam pengasuhan (parenting) dan pendidikan karakter anak sangat penting.

Seorang penyair Hafiz Ibrahim berujar, “al ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Artinya, perempuan ialah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sedangkan dalam konteks publik, perempuan atau ibu bisa berperan dalam mewujudkan moderasi beragama.

Ada setidaknya empat hal penting yang harus dilakukan perempuan untuk mencegah keluarganya terpapar ideologi radikal-terorisme.

Baca Juga  Merdeka bagi Kami, Perempuan di Balik Penjara Suci

Pertama, membangun kemandirian finansial dan sosial.Sejumlah riset menunjukkan bahwa perempuan yang bekerja, memiliki penghasilan, dan mengaktualisasikan dirinya dalam ruang sosial yang inklusif cenderung sulit terpapar ideologi radikal-terorisme.

Sebaliknya, perempuan yang tidak mandiri secara finansial dan hidup dalam ruang sosial yang eksklusif cenderung mudah terinfiltrasi ideologi radikal-terorisme.

Kedua, mengembangkan dan memperkuat kemampuan berpikir rasional dan kritis, terutama dalam memahami isu-isu sosial, politik, dan keagamaan. Nalar kritis ini diperlukan agar perempuan tidak mudah terjebak janji-janji utopis yang kerap dijajakan oleh para pengasong radikalisme.

Ketiga, memperkuat kemampuan literasi digital. Di era banjir informasi seperti saat ini perempuan harus memiliki kecakapan untuk memilah dan memilih informasi dan pengetahuan yang tersebar di dunia digital, baik internet maupun media massa.

Jangan sampai, perempuan terjebak oleh narasi keagamaan ekstrem yang saat ini banyak disebarluaskan melalui teknologi digital.

Ringkas kata, fenomena family terrorism dapat ditangkal dan dicegah dengan memperkuat resiliensi (daya tahan) keluarga dari paparan ideologi radikal-terorisme. Perempuan atau ibu sebagai pilar penting ranah domestik (rumah tangga) idealnya bisa berperan penting menjaga keluarganya dari infiltrasi ideologi dan gerakan radikal-terorisme.

Artikel ini telah dibaca 18 kali

Baca Lainnya

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam

25 Januari 2023 - 10:00 WIB

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam
Trending di Perempuan