Ali Ibn Abi Thalib : Sosok Teladan Pemimpin yang Amanah

Jalanhijrah.com-Beberapa pekan lalu telah ramai di media sosial, celotehnya seorang tokoh budayawan muslim dengan pernyataannya. Secara spontan Cak Nun menyebut Presiden Joko Widodo seperti Firaun, Haman, dan Qarun dalam ceramahnya. Ceramah yang Cak Nun sampaikan sontak menuai pro dan kontra hingga trending di media sosial. Dalam video ceramah tersebut, Cak Nun menyebut Presiden Jokowi seperti Firaun dan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan sebagai Haman.

Dari pernyataan Cak Nun tersebut, penulis ingin mengkorelasikan dengan konteksnya amanah. Baiklah rahmania, amanah tak akan pernah lepas dalam kehidupan sehari-hari manusia. Mulai dari yang terkecil seperti perintah mengambil suatu barang sampai kepada hal besar seperti amanah mengemban sebuah jabatan. Amanah juga menjadi tugas yang Allah berikan kepada manusia sebagai hamba-Nya. Hal tersebut termaktub dalam Q.S. Al-Anfal (8) : 27.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya : Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya.

Merujuk pada ayat tersebut tentang eksistensi kewajiban menjaga amanah sangatlah tinggi. Sehingga terdapat konsekuensi yang berat jika meninggalkan amanah tersebut, salah satunya termasuk ciri orang munafik. Rasulullah Saw memberi tanda bahwa orang-orang munafik itu apabila berkata, ia berdusta. Apabila berjanji, ia mengingkari dan apabila diberi amanah, ia berkhianat.

Baca Juga  Sosok Thahjo Kumolo; Negarawan Anti Radikalisme

Definisi amanah yang tepat adalah ketika kita bisa bermanfaat bagi orang lain (Khairunnas anfauhum linnas) dengan amanah yang kita lakukan. Sehingga Allah Swt. dan Rasulullah Saw. akan menjadi saksi atas pekerjaan yang kita lakukan. Karena pekerjaan kita adalah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam. Seperti halnya Khalifah Ali Ibn Abi Thalib, cukup kuat dalam memegang amanahnya.

Bagaimana Ali Ibn Abi Thalib Dalam Memegang Amanah?

Salah seorang saudara Ali Ibn Abi Thalib yang bernama Aqil pernah datang kepadanya. Maksud kedatangan Aqil ini ingin meminta tolong kepada Ali Ibn Abi Thalib agar dapat melunasi hutangnya sebesar seratus ribu dirham. Namun Ali Ibn Abi Thalib tak mempunyai uang sebesar itu dan Aqil mendesaknya supaya memberikan uang kepadanya. Tentu uang yang Aqil maksud ialah uang simpanan publik dan kas negara yang Ali Ibn Abi Thalib sedang pegang.

Lalu Ali Ibn Abi Thalib membantahnya “Bukankah lebih baik mencuri harta satu orang Muslim ketimbang jutaan Muslim yang berarti muncuri harta seorang Muslim? Kau beranggapan bahwa mengambil milik seseorang dengan kekuatan pedang adalah suatu pencurian. Lalu, bagaimana dengan mengambil milik orang-orang yang tak berdosa? Sebenarnya pencurian yang sederhana adalah seperti yang kau usulkan itu.”

Kisah tersebut menunjukkan betapa kuatnya Ali Ibn Abi Thalib dalam memegang teguh amanahnya sebagai pemimpin umat. Hanya orang yang benar-benar beriman yang mampu menjalankan sikap amanahnya dengan teguh. Sebaliknya, jika mengabaikan amanah, mengkhianati dan merusaknya dengan seperti perilaku seorang koruptor. Sikap seperti itulah yang biasa dilakukan oleh orang munafik yang telah dicirikan diatas.

Baca Juga  Mengakhiri Ideologi Jihad Teroris Abu Bakar Ba’asyir

Pemimpin Hendak Menjalankan Amanah dengan Baik

Pada dasarnya amanah identik dengan keimanan. Seperti mula-mula kata amanah yang berarti percaya (iman), maka hanya orang-orang berimanlah yang akan bisa berlaku “amanah”.

Bila seseorang mengkhianati amanahnya pasti rasa aman itu hilang, sikap saling percaya memudar dan munculnya rasa curiga sehingga kekacauan sosial dapat terjadi. Misalnya, para pemimpin di Indonesia itu kebanyakan tidak jujur, banyak berbuat curang dan korupsi. Tentunya rakyat akan bersikap apatis dan membencinya sebagai bentuk protes karena perilaku pimpinannya yang tidak amanah tersebut. Bahkan rencana untuk menumbangkan rezim dan melakukan revolusi bisa saja terjadi seperti pada masa lampau di negara kita ini.

Jabatan memang salah satu amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sebagaimana Ali Ibn Abi Thalib telah menjalankan dengan baik amanahnya. Oleh karena itu, seseorang yang mempunyai amanah hendaknya menjaga dan melaksanakan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya dan jangan sampai mengkhianatinya.

Para pemimpin sebuah negara atau kelompok, tentunya memiliki amanah yang cukup besar. Maka dari itu, harus terlaksana dengan baik karena akan diminta pertanggungjawaban di dunia dan di akhirat oleh Allah Swt. Hal tersebut tercantum dalam hadist yang berbunyi, sebagai berikut: “Dari Abu Humaid As-Sa’idl Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwasanya Rasulullah bersabda, Demi Allah! Kalau seseorang diantara kamu mengambil barang sesuatu dari harta itu yang bukan hak-nya, niscaya dia akan datang kepada Tuhan di hari kiamat, memikul apa yang ia dikhianatinya.” (H.R Bukhari).

Baca Juga  Taliban; Bukti Nyata Bahwa Khilafah Bertentangan dengan Islam

Terakhir, bahwa amanah tentunya memiliki maksud agar kehidupan kita tetap terjaga dalam kondisi aman dan cinta damai dengan menumbuhkan rasa keadilan yang bersifat amanah tersebut. Itulah masyarakat Muslim yang berperilaku membawa keamanan dan kedamaian untuk negara dan umat.  Mudah-mudahan pemimpin negara kita mendatang, semoga mempunyai sifat amanah yang tertanam dalam qolbunya.

Mochamad Arif Yusuf

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *