MUI Kebobolan Teroris Bukti Teroris Bercokol di Segala Tempat

Jalanhijrah.com-Diringkusnya anggota MUI oleh Densus 88 sebab terlibat terorisme, tanda bahwa MUI tidak baik-baik saja. MUI yang selama inj menjadi corong pembuat fatwa halal-haram demi kemaslahatan umat, ternyata menyimpan sekam yang membara.

Hari ini sekam itu terbakar. Tapi baru pucuknya. Kita belum tahu sekujur tubuh MUI bersih dari radikalisme-terorisme. Mengingat MUI cenderung ekstrem dalam sejarah fatwa-fatwanya.

Sebagian orang menganggap MUI diandaikan punya otoritas dalam tataran keagamaan. Kendati teranggap pasti moderat secara sendirinya. Apalagi terlihat, anggota MUI kini, banyak yang berkoar dalam bidang moderatisme agama, serta program deradikalisasi.

Namun, mungkinkah hanya cukup bersandar pada anggota MUI yang vokal di media sosial itu untuk melihat suatu bangunan utuh MUI? Lalu, bagiamana cara melihat tubuh MUI sebagai representatif ulama-ulama dan keagamaan di Indonesia?

MUI Bukan Representatif Ulama Indonesia

Banyak kajian yang menghasilkan tesis bahwa, MUI di dalamnya terpecah-pecah. Baik dalam fokus suara, serta bagaimana melihat dinamika agama-agama di Indonesia. Fatwa-fatwanya juga terlihat over laps dan sering tidak seragam. Bahkan berkontestasi.

Para anggota MUI dari pelbagai ormas agama dan partai. Termasuk ormas kanan yang berpaham ekstrem. Jelas di sini, secara teori ada ragam kepentingan. Memang tak mudah bersepakat dari banyak suara. Tapi setidaknya, MUI tak kebobolan seorang (mantan) teroris masuk dan bergabung di dalamnya.

Baca Juga  Mengapa Nasionalisme itu Wajib?

Masuknya teroris dalam keanggotaan MUI mengindikasikan MUI lemah “di dalam”. Meski banyak anggota MUI yang moderat atau yang sering memberikan program deradikalisasi, fakta di lapangan menunjukkan mereka tidak bisa apa-apa. Kecuali mengomentari “di luar”. Terkesan terlalu elitis.

Ini kelemahan MUI sebenarnya. Tahap seleksi pengurus dan edukasi di dalam gagal. Namun, beruntunglah keajaiban itu datang. Densus 88 bergerak cepat tanpa permisi dan membayar kontan.

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap Ahmad Zain An-Najah. Ahmad ditangkap bersamaan dengan Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI) Ustaz Ahmad Farid Okbah. Kedua-duanya sama-sama terindikasi terlibat jaringan radikalisme dan terorisme.

Harus diakui sebagai fakta bahwa MUI tidak steril daripada teroris dan ekstremnya agama. Buang jauh-jauh anggapan MUI perwakilan para ulama dan orang orang saleh. Jika dengan tertangkapnya MUI karena kasus teroris, diakui sebagai sebuah kesalahan. Maka, selanjutnya bisa mendapat strategi, celah, dan solusinya.

Harus Bersih Luar dan Dalam

Yang paling penting MUI tidak anti kritik dari luar. Karena sejatinya, kritik adalah sebuah solusi. Siapa yang anti kritik sama dengan anti perbaikan dan kemaslahatan.

Sebab, jika kita lihat genealogis penangkapan MUI kemarin, kita melihat bahwa MUI sudah lama kebobolan. Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan mengaku telah lama menyampaikan bahwa ada oknum di MUI yang terindikasi terlibat jaringan radikalisme dan terorisme, tapi banyak anggota MUI diam saja.

Baca Juga  Blundernya Argumen PKS tentang RUU TPKS

MUI akhirnya “basah” dalam jebakan anggota terorisme. Sangat disayangkan jika yang lain berkoar deradikalisasi, sedang yang lainnya menjadi pemain radikalisme-terorisme itu sendiri. Jelas terang-terang program MUI ditusuk dari dalam.

MUI harus bersih-bersih kedirian dulu. Sebelum omong banyak ke pihak luar. Di samping itu juga, harus lebih vokal lagi dalam menentramkan umat lewat programnya yang taktis. MUI harus membangun sistem dan ekosistem yang mempunyai dampak solutif dan baik bagi masyarakat luas.

Dalam hal ini, MUI segara membuat regulasi dan bersih-bersih dari dalam. Selain itu, kita, sebagaimana Ken, berharap pemerintah segera membuat regulasi yang melarang semua paham yang bertentangan dengan Pancasila. Karena mereka itu duri dalam daging, kalau pemerintah tidak tegas, maka akan semakin merajalela, karena mereka sudah menyusup kesemua kalangan, termasuk ASN dan TNI POLRI. Apalagi MUI. Sekarang saatnya MUI bersih-bersih jika punya keberanian.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *