Home / Milenial / Ibadah Kurban Sebagai Implementasi Tauhid Sosial

Ibadah Kurban Sebagai Implementasi Tauhid Sosial

Ibadah Kurban Sebagai Implementasi Tauhid Sosial

Jalanhijrah.com-Perayaan Iduladha sebentar lagi akan tiba. Idul Adha identik dengan hari raya berkurban dan biasa disebut juga musim haji. Umat muslim berlomba-lomba agar mampu menunaikan ibadah haji dan membeli hewan kurban. Dalam konteks berkurban, banyak umat muslim yang masih memaknai kurban hanya sebatas ritual menyembelih.

Padahal, makna kurban secara bahasa berasal dari kata qoroba-yaqrobu-qurbaanan yang artinya mendekatkan diri.  Ibadah kurban atau ibadah udhiyyah, secara terminologis adalah menyembelih hewan tertentu pada hari raya Idul Adha dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dalam Kajian Indahnya Cahaya Islam, Siti Majidah Lc. M.A menyampaikan bahwa mendekatkan diri kepada Allah membutuhkan ketulusan dan keikhlasan. Allah Swt berfirman dalam Q.S. Al-Hajj ayat 37:

 لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Jadi, bukan ritual menyumbang daging kepada Allah Swt, tetapi keikhlasannya dalam beribadah kurban. Saat ini, banyak dari kita berbondong-bondong menyembelih atau berbangga-bangga dengan jumlah sembelihan. Padahal, sebanyak dan sebagus apapun hewan sembelihan, jika tidak ada niat bertaqwa kepada Allah Swt. untuk ikhlas dalam beribadah, maka tidak akan diterima.

Perintah Berkurban

Allah Swt memerintahkan kepada seluruh umat muslim untuk berkurban sebagaimana firmannya dalam Q.S. Al-Kautsar yang berbunyi:

إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلْأَبْتَرُ

Artinya: “ (1) Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. (2) Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). (3) Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)”.

Ada pula hadist tentang perintah berkurban yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

Artinya: “Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku-kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima di sisi Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban” (HR. Tirmidzi).

Sejarah Kurban

Dalam dialognya, Siti Majidah memaparkan empat sejarah kurban:

Pertama, masa Nabi Adam. Praktek berkurban pertama kali terjadi pada zaman Nabi Adam, di mana Nabi Adam berniat menikahkan silang anak-anaknya untuk melestarikan keturunanan. Habil dengan Iklima, Qabil dengan Sabuda. Tetapi Qabil tidak terima, sehingga Nabi Adam memerintahkan Habil-Qabil untuk berkurban sebagai bentuk ketakwaan dan ketaatan.

Ketika itu, Habil sebagai peternak memberikan ternak yang bagus, sedangkan Qabil sebagai petani hanya memberi hasil tani yang kurang bagus untuk berkurban, dan hasil tani yang bagus untuk dirinya. Maka kurban milik Habillah yang diterima, dan Qabil menjadi dengki hingga membunuh saudaranya.

Kedua, masa Nabi Ibrahim. Pada masanya, Nabi Ibrahim yang memiliki kekayaan berlimpah rela berkurban dengan 1000 kambing, 300 sapi, dan 100 unta sebagai bukti ketaatan dan keikhlasannya, bahkan para malaikat memujinya. Akhirnya Allah Swt mengangkat dan memberi Nabi Ibrahim gelar Kholilullah. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang nabi yang sangat ikhlas dan menunjukkan ketaatannya kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim juga mampu mengimplementasikan tauhid untuk diri dan keluarganya.

Ketiga, masa pra islam. Masyarakat jahiliyah pada masa ini juga melaksanakan ibadah kurban. Hanya saja mereka mengurbankan hewan-hewan ternaknya dan mempersembahkannya kepada berhala-berhala yang mereka anggap sebagai anak-anak Allah.

Keempat, masa Nabi Muhammad SAW. Rasulullah sering sekali berkurban, bahkan pernah berkurban sebanyak 100 unta. Rasulullah pula yang menyembelih langsung sebanyak 30 ekor, dan sisanya oleh Ali Bin Abi Thalib.

