Tanda pagar atau tagar #KaburAjaDulu belakangan menjadi obrolan panjang di media sosial. Fenomena “pergi ke luar negeri” ini muncul seiring dengan meningkatnya berbagai isu sosial, ekonomi, dan politik yang memicu perasaan cemas dan frustrasi di masyarakat. Dari keluhan tentang tekanan pekerjaan hingga keresahan terhadap pemerintah yang mengeluarkan kebijakan efisiensi anggaran.
Ramainya #KaburAjaDulu pun memantik reaksi berbagai kalangan, mulai dari jajaran menteri di Kabinet Merah Putih pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, hingga anggota Dewan di Senayan.
Sialnya, alih-alih mencari solusi sejumlah menteri justru mempersilakan masyarakat yang ingin pindah. Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer Gerungan misalnya meminta masyarakat yang sudah meninggalkan Indonesia untuk tidak kembali lagi.
“Mau kabur, kabur aja lah. Kalau perlu jangan balik lagi,” ujar Immanuel.
Berbeda dari wakilnya, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli justru menganggap tren #KaburAjaDulu merupakan bentuk aspirasi masyarakat yang perlu diperhatikan lagi oleh pemerintah.
Yassierli mendorong pemerintah memenuhi aspirasi publik yang timbul dengan menciptakan pekerjaan yang lebih baik.
“Ayo pemerintah create better jobs, itu yang kemudian menjadi catatan kami dan concern kami,” ujar Yassierli di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (17/2/2025).
Lantas apa yang membuat anak muda ingin hengkang dari negeri sendiri? Nana Alamsyah, warga asal Lampung memilih tinggal di Negeri Sakura. Ia bekerja di pabrik pengolah makanan (olahan ayam potong) di daerah Hokkaido, Jepang.
Keputusannya untuk bekerja di Jepang lantaran upah dan jaminan kerja lebih memadai. Sementara di Indonesia jumlah penduduk banyak namun lapangan pekerjaan menyempit.
Nana bercerita, sistem kerja di Jepang yang disiplin, diatur pemerintah wajib dijalankan perusahaan. Misalnya jam kerja 8 jam sehari jika melebih waktu tersebut dihitung lembur. Jam lembur pun sudah ditetapkan oleh pemerintah yaitu tidak boleh lebih dari 60 jam dalam sebulan.
“Di Indonesia mungkin beberapa perusahaan hampir sama soal aturan jam kerja, tetapi tidak begitu efisien dalam hal penerapannya,” ujar Nana kepada Arina.id, Kamis (21/2/2025).
Kemudian dari segi persyaratan kerja. Nana mengatakan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum kalau persyaratan kerja hanya sekedar formalitas, sementara kenyataannya banyak orang diterima melalui jalur koneksi.
“Gelar S1 atau S2 lulusan perguruan tinggi ternama tidak menjamin bahkan di dalam persyaratan calon pekerja itu banyak yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang akan dipegang,” kata Nana.
Kelebihan lain bekerja di luar negeri, persyaratan disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan, tidak mempersoalkan umur, status, tinggi badan. Justru yang dibutuhkan hanyalah keinginan kuat bekerja dan etos kerja yang tinggi.
“Di Indonesia, usia pun jadi persoalan. Contoh umur minimal di bawah 25 tahun, belum menikah, tinggi badan harus sekian,” ucapnya. Nana Alamsyah (Foto: Istimewa)
Keuntungan lain bagi buruh yang bekerja di luar negeri memiliki sertifikat keahlian kerja khusus, maka upah akan berbeda.
“Saya bekerja menggunakan sertifikat keahlian khusus yaitu skill bidang pengolahan makanan,” kata dia.
Nana mulanya seorang guru honorer di salah satu Sekolah Dasar (SD) Negeri di Lampung. Setahun lalu memutuskan pindah ke Jepang.
Nana beralasan bekerja di luar negeri lantaran kehidupan terjamin, pekerja lebih dihargai dan dijamin oleh perusahaan serta pemerintah. Selain itu, dari segi upah, gajinya bahkan melebihi penghasilan seorang PNS atau P3K di Indonesia.
“Di Indonesia jumlah pengangguran melebihi kebutuhan tenaga pekerja yang dibutuhkan. Itu jadi salah satu alasan kuat bagi saya untuk pergi,” ucap Nana.
