Peran perguruan tinggi sebagai wadah pembinaan generasi muda berwawasan damai sangat vital di tengah merebaknya berbagai interpretasi keliru tentang Islam. Salah satu upaya mengedepankan pemahaman Islam yang damai dilaksanakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam acara “Halaqah Perdamaian: Belajar dari Korban dan Mantan Pelaku Terorisme,” yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat.
Acara tersebut menghadirkan 130 mahasiswa dari delapan perguruan tinggi di Bandung, dengan tujuan memperluas pemahaman mereka tentang Islam sebagai agama perdamaian dan kasih sayang.
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Rosihun Anwar, menekankan pentingnya pemahaman tentang Islam damai. Menurutnya, sebagai ajaran yang berasal dari kata “salam” yang bermakna damai, Islam pada hakikatnya mengajarkan perdamaian.
Prof. Rosihun menambahkan bahwa seiring munculnya berbagai kelompok yang mengusung istilah “Islam Damai,” ada pula pertanyaan apakah ada Islam yang tidak damai. Ia pun menegaskan, “Islam damai juga butuh penjelasan, agar tidak muncul salah paham seakan-akan ada Islam yang berbeda dari kedamaian.”
Dalam perspektif Prof. Rosihun, Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, sebuah rahmat untuk seluruh alam semesta. Penekanan ini menunjukkan bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, tanpa memandang agama atau kelompok. Dalil ini menyiratkan bahwa Islam bukanlah ajaran eksklusif untuk Muslim saja, tetapi memberikan manfaat dan kedamaian bagi siapa saja, termasuk non-Muslim.
Lebih lanjut, Prof. Rosihun mengangkat ayat yang berbicara tentang Rasulullah sebagai uswatun hasanah atau teladan yang baik. Sebagai contoh, Rasulullah melarang membuang air kecil di air tenang, yang sebenarnya mengandung pesan damai dan kepedulian terhadap kehidupan di sekitarnya.
Larangan sederhana ini menunjukkan bahwa ajaran Islam penuh dengan prinsip-prinsip yang mengutamakan kedamaian dan keberlangsungan hidup, bahkan untuk makhluk lain.
Deputi Direktur AIDA, Laode Arham, juga memberikan pandangan tentang pentingnya mahasiswa untuk menjadi pelopor perubahan moral bangsa tanpa kekerasan. Dengan mengutip slogan “student today, leader tomorrow,” ia berharap mahasiswa dapat menyuarakan aspirasinya melalui pendekatan yang elegan dan akademis.
“Jauh lebih elegan mahasiswa menggunakan cara-cara akademis yang tentu saja lebih memihak perdamaian,” ujarnya. Ini menjadi pesan penting di era yang sering kali menyaksikan pemaksaan pendapat melalui aksi-aksi yang berujung pada konflik.
Dengan semakin berkembangnya pemahaman tentang Islam damai di kalangan akademisi dan mahasiswa, harapannya adalah lahirnya generasi yang bukan hanya memahami Islam secara mendalam, tetapi juga mampu menampilkan wajah Islam yang sebenarnya: agama yang mengedepankan kasih sayang, toleransi, dan perdamaian.
Kehadiran mahasiswa yang memiliki pemahaman ini akan memperkuat fondasi kemaslahatan bangsa dan mempersembahkan Islam yang damai sebagai solusi bagi berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat.