Meneladani Konsep Tauhid Keluarga Nabi Ibrahim

Tauhid adalah mengeesakan Allah Swt. dalam segala lini kehidupan. Bukan sekadar mengakui bahwa Allah SWT itu Esa, tapi juga mengamalkan dan membuktikan dengan keimanan yang kuat bahwa Allah adalah satu-satunya yang kita sembah, satu-satunya tuhan untuk memohon pertolongan.

Menurut Siti, saat ini masih banyak manusia yang tidak mampu untuk mengimplementasikan hal tersebut, sehingga menyembah tuhan-tuhan kecil dalam kehidupannya. Seharusnya kita meneladani kisah keluarga Ibrahim beserta puteranya ismail. Kesabaran dan keyakinannya kepada Allah dalam menunggu selama 86 tahun untuk mendapatkan keturunan, menunjukkan bahwa beliau berhasil menanamkan seni-seni tauhid dalam kehidupannya.

Begitupun dengan anaknya, Ismail. Sosok Ismail lahir sebagai anak yang sabar dan mampu menunjukkan nilai-nilai tauhidnya dan nilai kebaktiannya kepada orangtua. Bahkan, di usianya yang baru menginjak 4-5 tahun, Ismail kecil sudah membantu Nabi Ibrahim untuk merenovasi Ka’bah. Pada saat Ismail beranjak remaja, ayahnya mendapatkan mimpi yang sama tiga kali untuk menyembelih Ismail. Lalu Nabi Ibrahim menceritakan dan meminta pendapat anaknya, dan Ismail menjawab “ jangan khawatir ayahku, engkau akan mendapatkanku termasuk golongan orang yang sabar”. Puncak ketauhidan Nabi Ibrahim terlihat pada saat beliau ikhlas menjalankan perintah Allah SWT untuk mengorbankan Ismail.

Konsep tauhid dari Nabi Ibrahim mengajarkan umat muslim agar tidak menjadi manusia yang tunduk kepada alam semesta dan kecintaan duniawi, tetapi hanya semata-mata menunjukkan bahwa kita adalah hamba Allah SWT yang tidak memiliki apa-apa. Sehingga, kita rela memberikan segalanya hanya untuk Allah SWT sebagai wujud tauhid.

Maka ketika manusia sudah menjalankan perintah Allah SWT dengan ketakwaan dan ketaatan, Allah SWT akan mencintai hambanya. Pada titik inilah, Allah membuktikan cintanya dengan memberikan ampunan, menggugurkan dosa-dosa, dan mengabulkan semua permintaan hambanya. Seperti Nabi Ibrahim yang seluruh permintaannya terkabul hingga para malaikat menyaksikan dan bertakbir. Takbir ini akhirnya dilakukan oleh seluruh umat muslim pada hari raya Idul Adha.

Makna Tauhid Sosial

Konsep tauhid sosial adalah bagaimana kita membuktikan keyakinan kita bahwa Allah SWT itu Maha Esa dengan cara memiliki hubungan yang baik dan melakukan kebaikan untuk kehidupan sosial. Itulah mengapa perintah sholat dalam Al-Quran selalu beriringan dengan perintah berzakat. Hal ini karena Allah ingin hambanya mendapatkan ketakwaan individu dan sosial.

Begitupun dengan berkurban, kita mampu mengimplementasikan nilai-nilai tauhid kepada Allah dalam realitas sosial. Lewat berkurban, umat muslim dapat menyeimbangkan aspek ekonomi-sosial dengan membahagiakan masyarakat kurang mampu, memberi kesempatan kepada mereka untuk menikmati makanan lezat.

Berkurban juga merupakan amal sholeh, dan amal sholeh tidak pernah hilang, serta selalu bersanding dengan iman. Maka dari itu, hamba yang beriman pasti beramal sholeh dalam kehidupannya. Beginilah islam hadir sebagai agama yang mampu menyelesaikan permasalahan kemanusiaan, bahkan pedoman hubungan baik kepada manusia atau alam semesta.

Fiah Idznillah

Tag: