Menguak Kebenaran dan Keadilan Palsu Para Pengasong Khilafah

Jalanhijrah.com-Dalam setiap pamflet maupun narasi verbal, para pengasong khilafah—terutama kalangan HTI—selalu menggunakan ‘kebenaran’ dan ‘keadilan’ sebagai jargon andalan. Keduanya seolah menjadi agenda inti organisasi Islam politik tersebut, yang disepakati semua kader untuk dibawa ke mana pun mereka berdakwah. Tentu jargon kebenaran dan keadilan tidak dipilih secara serampangan. Ada tujuan besar di situ yang jadi senjata ampuh propaganda khilafah selama ini.

Karena itu, menguak kebenaran dan keadilan ala pengasong khilafah menjadi sesuatu yang menarik. Apakah itu benar keadilan yang mereka perjuangkan atau justru ada fakta lain yang disembunyikan—kepalsuan jargon tersebut. Saya akan menganalisisnya secara akurat menggunakan orientasi wacana para pengasong khilafah selama ini, terutama yang para aktivis HTI lakukan. Jadi, saya tidak mengada-ada karena bertolak dari bagian inheren dari khilafahers itu sendiri.

Saya mulai dari kata “kebenaran”. Term ini kerap kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Semua orang suka kebenaran. Semua umat Islam pasti ingin selalu dalam kebenaran. Bahkan di antara umat Muslim, saling klaim kebenaran adalah hal yang biasa. Memang seperti itulah kebenaran: sangat seksi. Lawan katanya adalah kebatilan. Berbeda dengan kebenaran, tidak ada yang ingin berada dalam kebatilan. Dan dari fakta inilah, kebenaran menjadi sesuatu yang selalu diperebutkan.

Selanjutnya kata “keadilan”. Katakan kepada saya, siapa yang ingin hidup dalam tirani? Tidak ada. Siapa yang rela melihat ketidakadilan berkuasa? Tidak akan pernah ada. Keadilan adalah sesuatu yang diimpikan semua pihak, dan ia tak kalah seksi daripada kebenaran. Keadilan harus diperjuangkan, maka banyak orang—sekali lagi terutama umat Muslim—yang ingin jadi pejuangnya; berjuang melawan ketidakadilan. Para pengasong khilafah masuk di situ.

Baca Juga  Tantangan Islam Nusantara dan Dilema Kesalehan Virtual

Namun, apa iya pengasong khilafah itu memperjuangkan kebenaran dan keadilan? Ini yang menarik. Sebab, sejauh ini, narasi mereka disebarkan melalui monopoli ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi, manipulasi sejarah, dan segala bentuk eksploitasi keberislaman lainnya. Wacana yang disebarkannya juga kerap destruktif, penuh hoaks, anti-kemaslahatan, dan lebih cenderung memperjuangkan kekuasaan politik. Apakah begitu cara kebenaran dan keadilan bekerja? Harus kita telaah.

Khilafah Itu Politik

Islam tidak mengajarkan sistem pemerintahan tertentu. Ini fakta yang tidak bisa dibantah. Sistem itu produk murni manusia, sebagai ijtihad sesuai konteks di mana dan kapan mereka hidup. Islam melalui Al-Qur’an dan hadis hanya mengajarkan tentang prinsip-prinsip dasar kepemimpinan, melingkupi keadilan, kesetaraan, dan kedamaian antarsesama. Pemimpin (uli al-amr) harus berpedoman pada prinsip tersebut, apa pun sistem pemerintahan yang digunakannya.

Nabi, pada abad ketujuh, menggunakan sistem teokrasi. Pada konteks masyarakat yang kesukuan nomadik, sistem tersebut memanglah yang terbaik. Nabi merangkap sebagai otoritas tertinggi agama dan politik, dengan prinsip keadilan dan kesetaraan. Empat sahabat pengganti Nabi menggunakan cara yang demokratis, karena memang itulah sistem yang relevan untuk mencegah perseteruan antarumat Islam yang majemuk. Masa-masa setelah itu menerapkan sistem monarki.

Kesemuanya itu disebut sebagai al-khilafah atau al-imamah, namun khilafah sebagai pemerintahan secara umum dan bukan sistem tertentu. Para pengasong khilafah keliru di sini. Mereka memungkiri fakta dan menolak kebenaran bahwa para al-khulafa’ al-rasyidun itu dipilih secara demokratis di satu sisi, dan bahwa monarki para dinasti Islam—Muawiyah hingga Utsmani—itu bukan syariat Islam melainkan ijtihad politik belaka di sisi lainnya.