Kreator Konten, Natasha mengaku beruntung bisa kabur dari Indonesia apalagi setelah melihat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Bahlil Lahadalia mengeluarkan pernyataan “Kalau teman-teman berpikir untuk pindah ke luar negeri, apa saya malah meragukan nasionalisme kalian.”
Meski tinggal di Jerman, Natasha tetap membuat konten edukasi untuk para orang tua dan guru di Indonesia. Ia juga mempertanyakan pernyataan Bahlil.
Apakah penerima beasiswa LPDP yang belajar ke luar negeri dianggap tidak nasionalis?
Menurutnya, nasionalisme bukan sekadar soal tempat tinggal, tetapi lebih kepada apa yang dilakukan untuk bangsa, di mana pun berada. Ia bahkan mengaku bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia sejak menuntaskan pendidikan di Jerman.
“Sebenarnya, yang perlu diragukan bukan rasa nasionalisme, tetapi sistem yang membuat kita ingin pergi,” ujarnya. P
engamat politik Airlangga Pribadi menilai bahwa gerakan #KaburAjaDulu tidak bisa serta-merta dianggap sebagai sikap anti-nasionalis atau anti-patriotik.
“Saya berani jamin orang yang bilang itu tidak pernah paham makna kabur aja dulu dalam sejarah Indonesia maupun sejarah bangsa-bangsa yang lain,” tulis Airlangga dalam akun facebook pribadinya.
Bagi Airlangga, #KaburAjaDulu dimaknai sebagai ikhtiar untuk meninggalkan tanah air untuk sementara (ingat kalimatnya: kabur aja dulu, bukan kabur aja) demi untuk mencari kehidupan yang lebih baik, pengetahuan yang lebih baik, wawasan yang lebih baik, masa depan yang lebih baik untuk negeri kita maka langkah itu dilakukan oleh para patriotik, para demokratik, para nasionalis negeri kita.
“Bahkan kalau tidak pulang sekalipun, banyak dikalangan mereka juga berhasil membantu banyak kalangan warga kita mendapatkan wawasan yang lebih kaya dan pengetahuan yang lebih mencerahkan,” tuturnya.
Ia mencontohkan Sosrokartono, kakak dari Kartini, kabur aja dulu dari tanah air melanglangbuana ke Eropa untuk kemudian pulang menjadi guru para pemimpin pergerakan: salah satunya Sukarno.
Muhammad Hatta memilih kabur aja dulu ke negeri Belanda untuk menimba pengetahuan yang tinggi, membangun jaringan anti-imperialisme lintas bangsa dan lintas benua untuk memerdekakakan Indonesia.
Demikian pula para tokoh anti-imperialis Asia-Afrika, Ho Chi Minh kabur aja dulu dari Vietnam untuk membangun jaringan aktivisme kiri sampai ke Prancis untuk kembali menjadi pemimpin Vietnam keluar dari penjajahan.
Sun Yat Sen kabur aja dulu dari Tiongkok dan melanglangbuana sampai ke Inggris, tempat dia belajar di perpustakaan London tentang sains, teknologi dan pengetahuan militer untuk membebaskan Tiongkok.
Mao Tse Tung menyuruh Zhou Enlai kabur aja dulu ke Perancis untuk menimba ilmu dan membangun jaringan pergerakan kiri. Kwame Nkrumah kabur aja dulu ke Amerika Serikat untuk berjumpa dengan tokoh-tokoh Black Movement seperti CLR James untuk kembali memimpin Ghana dan membangkitkan Pan-Africa dan banyak contoh lain.
Bahkan pada masa perlawanan rezim otoritarianisme, kata Airlangga, para aktivis Indonesia mengambil jalan menuntut ilmu ke negeri orang, menjadi dosen dan peneliti untuk tetap membangun pengetahuan anti-otoritarianisme dan demokrasi seperti Ariel Heryanto, George Junus Aditjondro.
“Konon setelah penjatuhan Suharto ada pula yang kabur aja dulu, tapi saya yakin maksudnya berbeda dari kisah-kisah kabur aja dulu yang saya sebutkan di atas,” katanya.
“Jadi sebelum paham sejarah dan maknanya, jangan asal njeplak dan ngomel terkait dengan hastag kabur aja dulu,” kata Airlangga.