Baca Juga  Keistimewaan Nabi Muhammad Yang Perlu Diketahui

Artinya, para pengasong khilafah sebenarnya tidak memperjuangkan kebenaran. Mereka justru memperjuangkan apa yang mereka anggap dan klaim benar, sekalipun jelas-jelas bukan kebenaran yang sesungguhnya. Mereka mengeksploitasi kebenaran, kemudian memanipulasi kebatilan sebagai kebenaran, serta mengatakan kepada umat Islam bahwa mereka adalah pejuang kebenaran. Kebenaran apa yang dimaksud, tidak lain adalah kebenaran manipulatif yang politis dan sarat kepentingan.

Yang benar, khilafah itu politik. Ini kebenaran yang asli. Hari ini, di Indonesia, monarki tidak relevan sama sekali. Tidak hanya karena kemajemukan negara ini tetapi juga karena sudah bukan zamannya kekuasaan politik bersifat turun-temurun. Maka, jika para pengasong khilafah itu menganggap politik sebagai syariat dan menganggap sistem yang islami di negara ini menyalahinya, padahal hakikatnya mereka hanya ingin berebut kuasa, apakah itu disebut memperjuangkan kebenaran? Fatal.

Raja-raja Khilafah yang Buruk

Berikutnya ihwal keadilan. Para pengasong khilafah selalu menuduh pemerintah hari ini sebagai rezim yang tidak adil—bahkan tidak memihak Islam sama sekali. Tuduhan yang sangat serius itu bergulir bersamaan dengan narasi perombakan sistem pemerintahan. Para pengasong khilafah pun mencontohkan keadilan dalam khilafah ala mereka pada sejarah dinasti-dinasti Islam. Namun mari kroscek bersama, benarkah monarki yang dianggap khilafah tersebut selalu bergelimang keadilan?

Untuk melihat itu, lebih baik kita masuk ke bukti sejarahnya langsung. Ada sejumlah fakta yang menarik diketahui dari sejarah dinasti Islam. Misalnya, Umar bin Abdul Azis yang terkenal raja baik itu ternyata wafat diracun. Khalifah ketujuh Umayyah, Sulaiman, orangnya narsis. Sudah baca sejarah tentang tragedi Abdullah bin Zubair dalam perebutan gelar ‘khalifah’? Bagaimana dengan kebengisan Yazid menghadapi oposisi, yang sampai membantai cucu Nabi dan para ahlulbait?

Baca Juga  Mimpi Menghapus Teroris di Indonesia

Ada juga Al-Manshur, raja kedua Abbasiyah, sang pecinta ilmu yang hobi memenjarakan ulama. Ada juga Abul Abbas, yang dijuluki penjagal dan penumpah darah (al-saffah) karena menggenosida Dinasti Umayyah saat kekuasaan beralih pada Abbasiyah. Tak hanya itu, ada juga raja Al-Walid bin Yazid yang dijuluki firaunnya umat Islam. Raja Hisyam dan Yazid bin Abdul Malik, Yazid bin al-Walid, dan lainnya juga memerintah dengan penuh fitnah dan pertumpahan darah antarumat Muslim.

Belum lagi ada raja yang suka mabuk, penggemar homoseks, dan hobi foya-foya. Keadilan apa yang dimaksud para pengasong khilafah dalam jargon yang mereka bangun hari ini? Jika bukti nas tidak ada, dan bukti sejarah juga tidak ada, maka keadilan yang diwacanakan jelas hoaks. Setiap masa pemerintahan pasti memiliki masalahnya sendiri, sehingga tidak patut membandingkan era sekarang dengan yang sudah lalu—apalagi dengan stigma dan spirit pemberontakan.

Raja-raja khilafah yang kerap diobrolkan para pengasong khilafah bukan malaikat yang selalu bergerilya dalam politik penuh keadilan. Terdapat banyak intrik di situ. Satu-satunya khazanah Islam yang paling berguna untuk hari ini, sebagai warisan era keemasan Islam, adalah “ilmu pengetahuan”. Itu saja. Bukan politik. Islam tidak maju karena sistem pemerintahan kala itu, melainkan karena ghirah umat Muslim ketika itu terhadap pengetahuan sangat besar. Sayangnya, ghirah umat hari ini lebih banyak ke politik saja. Para pengasong khilafah, contoh jelasnya. Amat disayangkan.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *